Ntvnews.id, Jakarta - Empat orang aparatur sipil negara (ASN) di panti sosial di Cipayung, Jakarta Timur milik Pemprov DKI Jakarta, dilaporkan ke polisi. Penyebabnya, mereka diduga terlibat dalam kasus pemalsuan jenazah Rudy Watak.
Jenazah Rudy disebut terlapor dimakamkan di TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Namun, berdasarkan hasil tes DNA, dipastikan bahwa jenazah tersebut bukanlah Rudy Watak.
Sebelum terungkapnya pemalsuan jenazah, putri Rudy, Imelda (51) sempat mengadakan sayembara. Ia berjanji memberikan uang sebesar Rp1 miliar kepada pihak yang berhasil menemukan ayahnya.
Walau begitu, Imelda membantah bahwa motif dugaan pemalsuan jenazah itu karena terlapor tergiur uang miliaran rupiah yang ia janjikan.
"Tidak (motifnya bukan karena ingin hadiah Rp1 miliar)," ujar Imelda kepada NTVNews.id, Rabu, 29 Januari 2026.
Sebab, kata dia, usai dirinya mengumumkan sayembara pencarian Rudy di Aksi Kamisan di depan Istana Negara pada 28 Agustus 2025 lalu, keesokan harinya nomor yang ia sertakan langsung dihubungi seseorang yang mengaku memiliki informasi akan keberadaan ayahnya. Orang tersebut, lalu memberikan nomor ponsel petugas panti sosial di Cipayung, Jakarta Timur.
"(Motifnya bukan mau Rp1 miliar) Karena pada saat orang itu info ke saya mengenai nomor HP petugas panti sosial dan saat saya telepon balik tapi nomornya sudah tidak aktif," papar Imelda.
Imelda sendiri akhirnya tak memberikan hadiah Rp1 miliar tersebut. Sebab, jenazah pada makam yang ditemukan bukanlah ayahnya. Selain itu, uang tersebut baru akan diberikan apabila Rudy ditemukan dalam keadaan hidup.
"Hadiah itu diberikan apabila ayah saya ditemukan dalam keadaan hidup," ucapnya.
Lebih lanjut, Imelda menduga motif para terlapor yakni untuk menutupi kejadian yang sesungguhnya menimpa Rudy. "Motifnya untuk menutupi kejadian yang sebenarnya yang dialami oleh ayah saya dan mereka tampilkan jenazah pengganti yang mereka atasnamakan ayah saya Rudy Watak," tuturnya.
Adapun kasus ini ditangani Polres Metro Jakarta Barat. Sejumlah pihak terkait atau saksi, sedang dalam pemeriksaan.
Diketahui, Rudy menghilang selama dua tahun, hingga akhirnya dinyatakan telah meninggal dunia oleh pihak panti sosial di Cipayung, Jakarta Timur, dan dimakamkan di TPU Tegal Alur. Menurut Imelda, sebelum hilang, kondisi ayahnya dalam keadaan baik-baik saja.
"Keadaan ayah saya sehat," ucapnya.
Namun, sebelum Rudy menghilang, kata Imelda ayahnya kerap menagih sisa pembayaran atas transaksi tanah.
"Dan terakhir sebelum ayah saya hilang, ayah saya selalu menagih sisa pembayaran tanah yang belum dibayar sebesar Rp10,5 miliar," tuturnya.
"Pada saat menagih, ayah saya didampingi selalu oleh adik-adik ayah saya," imbuh Imelda.
Upaya penagihan Rudy ini dilakukan kepada pembeli tanah dan pihak terkait lainnya. Penagihan dilakukan, kata Imelda, lantaran adanya transaksi jual-beli tanah yang menurutnya bodong.
"Ayah saya menagih terus ke notaris/PPAT dan pembeli karena transaksi bodong sudah langsung dibuat AJB dan SHM balik nama ke pihak pembeli. AJB senilai Rp10,8 miliar tapi uang yang baru masuk Rp243 juta," jelas Imelda.
