Parlemen Iran Setujui Rencana Tarif Kapal di Selat Hormuz, Ketegangan Kawasan Meningkat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Mar 2026, 17:00
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Arsip foto - Kapal tanker minyak Inggris Arsip foto - Kapal tanker minyak Inggris (Antara)

Ntvnews.id, Istanbul - Sebuah komite penting di parlemen Iran menyetujui rencana penerapan tarif tol bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz, sebagaimana dilaporkan media setempat pada Selasa. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pengaturan jalur perairan strategis tersebut.

Persetujuan tersebut diberikan oleh Komisi Keamanan Nasional yang turut merancang sejumlah aturan baru, termasuk kewajiban pembayaran biaya transit menggunakan mata uang nasional Iran. Aturan ini ditujukan untuk memperkuat kontrol negara terhadap aktivitas pelayaran di kawasan tersebut.

Baca Juga: KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp156 Juta ke Dirjen Haji Kemenag

Menurut laporan kantor berita Fars News Agency, anggota komisi Mojtaba Zarei menyampaikan bahwa rancangan undang-undang itu juga memuat pembatasan bagi kapal yang memiliki keterkaitan dengan Amerika Serikat dan Israel untuk melintas di selat tersebut.

Selain itu, ketentuan lain dalam rancangan tersebut mencakup larangan akses bagi negara-negara yang terlibat dalam penerapan sanksi sepihak terhadap Iran. Kebijakan ini dipandang sebagai respons terhadap tekanan internasional yang selama ini diterima Teheran.

Meski telah disetujui di tingkat komite, rancangan tersebut masih harus melalui proses pemungutan suara di parlemen secara penuh, sebelum ditinjau oleh Dewan Garda dan disahkan oleh presiden agar dapat berlaku sebagai undang-undang.

Baca Juga: Cek Fakta: Klaim Ukraina Kerahkan 120 Jet Tempur untuk Serang Iran Tidak Berdasar

Di sisi lain, ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat setelah serangan gabungan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan menggunakan drone dan rudal yang menargetkan sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta berdampak pada stabilitas pasar global dan sektor penerbangan.

(Sumber: Antara)

x|close