Tiga Kapal China Tembus Selat Hormuz di Tengah Ketegangan, Serukan Perdamaian Kawasan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Apr 2026, 06:30
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, China, Selasa (31/3/2026). ANTARA/Desca Lidya Natalia/aa. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, China, Selasa (31/3/2026). ANTARA/Desca Lidya Natalia/aa. (Antara)

Ntvnews.id, Beijing - Pemerintah China mengonfirmasi bahwa tiga kapal berbendera China berhasil melintasi Selat Hormuz meski kawasan tersebut tengah mengalami blokade akibat meningkatnya ketegangan regional.

"Setelah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, tiga kapal China baru-baru ini melintasi Selat Hormuz," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing, Selasa.

Dua kapal kontainer milik perusahaan pelayaran raksasa China, Cosco-yakni CSCL Indian Ocean dan CSCL Arctic Ocean tercatat melintasi selat tersebut pada Senin, 30 Maret 2026. Berdasarkan data platform pelacakan kapal MarineTraffic, CSCL Indian Ocean melintas sekitar pukul 09.14 GMT, disusul CSCL Arctic Ocean sekitar 27 menit kemudian.

Kedua kapal tersebut melintasi wilayah dekat Pulau Larak yang berada di bawah kendali Iran, sebelum melanjutkan pelayaran menuju Port Klang di Malaysia.

"Kami menyampaikan apresiasi atas bantuan dari pihak-pihak terkait. Selat Hormuz dan perairan di sekitarnya merupakan jalur penting untuk perdagangan barang dan energi internasional," tambah Mao Ning.

Lebih lanjut, Mao Ning menyampaikan bahwa China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan konflik demi memulihkan stabilitas dan perdamaian di kawasan Teluk.

Di sisi lain, Cosco menyatakan tetap membuka pemesanan pengiriman dari Asia ke sejumlah negara Teluk, namun tanpa melalui jalur Selat Hormuz. Perusahaan yang berbasis di Shanghai itu sebelumnya telah menghentikan layanan melalui selat tersebut sejak awal Maret akibat situasi konflik.

Sementara itu, dari pihak Iran, Komisi Keamanan Nasional parlemen menyetujui rencana penerapan tarif transit bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz dengan menggunakan mata uang nasional Iran.

Baca Juga: Iran Siapkan Rezim Navigasi Baru di Selat Hormuz, Terapkan Izin dan Tarif Transit

Menurut laporan kantor berita Fars, anggota komisi Mojtaba Zarei menyebut bahwa rancangan undang-undang tersebut juga memuat pembatasan bagi kapal yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel untuk melewati jalur tersebut.

Selain itu, rancangan tersebut juga mencakup larangan akses bagi negara-negara yang ikut serta dalam sanksi sepihak terhadap Iran.

Meski telah disetujui di tingkat komisi, rancangan aturan tersebut masih harus melalui persetujuan pleno parlemen, kemudian ditinjau oleh Dewan Garda, serta ditandatangani oleh presiden sebelum resmi menjadi undang-undang.

Di tengah perkembangan ini, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menegaskan bahwa tuntutan Iran agar Washington mengakui kedaulatan Teheran atas Selat Hormuz tidak dapat diterima dalam perundingan yang sedang berlangsung.

Ketegangan di kawasan meningkat tajam sejak serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.

Baca Juga: Parlemen Iran Setujui Rencana Tarif Kapal di Selat Hormuz, Ketegangan Kawasan Meningkat

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menyasar Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

Eskalasi konflik ini memicu blokade de facto di Selat Hormuz jalur vital distribusi minyak dan gas alam cair dunia. Sejak awal Maret, sekitar 20 juta barel minyak per hari atau sekitar 20 persen pasokan global melewati selat ini, sehingga gangguan yang terjadi berdampak signifikan terhadap pasar energi global.

Akibat situasi tersebut, harga minyak dunia turut mengalami kenaikan. Minyak berjangka di New York Mercantile Exchange (Nymex) tercatat naik lebih dari 3 persen dan diperdagangkan pada 106,05 dolar AS per barel pada pukul 23.37 GMT (06.37 WIB).

Sementara itu, minyak mentah Brent juga mengalami kenaikan sebesar 2,57 persen menjadi 115,35 dolar AS per barel pada pukul 23.06 GMT (06.06 WIB).

(Sumber: Antara)

x|close