Reaksi Pemimpin Eropa Pasca Serangan AS ke Venezuela

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Jan 2026, 09:30
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
AS Lancarkan Agresi Militer ke Venezuela AS Lancarkan Agresi Militer ke Venezuela (X The Tradesman)

Ntvnews.id, Jakarta - Sejumlah pemimpin dan pejabat tinggi Eropa bereaksi terhadap serangan militer Amerika Serikat di Venezuela. Mereka menyampaikan keprihatinan, menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional, serta memantau secara ketat keselamatan warga negara masing-masing di negara Amerika Latin tersebut.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengungkapkan bahwa dirinya telah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dan Duta Besar Uni Eropa di Caracas terkait perkembangan situasi.

Melalui unggahan di media sosial X, Kallas kembali menegaskan sikap Uni Eropa bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro tidak memiliki legitimasi.

"Uni Eropa telah berulang kali menyatakan bahwa Maduro tidak memiliki legitimasi dan mendukung terjadinya transisi damai," tulis Kallas.

Ia juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap prinsip-prinsip hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Baca Juga: Trump Klaim AS Ambil Alih Venezuela Usai Tangkap Presiden Maduro

Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot, menyatakan bahwa Kedutaan Besar Belgia di Bogota, Kolombia, telah dimobilisasi sepenuhnya untuk merespons dinamika yang terjadi.

"Situasi sedang dipantau secara ketat, dalam koordinasi dengan para mitra Eropa kami," ujarnya.

Arsip foto - Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyampaikan pidato setelah konferensi pers dengan anggota pers internasional di Hotel Eurobuilding di ibu kota Caracas, 15 September 2025. ANTARA/Ivan Mcgregor/Andolu/pri. <b>(Antara)</b> Arsip foto - Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyampaikan pidato setelah konferensi pers dengan anggota pers internasional di Hotel Eurobuilding di ibu kota Caracas, 15 September 2025. ANTARA/Ivan Mcgregor/Andolu/pri. (Antara)

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Belanda David van Weel menyebut kondisi di Caracas masih belum jelas. Ia mengatakan pemerintah Belanda terus memantau perkembangan dan menjalin komunikasi dengan perwakilan diplomatiknya di Venezuela.

Kementerian Luar Negeri Polandia juga mengungkapkan tengah melakukan verifikasi terhadap jumlah warga negaranya yang berada di Venezuela. Juru bicara Kemenlu Polandia, Maciej Wewior, menyatakan sejauh ini tidak ada laporan warga Polandia yang membutuhkan bantuan.

"Sebagian besar warga Polandia di Venezuela tinggal dalam jangka panjang," katanya.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez turut menyampaikan bahwa pemerintahnya terus mengamati situasi di Venezuela secara saksama. Ia memastikan kedutaan dan konsulat Spanyol di negara tersebut tetap beroperasi, sekaligus menyerukan langkah-langkah deeskalasi.

Di sisi lain, Presiden Belarus Alexander Lukashenko secara terbuka mengecam tindakan Amerika Serikat di Venezuela. Mengutip kantor berita negara Belarus, Belta, Lukashenko menyebut langkah AS tersebut tidak dapat diterima. Bahkan, Kementerian Luar Negeri Belarus menilai apa yang mereka sebut sebagai agresi bersenjata AS merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional.

Baca Juga: Sejumlah Warga AS Ditahan Venezuela di Tengah Tekanan Militer dan Ekonomi

Sebelumnya, militer Amerika Serikat dilaporkan melancarkan serangan di Caracas dan sejumlah wilayah lain di Venezuela. Serangan itu memicu ledakan besar di pangkalan militer utama Fortuna pada Sabtu, 31 Januari 2026 pagi waktu setempat. Saksi mata melaporkan terlihat kepulan asap hitam tebal dari fasilitas militer tersebut, disertai suara jet tempur yang terbang rendah.

Presiden AS Donald Trump kemudian mengumumkan bahwa pasukan Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Menurut pernyataan Trump, Maduro bersama istrinya dilaporkan tengah diterbangkan keluar dari wilayah Venezuela, sebagaimana dilaporkan New York Times.

Pengumuman penangkapan itu menandai puncak dari tekanan intensif selama berbulan-bulan yang dilakukan pemerintahan Trump untuk menggulingkan Maduro dari kekuasaan. Melalui platform media sosial Truth Social, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan serangan skala besar terhadap Venezuela dan menegaskan operasi tersebut dilakukan bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS.

"Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan sedang menerbangkannya keluar dari Venezuela," tulis Trump dalam unggahannya.

x|close