Cara Memulihkan Kulit Setelah Terpapar Gas Air Mata

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Agu 2025, 16:05
thumbnail-author
Irene Anggita
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Pengunjuk rasa menghindari tembakan gas air mata dari anggota kepolisian di kawasan Pejompongan, Jakarta, Kamis (28/8/2025). Pengunjuk rasa menghindari tembakan gas air mata dari anggota kepolisian di kawasan Pejompongan, Jakarta, Kamis (28/8/2025). (ANTARA)

Ntvnews.id, Jakarta - Dokter dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) memberikan sejumlah tips untuk membantu memulihkan kondisi kulit setelah terpapar gas air mata, terutama pada aksi demonstrasi yang terjadi beberapa waktu terakhir.

Menurut dr. Arini Astasari Widodo, SM, Sp.DVE, FINSDV, anggota Perdoski, "Gas air mata memang dapat menyebabkan iritasi dan peradangan kulit, terutama bila terpapar berulang. Pemulihan bisa cepat bila ringan, namun bisa lebih lama jika ada luka," ujar dr. Arini saat dihubungi ANTARA di Jakarta pada hari Jumat.

Arini menegaskan bahwa langkah terbaik yang bisa dilakukan adalah segera membersihkan kulit dengan air mengalir dalam jumlah yang banyak. Ia mengingatkan untuk tidak menggunakan air panas, cukup memakai air biasa atau air dengan suhu ruang.

Selain itu, penting untuk menjaga kelembaban kulit. Setelah membersihkan kulit, segera oleskan pelembab dengan tekstur yang lembut. "Jenis pelembab yang disarankan pun mengandung ceramide, petrolatum, atau lidah buaya (aloe vera) untuk memperbaiki lapisan kulit," tambahnya.

Langkah berikutnya adalah melepas pakaian yang sudah terkontaminasi gas air mata guna mencegah paparan ulang dari zat-zat berbahaya yang terkandung dalam gas tersebut. Bagi yang mengalami iritasi, disarankan untuk tidak menggosok area yang terdampak agar kondisi kulit tidak makin memburuk.

"Jika ada luka atau iritasi berat, dapat diberikan krim untuk meredakan inflamasi. Penggunaan kortikosteroid topikal ringan seperti hydrocortisone bisa sesuai anjuran dokter," jelasnya.

Waktu pemulihan kulit, menurut Arini, sangat tergantung pada tingkat keparahan iritasi. Untuk iritasi ringan, biasanya kulit mulai membaik dalam satu sampai tiga hari setelah paparan gas dihentikan.

Namun, bila terjadi dermatitis yang lebih parah atau ada luka, proses penyembuhan dapat berlangsung selama satu hingga dua minggu, bergantung pada kondisi kulit masing-masing individu.

Arini juga menyarankan agar masyarakat menghindari penggunaan bahan yang dapat memicu iritasi kembali setelah mencuci muka, seperti pasta gigi.

"Sebab, penggunaan pasta gigi atau odol di bawah mata tidak direkomendasikan karena mengandung menthol, fluoride, dan detergen justru dapat memperparah iritasi, menyebabkan dermatitis, bahkan luka bakar kimia," ujarnya tegas. "Jadi, penggunaan odol tidak aman dan sebaiknya dihindari."

Lebih lanjut, Arini menyoroti bahwa gas air mata mengandung senyawa berbahaya seperti chlorobenzylidene malononitrile (CS) atau chloroacetophenone (CN), yang bekerja sebagai iritan kuat pada mata, kulit, dan saluran napas.

Efek yang terjadi pada kulit setelah terkena zat tersebut adalah kemerahan, sensasi panas seperti terbakar, rasa gatal, serta kadang muncul dermatitis kontak iritan atau bahkan luka melepuh jika paparan cukup berat atau berulang, tergantung seberapa banyak terpapar.

"Jika terkena berturut-turut tiga hari, kulit akan mengalami akumulasi iritasi. Risiko peradangan lebih berat, luka terbuka, dan infeksi sekunder lebih tinggi," tutup dr. Arini.

Sumber: ANTARA

x|close