Pramono dan Andra Soni Sepakati Kerja Sama Jakarta-Banten Kembangkan MRT Timur-Barat Fase 2

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Feb 2026, 17:15
thumbnail-author
Adiansyah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Pramono Anung dan Andra Soni Pramono Anung dan Andra Soni (NTVNews.id/Adiansyah)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Provinsi Banten memperkuat kolaborasi di sektor transportasi massal. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pengembangan MRT Lintas Timur–Barat Fase 2 rute Kembangan-Balaraja, yang digelar di Balai Agung, Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.

Momentum ini disaksikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Gubernur Banten Andra Soni, bersama Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda) serta para pengembang kawasan yang berada di sekitar trase MRT.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyampaikan bahwa penandatanganan MoU tersebut merupakan tonggak sejarah baru dalam pengembangan transportasi massal lintas wilayah.

"Hari ini kita mencatat sejarah penting, kerja sama antara Pemerintah Banten dan Pemerintah Jakarta untuk pengembangan MRT. Dan kita melakukan penandatanganan Nota Kesepakatan MRT Lintas Timur-Barat Fase 2, yaitu trase untuk Kembangan-Balaraja, antara PT MRT dengan pengembang yang ada di sekitar lokasi trayek yang akan dikembangkan," ucap Pramono.

Menurutnya, kerja sama dengan para pengembang di sepanjang jalur MRT akan mempercepat pengembangan Transit Oriented Development (TOD), sehingga integrasi kawasan hunian, bisnis, dan transportasi bisa berjalan optimal.

Pramono juga menekankan konsep simbiosis mutualisme antara pemerintah daerah, pengembang, dan MRT Jakarta, khususnya dalam aspek pembiayaan dan perencanaan proyek.

"Maka untuk itu, nanti pengalaman Jakarta mengembangkan MRT Utara-Selatan, bekerja sama dengan beberapa institusi internasional dan juga Kementerian Keuangan, akan kami lakukan yang sama untuk mengembangkan Fase 2 Kembangan-Balaraja yang akan segera kita persiapkan, kita matangkan. Termasuk studinya," ungkapnya.

Ia berharap, dalam kurun 1–2 tahun ke depan, pembangunan MRT Timur–Barat Fase 2 ini sudah bisa dimulai dan memberi dampak besar bagi Jakarta, Banten, serta sistem transportasi nasional.

Andra Soni <b>(NTVNews.id/Adiansyah)</b> Andra Soni (NTVNews.id/Adiansyah)

Sementara, Gubernur Banten Andra Soni menyambut baik kerja sama ini dan menyebutnya sebagai langkah awal menuju sistem transportasi massal terintegrasi di kawasan Jabodetabek.

"Kami sangat berterima kasih atas terlaksananya MoU ini. Ini sebagai pembuka jalan untuk cita-cita kita bersama terkait dengan transportasi massal yang terintegrasi dalam sebuah sistem transportasi perkotaan yang dirancang oleh Provinsi Jakarta, yang kemudian tentu bermanfaat kepada Pemerintah Provinsi Banten," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa tingginya ketergantungan pada kendaraan pribadi menjadi penyebab utama kemacetan harian di kedua wilayah. Kehadiran MRT lintas provinsi diyakini mampu menekan beban lalu lintas sekaligus mendorong perubahan gaya hidup masyarakat untuk beralih ke transportasi publik.

"Oleh karena itu, bilamana terjadinya terlaksananya rencana ini, mudah-mudahan ini akan mengurangi beban jalan Jakarta dan jalan Banten. Dan kemudian ini akan memudahkan kita menggunakan transportasi massal dan akan membuat gaya hidup masyarakat terkait dengan penggunaan transportasi massal akan tumbuh dan berkembang di wilayah perbatasan Jakarta," tambahnya.

Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), Tuhiyat menegaskan bahwa penandatanganan nota kesepahaman ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud komitmen bersama membangun transportasi publik modern dan berkelanjutan.

Pemerintah Banten dan Pemerintah Jakarta pengembangan MRT <b>(NTVNews.id/Adiansyah)</b> Pemerintah Banten dan Pemerintah Jakarta pengembangan MRT (NTVNews.id/Adiansyah)

Lintas Timur–Barat disebut sebagai koridor strategis yang menghubungkan kawasan hunian, industri, hingga pusat pertumbuhan ekonomi baru di Jakarta dan Banten, dengan panjang lintasan sekitar 30 kilometer.

MRT Jakarta, kata Tuhiyat, mengambil inisiatif mendorong kolaborasi studi bersama para pengembang untuk membantu pemerintah pusat, khususnya Kementerian Perhubungan, dalam perencanaan kelembagaan dan pembiayaan proyek.

"Melalui nota kesepahaman ini, MRT Jakarta bersama para pengembang ingin mendorong konsep TOD yang tidak hanya berorientasi pada mobilitas tetapi pada kualitas hidup. Proyek ini dapat terwujud melalui sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta," ujarnya.

Ia juga mengapresiasi dukungan Kementerian Perhubungan RI, Bappenas, serta pemerintah daerah DKI Jakarta dan Banten, seraya menyampaikan terima kasih kepada para pengembang yang telah berkomitmen mendukung proyek MRT Timur–Barat Fase 2.

"Kepada para pengembang yang hari ini menandatangani nota kesepahaman, kami ucapkan terima kasih atas kepercayaan dan komitmennya. Tentunya kolaborasi ini akan menghasilkan solusi inovatif yang tidak hanya meringankan beban pendapatan pendanaan publik tetapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi bagi kawasan dan masyarakat lain," tutupnya.

x|close