Takut BBm Naik, Petani Australia Desak Warga Beralih ke Transportasi Umum

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Mar 2026, 08:05
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Pulau dan bendera Australia. (ANTARA/pixabay/pri.) Ilustrasi - Pulau dan bendera Australia. (ANTARA/pixabay/pri.) (Antara)

Ntvnews.id, Canbera - Serikat petani di Australia mengimbau masyarakat untuk mulai menggunakan transportasi umum seiring kekhawatiran lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik di Timur Tengah.

Presiden Federasi Petani Victoria, Brett Hosking, menyatakan kondisi petani di negara bagian Victoria kini berada dalam situasi genting menyusul memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Ia memperingatkan bahwa jika masyarakat tetap bergantung pada kendaraan pribadi, maka cadangan BBM domestik bisa menipis dan berdampak langsung pada kemampuan petani untuk memproduksi serta mendistribusikan hasil pertanian.

"Bagi sebagian besar warga Victoria, kekurangan bahan bakar berarti agenda mesti dibatalkan, antrean (BBM) mengular, dan anggaran mingguan jadi lebih ketat. Bagi para petani, waktu adalah segalanya," kata Hosking dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Sky News, Rabu, 18 Maret 2026.

"Pertanian bergantung pada periode cuaca yang sempit dan jika tangki kosong pada saat yang salah, Anda tidak bisa hanya menunggu harga stabil, Anda akan kehilangan kesempatan, dan terkadang kehilangan seluruh hasil panen," lanjutnya.

Baca Juga: Sri Lanka Berlakukan Sistem Penjatahan BBM Berbasis QR di Tengah Krisis Pasokan

Harga minyak global terus meroket dalam beberapa waktu terakhir akibat konflik tersebut. Dalam dua pekan terakhir, harga minyak bahkan sempat melampaui US$100 per barel, tertinggi sejak 2022.

Kondisi ini memicu kekhawatiran di kalangan petani Australia terhadap dampak jangka panjang di dalam negeri, terlebih konflik belum menunjukkan tanda akan mereda, bahkan disebut bisa berlanjut hingga April.

Hosking menegaskan pentingnya langkah antisipasi segera untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap masyarakat.

Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/py. <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Kapal tanker melintas di Selat Hormuz, Iran. ANTARA/Anadolu/py. (Antara)

"Memastikan para petani tetap dapat beraktivitas adalah kepentingan semua pihak. Para petani Victoria menanam hampir seperempat dari makanan Australia dan memberi makan jutaan orang lainnya di seluruh dunia," ujarnya.

"Jika satu dari lima pengguna mobil di Victoria beralih ke transportasi umum, bahan bakar yang dihemat akan cukup untuk menanam sekitar setengah dari dari tanaman gandum, jelai, kanola, dan lentil di Australia," katanya.

Federasi Petani Victoria pun meminta pemerintah setempat untuk menggratiskan layanan transportasi umum hingga pasokan BBM kembali stabil. Mereka juga mendorong penambahan armada guna mengantisipasi lonjakan jumlah penumpang.

Baca Juga: Sadis! Aksi Perampokan SPBU di Bekasi hingga 5 Pegawai Disekap untuk Gasak Uang Rp130 Juta

Sementara itu, Wakil Perdana Menteri Australia, Richard Marles, menyatakan bahwa pasokan BBM nasional saat ini masih dalam kondisi aman meskipun konflik di Timur Tengah terus berlangsung.

"Saat ini, volume BBM yang masuk ke negara ini sama seperti sebelum konflik dimulai," ucapnya.

"Namun kami menyadari bahwa jika konflik ini berlanjut dalam jangka waktu tertentu, hal itu jelas akan berdampak pada pasokan bahan bakar Australia. Dengan mempertimbangkan hal itu, kami telah melepaskan 20 persen cadangan domestik dan kami telah menargetkan wilayah-wilayah tertentu sebagai tempat yang paling membutuhkan," ujar Marles.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian panik demi menjaga stabilitas pasokan.

"Kami melakukan apa yang kami bisa untuk mengatasi situasi ini, dan yang kami minta dari warga Australia saat ini adalah untuk menjalankan aktivitas mereka seperti biasa," pungkasnya.

x|close