Ntvnews.id, Washington D.C - Gelombang demonstrasi bertajuk “No Kings” melanda berbagai kota di Amerika Serikat, dengan jutaan warga turun ke jalan untuk menyuarakan penolakan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump.
Para peserta aksi menyampaikan beragam tuntutan, mulai dari kebijakan imigrasi, ketegangan dengan Iran, hingga meningkatnya biaya hidup yang dirasakan masyarakat.
Aksi protes ini berlangsung secara luas, mencakup kota-kota besar hingga wilayah pinggiran. Meski alasan yang disuarakan berbeda-beda, sebagian besar berakar pada kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah saat ini.
Seorang demonstran di Minneapolis menyatakan bahwa keikutsertaannya merupakan bagian dari tanggung jawab sebagai warga negara.
"Demokrasi sedang terancam," ujarnya, melansir CNN, Senin, 30 Maret 2026.
Baca Juga: Jutaan Warga Amerika Serikat Turun ke Jalan Tolak Gaya Otoriter Donald Trump
Sentimen serupa juga diungkapkan oleh Tom Arndorfer, yang membawa poster bertuliskan “Elvis adalah satu-satunya raja”.
"Sangat menyedihkan apa yang terjadi di negara ini dan di dunia. Saya hanya ingin suara saya didengar bersama orang lain," katanya.
Di Chicago, seorang veteran bernama Chris Holy mengaku baru pertama kali mengikuti aksi demonstrasi karena menilai kondisi saat ini sudah tidak bisa diabaikan.
"Saya melihat ketidakadilan yang terjadi. Menurut saya, apa yang dialami masyarakat saat ini tidak benar, dan saya ingin menyampaikan ketidakpuasan saya," ucapnya.
Aksi Demo Terbesar di Amerika (Instagram)
Aksi serupa juga digelar di New York City. Seorang peserta bernama Yohanna menyebut alasan keikutsertaannya terlalu banyak untuk dituangkan dalam satu poster.
"Kalau kita ingin demokrasi, kita harus ikut berpartisipasi dan menjaganya," ujarnya.
Sementara itu di Portland, perwakilan serikat guru, Fedrick Ingram, mengajak masyarakat tetap optimistis meski menghadapi situasi yang dinilai penuh tantangan.
"Kita pernah mengalami masa sulit sebelumnya, dengan kebijakan dan pemimpin yang tidak ideal. Tapi kita selalu bisa bangkit dengan bersatu," katanya.
Di Los Angeles, demonstrasi berlangsung dengan suasana lebih santai namun tetap sarat pesan politik. Musik salsa mengiringi barisan massa yang membawa poster anti-perang dan mengenakan berbagai kostum unik.
Salah satu peserta menegaskan bahwa aksi tersebut dilakukan secara damai.
"Ini cara kami menyampaikan pesan tanpa kekerasan, dengan cara yang ringan tapi tetap bermakna," ujarnya.
Baca Juga: Spanyol Tarik Duta Besar di Tel Aviv, Perang Israel-Amerika dan Iran Kian Panas
Namun demikian, tidak semua aksi berjalan kondusif. Di pusat kota Los Angeles, aparat keamanan dilaporkan menembakkan gas air mata setelah sebagian demonstran melemparkan benda ke arah gedung federal.
Pihak kepolisian menyatakan sejumlah orang diamankan karena tidak membubarkan diri meskipun telah diberikan peringatan.
Secara keseluruhan, aksi “No Kings” mencerminkan meningkatnya partisipasi publik dalam menyampaikan aspirasi politik. Seorang peserta di Sacramento berharap aksi ini dapat memengaruhi pilihan politik masyarakat di masa mendatang.
"Semoga lebih banyak orang mulai memikirkan siapa yang mereka pilih," ujarnya.
Pendukung Presiden Venezuela Nicolas Maduro berunjuk rasa di luar gedung pengadilan di New York, Amerika Serikat, pada 26 Maret 2026. (ANTARA/Xinhua/Zhang Fengguo) (Antara)