Ntvnews.id, Jakarta - Komite Olimpiade Internasional atau International Olympic Committee (IOC) resmi memasuki babak baru dalam kebijakan olahraga global. Presidennya, Kirsty Coventry, mengumumkan langkah besar yang secara efektif melarang perempuan transgender berkompetisi di nomor putri Olimpiade mulai Olimpiade Los Angeles 2028.
Kebijakan ini akan diberlakukan melalui satu sistem tes kelayakan gender universal yang hanya dilakukan sekali seumur hidup sebelum seorang atlet tampil di Olimpiade. Dengan pendekatan ini, IOC berupaya memastikan bahwa nomor putri hanya diikuti oleh perempuan biologis.
Meskipun isu ini tidak terlalu menonjol dalam Olimpiade sebelumnya, tekanan dari berbagai kelompok aktivis dalam beberapa tahun terakhir dinilai turut mendorong perubahan kebijakan tersebut.
Tes yang dimaksud dilakukan melalui usapan pipi dan pengambilan sampel darah. Tujuannya adalah mendeteksi keberadaan gen SRY, bagian dari kromosom Y yang berperan dalam memicu karakteristik biologis laki-laki.
Baca Juga: Menhut Targetkan Pagar Way Kambas Rampung dalam 4 Bulan
Sebelumnya, tidak ada standar tunggal, setiap federasi olahraga internasional memiliki aturan dan metode pengujian masing-masing. Bahkan, beberapa negara memilih tidak melakukan tes sama sekali.
Akibatnya, terjadi ketidakkonsistenan, seorang atlet bisa dinyatakan memenuhi syarat di satu kompetisi, tetapi tidak di kompetisi lain. Kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar pasca-pengumuman kebijakan baru: seberapa akurat tes tersebut dalam menentukan kelayakan gender?
Sorotan terhadap isu ini sebenarnya sudah muncul dalam beberapa edisi Olimpiade sebelumnya. Pada Olimpiade Tokyo 2020, Laurel Hubbard menjadi perempuan transgender pertama dan sejauh ini satu-satunya yang tampil di Olimpiade, mewakili Selandia Baru di cabang angkat besi putri.
Sementara itu, Olimpiade Paris 2024 tidak menghadirkan atlet transgender di nomor putri, namun tetap diwarnai kontroversi global. Salah satu pusat perhatian adalah Imane Khelif. Petinju asal Aljazair tersebut mengalahkan Angela Carini di kelas welter putri, yang kemudian memicu rumor palsu bahwa ia adalah perempuan transgender.
Meski akhirnya meraih medali emas, pencapaian Khelif dibayangi gelombang komentar penuh kebencian. Ia, seperti banyak perempuan lainnya, secara alami memiliki kadar testosteron lebih tinggi meskipun terlahir sebagai perempuan. Kondisi ini membuatnya berpotensi tidak lolos dalam tes kelayakan gender, kecuali mampu menurunkan kadar hormon tersebut.
Baca Juga: TNWK Jadi Proyek Percontohan Pembiayaan Iklim Inovatif
Kontroversi serupa juga menimpa atlet lain, seperti Barbra Banda dan Temwa Chawinga. Keduanya menjadi sasaran tuduhan dan spekulasi terkait identitas gender, dengan sebagian pihak mempertanyakan kelayakan mereka tampil di cabang olahraga putri.
Fenomena ini menunjukkan adanya “area abu-abu” yang luas dalam definisi kelayakan gender di olahraga. Tuduhan semacam itu kerap menyasar perempuan kulit berwarna yang dianggap tidak sesuai dengan standar kecantikan Eurocentris, dengan dalih melindungi keadilan dalam olahraga perempuan. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan lanjutan: apakah kebijakan baru IOC benar-benar akan melindungi para atlet, atau justru memperbesar risiko diskriminasi?
Tahun 2028 dipandang sebagai titik awal era baru Olimpiade. Dampak kebijakan ini terhadap masa depan kompetisi masih belum dapat dipastikan. Namun satu hal jelas, dengan adanya kemungkinan pengecualian seumur hidup bagi sebagian atlet, keputusan ini akan membawa konsekuensi besar yang hanya bisa dinilai seiring berjalannya waktu.
Olimpiade Paris 2024 bakal berlangsung mulai 26 Juli 2024 (Situs resmi Olimpiade Paris 2024)