Jepang Kerahkan Rudal Jarak Jauh di Kyushu, Ketegangan dengan China Kian Memanas

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 1 Apr 2026, 04:55
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera China dan Jepang. ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/as. Ilustrasi - Bendera China dan Jepang. ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/as. (Antara)

Ntvnews.id, Tokyo - Pemerintah Jepang mengerahkan rudal jarak jauh di wilayah barat daya yang berdekatan dengan China. Langkah ini disampaikan oleh Menteri Pertahanan Jepang, Shinjiro Koizumi, pada Selasa, 31 Maret 2026, di tengah memburuknya hubungan kedua negara dalam beberapa tahun terakhir.

Dilansir dari Reuters, Rabu, 1 April 2026, Sistem rudal tersebut ditempatkan di Kumamoto, wilayah selatan Pulau Kyushu, sebagai bagian dari upaya Tokyo memperkuat kemampuan militernya di tengah meningkatnya aktivitas angkatan laut China di Laut China Timur.

"Kemampuan pertahanan jarak jauh memungkinkan kita untuk melawan ancaman pasukan musuh yang berupaya menyerang negara kita... sambil memastikan keselamatan personel kita," kata Koizumi.

"Ini adalah inisiatif yang sangat penting untuk memperkuat kemampuan pencegahan dan respons Jepang," tambahnya.

Rudal berpemandu darat-ke-kapal yang dikerahkan memiliki jangkauan sekitar 1.000 kilometer, sehingga mampu menjangkau sebagian wilayah daratan China, termasuk kota Shanghai yang berjarak sekitar 900 kilometer dari Kumamoto.

Baca Juga: Menhut: Investasi Karbon dari Jepang Terbuka Luas di Indonesia

Selain itu, Koizumi mengungkapkan bahwa “proyektil luncur berkecepatan tinggi” juga telah ditempatkan di Shizuoka, wilayah pesisir yang menghadap Samudra Pasifik dan berlokasi lebih dekat ke ibu kota, Tokyo. Sistem ini dirancang untuk melindungi pulau-pulau terpencil Jepang dari potensi serangan musuh.

Selama ini, Jepang dikenal menganut kebijakan militer defensif yang ketat. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, negara tersebut mulai meningkatkan kapasitas pertahanannya seiring meningkatnya aktivitas militer negara-negara di kawasan, termasuk China, Rusia, dan Korea Utara.

Pada 2022, Jepang bahkan telah menyetujui rencana untuk mengembangkan kemampuan serangan balik guna menghadapi ancaman yang semakin kompleks.

Bendera Jepang <b>(Antara)</b> Bendera Jepang (Antara)

"Jika kita terus bergantung sepenuhnya pada pertahanan rudal balistik... akan semakin sulit untuk sepenuhnya mengatasi ancaman rudal dengan teknologi canggih," demikian bunyi buku putih pertahanan Jepang tahun lalu.

Sementara itu, China terus memperkuat militernya dan terlibat dalam berbagai sengketa wilayah, termasuk dengan Jepang terkait Kepulauan Senkaku, yang oleh China disebut Diaoyu.

Hubungan Tokyo dan Beijing semakin tegang dalam beberapa bulan terakhir, terutama setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi memberi sinyal kemungkinan intervensi militer jika terjadi serangan terhadap Taiwan.

China sendiri menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan menggunakan kekuatan militer untuk merebutnya.

x|close