Ntvnews.id, Kupang - Anisa Saharia (15) tumbuh dengan pengalaman hidup yang tidak mudah. Gadis asal Desa Oeteta, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu menjadi satu-satunya siswi Muslim dan berhijab di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 19 Kupang.
Dari total 100 siswa yang belajar di sekolah tersebut, 86 beragama Protestan, 13 Katolik, dan hanya Anisa yang memeluk agama Islam. Di tengah perbedaan keyakinan itu, Sekolah Rakyat menjadi ruang belajar tentang toleransi dan hidup berdampingan.
Sejak kecil, Anisa terbiasa menghadapi kehilangan. Ayahnya wafat saat ia masih duduk di kelas III sekolah dasar. Beberapa waktu kemudian, ibunya menikah lagi dan merantau ke Kalimantan. Sejak saat itu, Anisa tinggal bersama kakak ketiganya. Ia adalah anak dari delapan bersaudara.
Pengalaman hidup tersebut membentuk kepribadiannya sejak dini. Sejak SD, Anisa kerap merasa minder. Tubuhnya yang lebih besar dibandingkan teman-teman seusianya membuat ia sering menjadi sasaran ejekan. Sekolah pun tak selalu menjadi ruang yang nyaman baginya. Ia lebih sering diam dan memendam perasaan.
Baca Juga: Resmikan SMA Taruna Nusantara Malang, Prabowo Targetkan Sekolah Unggulan di Seluruh Provinsi
Perasaan gugup kembali muncul saat pertama kali Anisa masuk ke Sekolah Rakyat. Ia takut tidak memiliki teman dan kembali mengalami perlakuan tidak menyenangkan. Namun, waktu dan lingkungan yang aman perlahan mengubah segalanya.
“Perasaan Anissa saat masuk gugup. Tapi sesudah beberapa bulan, Anissa sudah berani. Karena sudah mempunyai teman yang banyak,” ujar Anisa saat ditemui di SRMP 19, Kompleks Sentra Erata, Kupang, beberapa waktu lalu.
Lebih dari empat bulan bersekolah di SRMP 19 Kupang menjadi titik balik baginya. Aturan tegas tanpa perundungan membuat Anisa merasa diterima dan dihargai. Rasa percaya diri yang sempat hilang perlahan kembali tumbuh.
“Di sini dilarang membully. Jadi saya mulai percaya diri,” katanya.
Siswa Sekolah Rakyat (Istimewa)
Bagi Anisa, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah ruang aman, tempat ia menemukan dunia baru dan membangun kembali keberanian untuk menjadi diri sendiri.
Di tengah lingkungan dengan keyakinan yang berbeda, Anisa tetap dapat menjalankan ibadahnya. Meski harus salat seorang diri, ia tak pernah merasa dijauhkan. “Perasaan kayak, sepi. Kayak pergi kemu solat sendiri. Solat juga sendiri.,” tuturnya.
Namun, kepedulian teman-temannya kerap menguatkannya. Beberapa di antaranya sering mengantar Anisa ke musala ketika waktu salat tiba, sebuah gestur sederhana yang berarti besar baginya.
“Dia bilang, Anisa mau pergi kemana? Saya bilang, ke Musola. Dia bilang mau ikut. Anisa bilang, ayo,” katanya sambil tersenyum.
Rasa sepi paling terasa saat jadwal kunjungan orang tua yang digelar setiap dua pekan sekali. Ketika teman-temannya dipeluk keluarga, Anisa hanya bisa menahan rindu.
“Kayak kawan-kawan dipeluk, Anisa tidak dapat dipeluk orang tua. Anisa ingin punya orang tua kembali. Biar bisa disayang. Kawan-kawan biasa dipeluk disayang. Anissa tidak. Anissa ingin dipeluk.,” ucapnya sambil terisak.
Meski demikian, Anisa memilih bersyukur. Selama tinggal di Sekolah Rakyat, kebutuhan dasarnya terpenuhi. Ia tinggal di asrama, memperoleh seragam, perlengkapan sekolah, serta makanan yang layak—semuanya disediakan secara gratis. “Kalau di rumah, ke sekolah enggak makan,” katanya.
Baca Juga: Ini Alasan Sri Mulyani Ditunjuk Jadi Dewan Direksi Gates Foundation Milik Bill Gates
Sebelum bersekolah di SRMP 19 Kupang, Anisa harus membantu kakaknya bekerja membuat kiri-kiri, sejenis makanan ringan, untuk dijual demi menambah penghasilan keluarga. Kini, ia bisa fokus belajar tanpa harus memikirkan kebutuhan sehari-hari.
“Di sini makannya enak, kayak makan daging. Kalau di rumah makan apa adanya. Kalau ada ikan, ikan. Kalau ada sayur, sayur,” ujarnya. Anisa menyimpan harapan sederhana: menjadi anak yang berhasil, membanggakan keluarga, dan membuktikan bahwa keterbatasan hidup tidak menentukan masa depan.
Di akhir ceritanya, Anisa menyampaikan rasa terima kasih. “Terima kasih Bapak Prabowo sudah menghadirkan Sekolah Rakyat dengan fasilitas yang terjamin. Saya doakan Bapak Presiden sehat selalu,” katanya.
Bagi Anisa Saharia, Sekolah Rakyat bukan sekadar sekolah. Di sanalah, di tengah perbedaan, ia menemukan rumah, tempat ia merasa diterima, dilindungi, dan diberi ruang untuk tumbuh.
Siswa Sekolah Rakyat (Istimewa)