Ntvnews.id, Jakarta - Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mengungkapkan catatan terkait keamanan siber nasional. Melalui Direktorat Operasi Keamanan Siber, BSSN mencatat lebih dari 5,1 miliar anomali traffic digital yang terjadi sejak 1 Januari hingga 20 November 2025. Angka ini menunjukkan betapa masifnya ancaman siber yang terus mengintai ruang digital Indonesia.
"Kami mencatat lebih dari 5,1 miliar anomali traffic keamanan siber nasional," ucap Nur Achmadi Salmawan, Direktur Keamanan Siber dan Sandi TIK Media dan Transportasi BSSN, dalam webinar “Cyberaware: Bijak dan Aman di Dunia Digital” yang digelar AMSI bersama BSSN, Rabu, 26 November 2025.
Dari total anomali yang terdeteksi, 93,79% merupakan aktivitas malware, sementara 4,19% berupa exploit. Sisanya berasal dari unauthorized access dan kesalahan system misconfiguration. Data ini menunjukkan bahwa serangan siber ke Indonesia tidak hanya padat, tetapi juga semakin canggih dan agresif.
Achmadi menegaskan bahwa besarnya angka tersebut adalah peringatan keras betapa tingginya intensitas percobaan serangan yang mengarah ke infrastruktur digital nasional.
tren anomali siber nasional (tangkapan layar/NTVNews.id)
Baca Juga: AMSI Awards 2025, Apresiasi untuk Inovasi dan Transformasi Media Siber Indonesia
Pada periode yang sama, sektor media tercatat mengalami 805 anomali traffic. Meski jumlahnya terlihat lebih kecil dibanding total nasional, dampaknya bagi lembaga media sangat signifikan karena menyangkut kepercayaan publik dan integritas informasi.
"Di sektor media. Dalam periode yang sama, sektor media tercatat total ada 805 anomali traffic, meskipun angkanya kelihatan lebih kecil, namun dampaknya untuk sektor media ini sangat luar biasa, krusial karena menyangkut kepercayaan publik," ujarnya.
Jenis serangan yang paling mendominasi sektor media adalah exploit dengan angka 33,54%. Exploit adalah metode penyerang dalam memanfaatkan celah keamanan pada sistem, aplikasi, website, CMS, hingga infrastruktur data media.
Serangan lainnya meliputi Unauthorized access & system misconfiguration dengan 25,47%, Information leak di 21,37%. Data ini menegaskan bahwa pencurian atau kebocoran informasi menjadi tujuan utama para penyerang. Lebih dari itu, 51% serangan bersifat attempt (upaya masuk yang hampir berhasil), lebih tinggi dari serangan yang gagal.
Tren anomasi siber sektor media (tangkapan layar/NTVNews.id)
Achmadi menyebut bahwa kondisi ini merupakan alarm keras bagi semua pihak. Pemerintah telah menetapkan Strategi Keamanan Siber Nasional (SKSN) melalui Peraturan Presiden Nomor 47 Tahun 2023.
SKSN dibangun melalui tiga pilar utama, yakni Means (Sarana) mencakup people, process, dan technology. Kemudian People yakni SDM yang kompeten dan melek keamanan digital.
Kemudian Process, yakni tata kelola manajemen risiko, hingga manajemen krisis siber. Laku Technology, berupa pemanfaatan teknologi keamanan yang kuat, termasuk kemandirian kriptografi nasional.
Berikutnya, Ways (Cara) yang meliputi kolaborasi, fokus area, hingga implementasi rencana aksi bersama berbagai pihak. Terakhir, Ends (Tujuan), mewujudkan keamanan siber nasional, melindungi ekosistem ekonomi digital, dan meningkatkan kemampuan pertahanan siber Indonesia.
SKSN juga melibatkan unsur Quad Helix, yakni pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, termasuk media yang tergabung dalam AMSI.
Dalam bingkai SKSN, sektor media memiliki peran vital dalam tiga aspek Utama, yakni menjaga stabilitas informasi publik. Media berperan dalam memastikan kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan informasi.
Microsoft merilis laporan terbaru
Baca Juga: IDC 2025, AMSI Sebut Ada Ancaman AI Terhadap Eksistensi Media
Kedua, menjadi mitra pemerintah dalam edukasi keamanan siber. Media adalah kanal paling efektif untuk meningkatkan literasi dan kewaspadaan masyarakat.
Ketiga, melawan disinformasi dan manipulasi informasi. Serangan siber seringkali digunakan untuk mengganti atau memanipulasi konten, yang bisa memicu konflik dan instabilitas, seperti kasus yang pernah memicu gesekan diplomatik antarnegara.
Menutup pemaparan, Achmadi menyampaikan tiga poin krusial yang harus diperhatikan pelaku media, pertama media adalah target strategis yang harus diperlakukan layaknya infrastruktur informasi kritikal seperti sektor energi, keuangan, hingga pertahanan.
Kedua, SDM adalah pertahanan pertama. Teknologi canggih sekalipun tidak akan berarti jika kelemahan terbesar berasal dari kesalahan manusia.
Ketiga, keamanan siber adalah isu integritas, bukan sekadar teknis. Ini adalah urusan kepemimpinan, bisnis, dan profesionalisme, bukan hanya tugas tim IT.
"Namun ini adalah isu kepemimpinan, isu bisnis, dan isu integritas profesional," tutupnya.
Nur Achmadi Salmawan (Tangkapan layar/NTVNews.id)