IEA: Puluhan Infrastruktur Energi Timur Tengah Rusak Parah, Rantai Pasokan Global Terancam

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Mar 2026, 00:05
thumbnail-author
Winny
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Ilustrasic - Kapal tanker Suezmax Shenlong berbendera Liberia, yang membawa minyak mentah, termasuk di antara kapal pertama yang mencapai India setelah krisis Timur Tengah, terlihat di Pelabuhan Mumbai di Mumbai, India, pada 12 Maret 2026, setelah berlayar melalui Selat Hormuz dari pelabuhan Ras Tanura di Arab Saudi. ANTARA/İmtiyaz Shaikh/Anadolu/pri. Ilustrasic - Kapal tanker Suezmax Shenlong berbendera Liberia, yang membawa minyak mentah, termasuk di antara kapal pertama yang mencapai India setelah krisis Timur Tengah, terlihat di Pelabuhan Mumbai di Mumbai, India, pada 12 Maret 2026, setelah berlayar melalui Selat Hormuz dari pelabuhan Ras Tanura di Arab Saudi. ANTARA/İmtiyaz Shaikh/Anadolu/pri. (Antara)

Ntvnews.id, Ankara - Lebih dari 40 fasilitas energi yang tersebar di sembilan negara kawasan Timur Tengah dilaporkan mengalami kerusakan berat hingga sangat berat akibat konflik yang masih berlangsung. Laporan tersebut disampaikan oleh International Energy Agency (IEA) dan dikutip sejumlah media pada Minggu.

Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menyatakan bahwa kerusakan tersebut berpotensi memperpanjang gangguan terhadap rantai pasokan energi global, bahkan setelah konflik mereda.

“Akan membutuhkan waktu bagi ladang minyak, kilang, dan pipa untuk kembali beroperasi,” katanya.

Menurut Birol, konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga minggu itu berdampak luas pada sistem distribusi energi dunia, termasuk hampir menghentikan arus pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak global.

Baca Juga: Sekjen PBB Kembali Desak Hentikan Perang di Timur Tengah

Ia menilai dampak krisis saat ini setara dengan gabungan dua krisis energi besar sebelumnya, yakni krisis minyak pada 1970-an dan krisis gas alam sekitar 2022.

“Tidak hanya minyak dan gas, tetapi beberapa arteri vital ekonomi global perdagangan mereka semua terganggu,” tambahnya.

Birol juga menyoroti bahwa kawasan Asia menjadi pihak yang paling terdampak karena tingginya ketergantungan terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.

“Setiap negara pertama-tama mempertimbangkan kepentingan domestiknya sendiri, tetapi… pembatasan ekspor yang serius tanpa alasan yang jelas mungkin bukan sesuatu yang mendapat nilai plus,” katanya.

Sebagai langkah mitigasi, IEA berencana melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan darurat guna meredam gejolak pasokan. Ia menambahkan bahwa pelepasan tambahan masih dimungkinkan apabila gangguan terus berlanjut.

Namun demikian, Birol menegaskan bahwa pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi faktor kunci untuk memulihkan stabilitas distribusi energi global.

Baca Juga: Jepang Kembali Gulirkan Subsidi BBM untuk Tekan Lonjakan Harga di Tengah Konflik Timur Tengah

Gangguan pelayaran di kawasan tersebut mulai terjadi sejak awal Maret setelah Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Selat Hormuz sendiri biasanya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari, sehingga gangguan tersebut berdampak langsung pada lonjakan biaya pengiriman dan harga minyak dunia.

Serangan yang dimulai pada 28 Februari itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal yang menyasar Israel, Yordania, Irak, serta sejumlah negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer Amerika Serikat.

(Sumber: Antara)

x|close