Puan Maharani Desak Dunia Bertanggung Jawab atas Serangan UNIFIL

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Apr 2026, 09:25
thumbnail-author
Chika Prisila Ardala
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Tangkapan layar Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan pidatonya dalam Rapat Paripurna DPR RI Pembukaan Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026 di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/3/2026). (ANTARA/YouTube/TVR Parlemen/Fath Putra Mulya) Tangkapan layar Ketua DPR RI Puan Maharani menyampaikan pidatonya dalam Rapat Paripurna DPR RI Pembukaan Masa Persidangan IV Tahun Sidang 2025–2026 di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (10/3/2026). (ANTARA/YouTube/TVR Parlemen/Fath Putra Mulya) (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Ketua DPR RI, Puan Maharani, mendorong adanya tanggung jawab dari komunitas internasional atas serangan terhadap Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) yang mengakibatkan gugurnya tiga prajurit Indonesia.

Dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026, Puan menyatakan dukungannya terhadap langkah pemerintah yang meminta investigasi menyeluruh oleh otoritas terkait atas insiden tersebut.

"Negara berhak meminta pertanggungjawaban komunitas internasional sebagai bentuk perlindungan bagi setiap tumpah darah Indonesia," ucap dia.

Baca Juga: Indonesia dan Lebanon Kecam Serangan terhadap Pasukan UNIFIL, Total 3 Prajurit TNI Gugur

Ia juga menyampaikan rasa duka cita mendalam atas gugurnya prajurit yang tengah menjalankan misi kemanusiaan.

"Atas nama DPR RI maupun pribadi, saya sampaikan dukacita mendalam atas gugurnya tiga anak bangsa yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan di Lebanon," tuturnya.

Menurut Puan, pengorbanan prajurit TNI dalam misi perdamaian menunjukkan bahwa peran Indonesia di tingkat global tidak hanya melalui diplomasi, tetapi juga melalui kehadiran langsung di wilayah konflik.

"Kesadaran bahwa perdamaian dunia bukan agenda yang jauh dari kepentingan Indonesia, melainkan bagian dari tanggung jawab yang selalu memiliki konsekuensi nyata," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa keterlibatan Indonesia dalam operasi perdamaian dunia tidak sepenuhnya berada dalam kondisi aman, meskipun berada di bawah mandat internasional.

"Ketika prajurit Indonesia gugur dalam misi perdamaian, itu menunjukkan bahwa komitmen Indonesia terhadap perdamaian internasional selalu dibayar dengan tanggung jawab yang tidak ringan," imbuh Puan.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara komitmen global Indonesia dan perlindungan maksimal terhadap personel yang ditugaskan di daerah konflik.

Puan juga menilai bahwa peristiwa tersebut menjadi pengingat akan risiko nyata dalam dinamika konflik global yang terus berkembang.

"Perang harus segera dihentikan. Sudah berapa banyak korban berjatuhan demi kekuasaan pihak-pihak tertentu. Perserikatan Bangsa-Bangsa harus berani bertindak tegas," katanya.

Diketahui, prajurit TNI, Farizal Rhomadhon, gugur akibat tembakan artileri di sekitar posisi kontingen Indonesia di wilayah Adchit Al Qusayr, Lebanon selatan, pada Minggu, 29 Maret 2026.

Tiga prajurit lainnya, yakni Rico Pramudia, Bayu Prakoso, dan Arif Kurniawan, mengalami luka-luka.

Baca Juga: PBB: Serangan Terhadap UNIFIL Langgar Resolusi DK Nomor 1701

Sehari kemudian, pada Senin, 30 Maret 2026, Perserikatan Bangsa-Bangsa melaporkan dua prajurit Indonesia lainnya gugur dalam serangan terhadap konvoi logistik UNIFIL di dekat Bani Hayyan, Lebanon selatan.

Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI, Aulia Dwi Nasrullah, menyebutkan dua prajurit yang gugur tersebut adalah Zulmi Aditya Iskandar dan Muhammad Nur Ichwan.

Sementara dua prajurit lainnya yang terluka adalah Sulthan Wirdean Maulana dan Deni Rianto.

(Sumber: Antara)

x|close