Ntvnews.id, Jakarta - Gelombang demonstrasi besar mengguncang Amerika Serikat pada akhir pekan lalu, ketika jutaan warga turun ke jalan dalam aksi bertajuk “No Kings” yang ditujukan kepada Presiden Donald Trump. Penyelenggara mengklaim partisipasi mencapai angka luar biasa, setidaknya 8 juta orang, menjadikannya salah satu aksi protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Melansir AFP, aksi serentak ini digelar pada Sabtu (28/3) waktu setempat dan menyebar luas di seluruh negeri. Demonstrasi tercatat berlangsung di lebih dari 3.300 titik yang mencakup seluruh 50 negara bagian, dari kota-kota besar hingga wilayah terpencil. Angka tersebut bahkan disebut melampaui aksi serupa sebelumnya pada Oktober 2025, baik dari sisi jumlah peserta maupun lokasi.
Protes ini muncul sebagai luapan ketidakpuasan publik terhadap arah kebijakan dan gaya kepemimpinan Trump. Massa membawa berbagai atribut seperti poster, kostum, hingga simbol-simbol satir, sambil menyuarakan kritik terhadap isu-isu seperti imigrasi, perang, dan kondisi politik domestik.
Menariknya, aksi tidak hanya terkonsentrasi di wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis oposisi. Hampir separuh demonstrasi justru terjadi di negara bagian yang identik dengan Partai Republik, seperti Texas, Florida, dan Ohio. Bahkan di wilayah konservatif seperti Idaho, Wyoming, dan Utah, aksi tetap berlangsung dalam jumlah signifikan.
Di Texas, ribuan demonstran berkumpul di sekitar Balai Kota Dallas, mendengarkan pidato-pidato yang mengecam kebijakan pemerintah. Sementara itu di Georgia, massa memadati jalur menuju Jekyll Island dengan membawa bendera nasional dan berbagai pesan protes.
Baca Juga: Daftar Negara yang Kapal Tankernya Diizinkan Iran Lewati Selat Hormuz, Indonesia?
Di Florida, situasi relatif terkendali meski sempat terjadi ketegangan antara peserta aksi dan pendukung Trump. Secara umum, demonstrasi berlangsung damai dengan partisipasi luas dari berbagai lapisan masyarakat.
Di pesisir barat, keramaian tak kalah besar. Los Angeles dipenuhi demonstran yang memadati pusat kota, bahkan menghadirkan balon raksasa bergambar Trump sebagai bentuk kritik simbolik. Sementara di San Francisco, massa berkumpul di ruang publik dengan membawa slogan “No Kings”.
New York juga menjadi salah satu titik utama. Ribuan orang berbaris di Manhattan, menyuarakan penolakan terhadap kebijakan pemerintah sambil membawa poster bertema anti-Trump. Aksi ini turut dihadiri sejumlah figur publik dan influencer yang ikut menyuarakan aspirasi.
Di Minnesota, sejumlah tokoh politik ikut turun langsung ke lapangan. Gubernur Tim Walz dan Senator Bernie Sanders tampak hadir, menyampaikan kritik tajam terutama terkait isu imigrasi dan dinamika politik nasional.
Partisipasi juga datang dari kelompok masyarakat sipil, termasuk serikat pekerja. Perwakilan dari American Federation of Teachers menegaskan bahwa aksi ini menjadi wadah penting untuk menyuarakan keresahan publik.
"Amerika pernah melalui masa sulit sebelumnya. Kita pernah punya kebijakan buruk dan politisi yang buruk, tetapi kita selalu bisa bangkit dengan tetap bersatu," ujarnya.
Meski pemerintah AS belum merilis angka resmi terkait jumlah peserta, skala mobilisasi ini menunjukkan besarnya tekanan publik yang dihadapi pemerintahan saat ini. Dengan jutaan orang turun ke jalan secara serentak, aksi “No Kings” bukan sekadar protes biasa, melainkan sinyal kuat dari masyarakat yang menuntut perubahan.
Aksi Demo Terbesar di Amerika (Instagram)