Ntvnews.id, New York - Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengurangi bantuan pangan bagi sekitar 500 ribu warga Jalur Gaza akibat keterbatasan pendanaan.
Dilansir dari AFP, Selasa, 20 Oktober 2026, Kebijakan tersebut menyebabkan jumlah penerima bantuan berkurang dari 1,6 juta menjadi 1,1 juta orang, ketika ancaman krisis pangan meningkat menjelang musim dingin.
Dalam pernyataan, WFP mengungkapkan bahwa kekurangan dana turut memaksa lembaga tersebut mengurangi jatah makanan bagi warga yang masih terdaftar sebagai penerima bantuan. Setiap keluarga kini hanya memperoleh satu paket makanan, dari sebelumnya dua paket, disertai satu kantong kecil tepung terigu.
Pengurangan bantuan juga menyasar distribusi makanan siap santap. WFP menurunkan jumlah makanan yang dibagikan setiap hari dari 250 ribu menjadi 150 ribu porsi.
Sementara itu, keluarga yang menetap di daerah yang sulit dijangkau, termasuk kawasan di sekitar "garis kuning" yang dikuasai militer Israel, kini menerima bantuan makanan setiap dua hari sekali. Sebelumnya, distribusi bantuan kepada kelompok tersebut dilakukan setiap hari.
Mengutip Anadolu Agency, pemangkasan anggaran juga berdampak pada program bantuan tunai. WFP mengurangi nilai bantuan yang diberikan kepada 75 ribu keluarga di wilayah tersebut.
WFP memperingatkan bahwa langkah pengurangan bantuan berlangsung ketika sebagian besar penduduk Gaza masih kesulitan memperoleh makanan yang mencukupi dan memenuhi kebutuhan gizi.
Baca Juga: UN Women: Hampir 50.000 Perempuan dan Anak Perempuan Jadi Korban di Gaza
WFP memperkirakan sekitar 1,4 juta orang atau 67 persen dari total populasi Gaza mengalami kerawanan pangan pada tingkat krisis atau lebih buruk. Dari jumlah tersebut, sekitar 200 ribu orang berada dalam situasi darurat dan membutuhkan bantuan pangan segera untuk mencegah kematian akibat kelaparan.
Kondisi tersebut turut mengancam kesehatan anak-anak. WFP mencatat hanya satu dari lima anak di Gaza yang mengonsumsi makanan dengan variasi gizi yang memadai.
Tingginya angka pengangguran yang telah melampaui 80 persen semakin memperberat situasi. Banyak keluarga kehilangan kemampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi bagi anggota keluarganya.
Menurut WFP, kondisi ketahanan pangan yang sempat membaik setelah gencatan senjata pada Oktober 2025 masih "rapuh". Lembaga tersebut mengingatkan bahwa situasi dapat kembali memburuk dalam waktu singkat apabila dukungan kemanusiaan terus mengalami pengurangan.
Keterbatasan anggaran tidak hanya memengaruhi distribusi bantuan di Jalur Gaza, tetapi juga menghambat kegiatan kemanusiaan WFP di Tepi Barat yang diduduki.
Di wilayah tersebut, jumlah penerima bantuan dipangkas hingga separuhnya, dari sebelumnya 400 ribu menjadi 200 ribu orang.
Untuk menjaga keberlangsungan operasi bantuan penting di Gaza dan Tepi Barat selama enam bulan ke depan hingga Maret 2027, WFP menyatakan membutuhkan pendanaan sebesar US$450 juta atau sekitar Rp8,11 triliun.
Kebutuhan dana tersebut menjadi tantangan bagi upaya kemanusiaan di wilayah Palestina, terutama ketika jutaan warga masih bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.
Seorang anak berada di antara puing bangunan akibat serangan udara Israel di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza, Palestina (Antara)