"Ayah saya menagih terus dan setelah itu hilang," lanjut dia.
Usai Rudy hilang, Imelda melakukan berbagai cara guna menemukan ayahnya. Salah satunya dengan mengikuti Aksi Kamisan di depan Istana Negara, Jakarta.
Di kesempatan tersebut, Imelda menyampaikan informasi tentang ayahnya yang hilang sejak dua tahun lalu. Ia berjanji akan memberikan hadiah sejumlah uang apabila ada pihak yang menemukan Rudy.
"Pada saat saya mengikuti Aksi Kamisan tanggal 28 Agustus 2025 di depan Istana Presiden Jakarta, dan saya orasi di acara tersebut sambil membawa banner yang berukuran kira-kira 2 meter x1 meter yang tertulis ucapan terima kasih sebesar Rp1 miliar untuk yang menemukan Rudi Watak yang diculik," ujar Imelda.
Kala itu, Imelda menyertakan foto ayahnya, beserta nomor ponsel. "Saya cantumkan foto ayah saya dan nomor HP yang bisa dihubungi," ucapnya.
Upaya Imelda pun membuahkan hasil. Keesokan harinya, nomor ponsel yang ia cantumkan ketika mencari ayahnya, dihubungi seseorang.
"Setelah itu tanggal 29 Agustus 2025 atau besoknya ada WA masuk ke nomor HP yang di banner tersebut yang menginfokan untuk mencari Rudy Watak ke nomor HP sekian, dan saya langsung menghubungi nomor tersebut," jelas dia.
"Dan ternyata nomor itu adalah nomor HP petugas panti sosial di Cipayung dan dia memberitahu saya via telepon bahwa ayah saya sudah meninggal dan dimakamkan di TPU Tegal Alur tanggal 29 Mei 2022," imbuhnya.
Berbekal informasi tersebut, Imelda langsung mendatangi TPU Tegal Alur dan mencari informasi lebih lanjut di sana.
"Tanggal 3 September 2025 pimpinan TPU Tegal Alur memberikan tujuh dokumen yang diterima bersamaan dengan pengiriman jenazah dari Panti Sosial Cipayung tersebut," kata dia.
Walau begitu, terdapat kejanggalan dokumen yang ia terima. Karena itu, ia memutuskan membongkar makam. "(Kejanggalan dokumen itu berupa) Foto jenazah tidak sesuai dengan muka ayah saya," ucapnya.
Selain itu, informasi dari petugas panti sosial milik Pemprov DKI Jakarta, juga menyebutkan bahwa Rudy mengalami gangguan jiwa. Namun, hal itu tak berbanding lurus dengan biodata yang disebut oleh petugas panti diisi oleh Rudy.
"Awal info dari petugas panti sosial bahwa ayah saya mengalami gangguan jiwa dan hanya bisa menyebutkan namanya saja," kata Imelda.
"Tetapi di salah satu dokumen yang dikeluarkan panti sosial tersebut ada biodata isian lengkap yang diisi dan ditandatangani oleh ayah saya," imbuhnya.
Karena kejanggalan-kejanggalan itulah, Imelda memutuskan membongkar makam yang disebut berisi jenazah ayahnya, guna melakukan pengujian. Pembongkaran makam dilakukan pada 9 Oktober 2025 oleh tim dokter forensik Rumah Sakit (RS) Polri Kramat Jati, disertai tes DNA oleh Labdokkes Cipinang. Hasilnya pun sesuai dengan kecurigaan Imelda.
"Setelah proses ekshumasi atau bongkar makam dan identifikasi jenazah oleh tim dokter forensik RS Bhayangkara Polri Kramat Jati dan tes DNA saya, adik ayah saya dan jenazah yang sudah berupa kerangka di Pusdokkes Labdokkes Polri di Cipinang pada tanggal 9 Oktober 2025, menyatakan bahwa hasil tes DNA saya dan adik ayah saya tidak identik dengan DNA jenazah/kerangka tulang tersebut," bebernya.
Makam yang disebut berisi jenazah Rudy Watak. (NTVNews.id)