Ntvnews.id, Gaza - Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan bahwa Israel tidak akan mundur satu milimeter pun dari Garis Kuning di Gaza.
Katz menekankan bahwa pasukan Israel tidak akan menarik diri sebelum Hamas benar-benar dilucuti senjatanya, meskipun fase kedua dari rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri konflik telah dimulai.
“Garis Kuning” merujuk pada batas posisi tempat pasukan Israel mundur di wilayah timur Gaza selama fase pertama rencana Trump untuk mengakhiri perang. Dalam fase kedua, yang mulai berjalan sejak bulan lalu, Israel seharusnya secara bertahap menarik pasukan dari garis tersebut.
“Kami tidak akan pernah membiarkan Hamas tetap ada, baik dengan senjata maupun terowongan. Slogannya sederhana: sampai terowongan terakhir,” kata Katz dalam konferensi yang digelar surat kabar Yedioth Ahronoth, dikutip dari Anadolu, Rabu 18 Februari 2026.
“Kami tidak akan bergeser dari Garis Kuning satu milimeter pun sampai Hamas dilucuti senjatanya, baik senjata, terowongan, maupun hal-hal lainnya,” klaim Katz.
Sebelumnya pada Senin, Sekretaris Kabinet Israel Yossi Fuchs menyatakan pemerintah akan memberikan tenggat waktu 60 hari bagi Hamas untuk melucuti senjata, dengan ancaman melanjutkan perang jika tidak dipatuhi.
Baca Juga: PBB: Zionis Israel Terus Halangi Operasi Kemanusiaan ke Gaza
Israel melancarkan perang genosida di Gaza sejak 8 Oktober 2023 dengan dukungan Amerika Serikat. Konflik tersebut berlangsung selama dua tahun dan menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina serta melukai lebih dari 171.000 orang, mayoritas perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil.
Perang itu berakhir melalui perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025. Namun, Israel tetap melakukan serangan udara dan penghancuran di sejumlah wilayah Gaza, yang dinilai berulang kali melanggar kesepakatan tersebut.
Pelucutan senjata Hamas merupakan bagian dari fase kedua rencana Trump yang mulai berlaku pada pertengahan Januari. Fase ini mencakup penarikan lanjutan pasukan Israel dari Gaza, dimulainya proses rekonstruksi, peningkatan masuknya bantuan kemanusiaan, serta pembentukan komite administratif untuk mengelola wilayah tersebut.
Warga Palestina terlihat setelah mereka kembali ke daerah Sheikh Radwan yang hancur di utara Kota Gaza pada 6 November 2025. (Antara)
Dalam pernyataan terpisah, Yedioth Ahronoth melaporkan Katz menyebut Israel perlu memperluas produksi senjata dalam negeri demi memastikan kemampuan pertahanan yang mandiri, mengingat persaingan global dalam memperoleh amunisi dan adanya perbedaan pandangan dengan sekutu selama masa perang.
Katz menggambarkan Amerika Serikat sebagai "sekutu hebat" yang mendukung Israel dalam apa yang ia sebut sebagai "konflik multi-front", sambil mengakui adanya beberapa perselisihan yang "memiliki dampaknya."
Baca Juga: Israel Kembali Serang Gaza, 10 Orang Tewas dalam Sehari Meski Ada Gencatan Senjata
Ia menambahkan bahwa Kementerian Pertahanan Israel telah memutuskan meluncurkan inisiatif jangka panjang yang sementara diberi nama "Perisai Israel", yang akan menambah anggaran pertahanan sebesar 350 miliar shekel (sekitar USD95 miliar) selama satu dekade ke depan.
Rencana tersebut, menurut Katz, didasarkan pada "kepercayaan yang kuat pada kekuatan ekonomi" Israel.
"Tidak ada keamanan tanpa ekonomi, dan tidak ada ekonomi tanpa keamanan," tambah Katz.
Warga Palestina berjalan melewati puing-puing bangunan yang hancur setelah kembali ke Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, pada 12 Oktober 2025. Kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas mulai berlaku pada hari Jumat. (ANTARA/Xinhua/Rizek A (Antara)