Ntvnews.id, Riyadh - Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dilaporkan berpindah-pindah di antara sejumlah istana yang dilengkapi bunker dan pengamanan ketat menyusul meningkatnya serangan kelompok Houthi dari Yaman.
Menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ). MBS kini dilindungi tim keamanan khusus yang dipilih langsung olehnya. Langkah tersebut dilakukan ketika serangan Houthi semakin mengancam Riyadh, termasuk fasilitas sipil dan infrastruktur strategis negara itu.
MBS terakhir kali terlihat di hadapan publik pada Selasa, 6 Oktober 2026, saat menghadiri kegiatan donor darah nasional.
Serangan Houthi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada Sabtu, 10 Oktober 2026, menimbulkan banyak korban. Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi melaporkan sedikitnya 12 orang meninggal dunia dan 309 lainnya mengalami luka-luka.
Ynet News melaporkan dua terminal bandara mengalami kerusakan parah. Sebagian atap bangunan bahkan dilaporkan runtuh akibat serangan tersebut.
Serangan kembali terjadi pada Minggu, 11 Oktober 2026, ketika sebuah proyektil menghantam bandara yang saat itu telah ditutup. Insiden tersebut memicu kebakaran di Terminal 4 dan menambah jumlah korban luka. Pada hari yang sama, otoritas penerbangan sipil juga melaporkan serangan lain yang menyebabkan sejumlah orang terluka.
Baca Juga: Prabowo Disambut Hangat Putra Mahkota Mohammed bin Salman di Istana Al-Salam Jeddah
Kelompok Houthi, yang juga dikenal dengan nama Ansar Allah, mengakui telah melancarkan empat operasi besar menggunakan rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat nirawak dalam kurun waktu 24 jam pada 11 Oktober.
Ancaman serangan turut dirasakan di sejumlah wilayah Riyadh. Warga dilaporkan mencari perlindungan ketika suara ledakan terdengar di ibu kota. Pekerja di kawasan keuangan, siswa di sejumlah sekolah internasional, hingga diplomat juga diminta meninggalkan gedung atau berlindung di tempat aman.
Sebelumnya, pada Kamis, 8 Oktober 2026, puing-puing rudal balistik yang berhasil dicegat dilaporkan jatuh di sebuah taman kanak-kanak dan kompleks klinik medis.
Arab Saudi Berupaya Menambah Sistem Pertahanan Udara
Meningkatnya serangan membuat Arab Saudi berusaha memperkuat kemampuan pertahanan udaranya. Riyadh dilaporkan mencari tambahan sistem pertahanan dari sejumlah negara dan meminta bantuan Pakistan, sekutu militernya.
Mengutip kantor berita TASS, Arab Saudi juga berupaya merekrut petempur asing untuk membantu sekutu-sekutunya di Yaman.
Luasnya wilayah Arab Saudi menjadi tantangan tersendiri dalam menghadapi serangan yang terjadi di berbagai lokasi. Menurut WSJ, sejumlah pejabat Saudi telah memperingatkan bahwa persediaan rudal pencegat negara itu mulai menipis.
Sebagai langkah antisipasi, Arab Saudi memindahkan baterai pertahanan udara ke berbagai titik strategis, termasuk kawasan istana kerajaan dan fasilitas energi penting.
Amerika Serikat telah menyediakan penasihat militer bagi Arab Saudi. Namun, Washington sejauh ini menolak permintaan Riyadh untuk memberikan bantuan langsung guna membalikkan kemajuan teritorial Houthi di Yaman.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan negaranya berpeluang ikut serta dalam serangan Arab Saudi terhadap Houthi setelah serangkaian serangan di Bandara King Khalid.
"Apa yang mereka lakukan sangat buruk," kata Trump setelah serangan di bandara Riyadh.
Serangan Mengancam Ambisi Ekonomi MBS
Mohammed Bin Salman (MBS) (IG: Mohammed Bin Salman)
Situasi keamanan yang memburuk juga berpotensi menghambat upaya MBS menjadikan Arab Saudi sebagai pusat pariwisata, investasi, dan teknologi global.
Selama bertahun-tahun, putra mahkota berusia 41 tahun itu mendorong transformasi ekonomi melalui investasi besar-besaran di berbagai proyek pembangunan. Program tersebut mencakup pembangunan kota futuristik Neom serta sejumlah proyek baru di Riyadh.
Namun, serangan Houthi kini mengancam sejumlah infrastruktur penting, mulai dari bandara dan kilang minyak hingga jaringan pipa minyak East-West. Jalur pipa tersebut memungkinkan Arab Saudi mengekspor minyak melalui Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz.
Ancaman terhadap pelayaran di Laut Merah juga menjadi perhatian karena jalur tersebut berperan penting dalam perdagangan dan ekspor minyak Arab Saudi.
Konferensi investasi internasional berskala besar yang dijadwalkan berlangsung pada akhir Oktober 2026 turut menghadapi risiko gangguan. Serangan yang memengaruhi perjalanan internasional dikhawatirkan mengurangi kepercayaan investor terhadap kondisi keamanan di negara tersebut.
Tekanan terhadap perekonomian Saudi muncul di tengah penurunan investasi asing pada paruh pertama 2026. Sejumlah proyek besar juga mengalami penundaan atau peninjauan ulang. Kementerian Keuangan Arab Saudi memperkirakan ekonomi negara itu menyusut 3,6 persen sepanjang 2026.
Konflik Yaman Memperburuk Situasi
Konflik antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi telah berlangsung sejak Agustus 2014.
Pada Juli 2026, Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi dan kemudian melancarkan serangan terhadap sejumlah kapal tanker minyak milik negara tersebut.
Pada 10–11 September, kelompok itu dilaporkan menguasai Kota Mokha serta sejumlah posisi strategis di sepanjang pesisir. Perkembangan tersebut meningkatkan ancaman terhadap pengiriman minyak Saudi melalui Selat Bab el-Mandeb.
Sementara itu, pada 4 Oktober, pasukan pemerintah Yaman mengumumkan dimulainya operasi militer besar untuk merebut kembali wilayah yang berada di bawah kendali Houthi.
Rangkaian serangan dan eskalasi konflik tersebut menambah tekanan terhadap keamanan Arab Saudi, sekaligus menimbulkan tantangan bagi kepemimpinan MBS dalam menjaga stabilitas negara dan melanjutkan agenda transformasi ekonominya.
Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi, Mohammed bin Salman. (ANTARA)