Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menutup tahun 2025 dengan capaian kinerja yang mencerminkan efektivitas program prioritas berbasis siklus kehidupan keluarga. Sejumlah intervensi strategis yang dijalankan secara terintegrasi menunjukkan hasil signifikan, bahkan melampaui target nasional, mulai dari upaya percepatan penurunan stunting, penguatan pengasuhan anak, peningkatan peran ayah, hingga pemberdayaan lansia.
Salah satu program utama yang menjadi penopang capaian tersebut adalah Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Program ini dirancang sebagai langkah konkret negara dalam mencegah stunting sejak fase paling awal kehidupan, dengan menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan baduta melalui pemenuhan asupan gizi yang tepat. Pendekatan ini menegaskan kehadiran negara dalam memastikan tumbuh kembang generasi masa depan berjalan optimal.
“Untuk itu, negara hadir langsung dengan memberikan asupan gizi yang tepat sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini,” tegas Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji S.Ag, M.Pd, dalam wawancara di salah satu televisi nasional di Jakarta, Kamis (22/01/2026).
Berdasarkan data Sekretariat Tim Pengendali Genting (TPG) tingkat pusat dan provinsi, hingga akhir 2025 capaian GENTING tercatat mencapai 160,67 persen atau setara dengan 1.607.627 penerima manfaat dari target awal 1 juta sasaran.
Baca Juga: Calon Deputi Gubernur BI Solikin Juhro Bawa Nama Ayah Prabowo saat Fit and Proper Test
Pada aspek pengasuhan anak, Kemendukbangga/BKKBN juga memperkuat perannya melalui Program Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA) yang diluncurkan pada 27 Mei 2025. Program ini hadir sebagai solusi pengasuhan yang aman dan berkualitas, terutama bagi keluarga dengan orang tua bekerja. TAMASYA dikelola oleh pengasuh bersertifikat dan mengedepankan empat layanan utama, yakni peningkatan kompetensi pengasuh, pemantauan tumbuh kembang anak, penguatan keterlibatan orang tua, serta layanan rujukan.
Sepanjang 2025, implementasi TAMASYA menunjukkan capaian yang solid. Berdasarkan Laporan R1 TAMASYA/TPA, sebanyak 71,88 persen pengasuh telah tersertifikasi, sementara pemantauan pertumbuhan anak mencapai 99,25 persen dan pemantauan perkembangan anak tercatat sebesar 97,84 persen.
Komitmen Kemendukbangga/BKKBN dalam membangun ketahanan keluarga juga diwujudkan melalui Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI). Program ini diluncurkan sebagai respons atas fenomena fatherless yang masih dialami oleh 25,8 persen keluarga di Indonesia (PK 2025). GATI mendorong keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan melalui berbagai inisiatif, antara lain Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah serta Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR).
“Ayah harus hadir mendampingi anak karena berperan penting dalam membangun leadership anak,” ujar Menteri Wihaji.
Baca Juga: Shayne Pattynama Berpisah dengan Buriram United, Gabung Persija?
Hingga akhir 2025, partisipasi masyarakat dalam GATI mencapai 2.621.418 keterlibatan atau setara dengan 141,86 persen dari target yang ditetapkan, sebagaimana tercatat dalam Portal GATI.
Selain fokus pada anak dan keluarga usia produktif, Kemendukbangga/BKKBN juga memberi perhatian serius pada kelompok lansia melalui Program Lansia Berdaya (SIDAYA). Program ini dijalankan sebagai respons atas fenomena ageing population, di mana jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia telah melampaui 10 persen dari total populasi. SIDAYA bertujuan memastikan lansia tetap sehat secara fisik, mental, dan sosial melalui berbagai aktivitas edukatif dan produktif.
Salah satu wujud pelaksanaan SIDAYA adalah penyelenggaraan Sekolah Lansia yang terintegrasi dalam kegiatan Bina Keluarga Lansia (BKL). Sepanjang tahun 2025, tercatat sebanyak 36.796 lansia mengikuti Sekolah Lansia, atau mencapai 153,32 persen dari target 24.000 peserta, berdasarkan data SIDAYA per 20 Januari 2026.
Rangkaian capaian tersebut menegaskan peran strategis Kemendukbangga/BKKBN dalam membangun keluarga Indonesia yang tangguh, sehat, dan berdaya di setiap fase kehidupan. Pendekatan berbasis siklus hidup keluarga ini menjadi fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan dan inklusif.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji S.Ag, M.Pd (Dok. BKKBN)