Idrus Marham Pertanyakan Survei CELIOS soal Bahlil, Singgung Konspirasi Politik

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 13 Okt 2026, 19:01
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham (NTVnews)

Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham mempertanyakan hasil evaluasi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) yang berulang kali menempatkan Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, sebagai salah satu menteri dengan kinerja terburuk.

Idrus menilai, hasil evaluasi tersebut perlu dipertanyakan karena dinilai tidak sejalan dengan fakta dan penilaian dari lembaga survei lain. Ia bahkan menyinggung kemungkinan adanya agenda politik di balik penilaian yang terus berulang tersebut.

Hal itu disampaikan Idrus saat memberikan tanggapan terhadap hasil evaluasi CELIOS di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Selasa, 13 Oktober 2026.

“secara sederhana kesimpulan kami sebagai respon terhadap hasil survei yang dilakukan Salius itu sebagaimana tertera dalam judul ya, press release kami yaitu ketika angka berseberangan dengan nalar dan fakta,” ujar Idrus

Idrus kemudian mempertanyakan apakah hasil evaluasi CELIOS murni merupakan survei atau memiliki kaitan dengan kepentingan politik tertentu.

“Apakah hasil yang disampaikan itu di mana menurut pandangan dan pengamatan kami dan yang kami alami sebagai pengurus partai bahwa hasil survei itu jelas menunjukkan ada perbedaan angka yang dikedepankan dengan penilaian itu dengan nalar dan fakta yang ada dan karena itu kami mempertanyakan bahwa apa ini survei atau sudah merupakan konspirasi politik,” kata Idrus

Baca Juga: Eksekusi Lapak Narkoba di Kampung Ambon, Petugas Kerahkan Ekskavator

Menurut Idrus, penilaian CELIOS terhadap Bahlil bukan kali pertama terjadi. Ia menyoroti hasil evaluasi 100 hari pemerintahan Prabowo Subianto, evaluasi satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, hingga penilaian yang dirilis pada Oktober 2026.

“Nah, kenapa pertanyaan ini kami munculkan? Karena kami mengikuti ya, survei yang dilakukan oleh Salius ini ini kelihatannya fokusnya kepada Ketua Umum DPP Partai Golkar yang juga dalam Menteri SDM dan sekaligus sebagai Menko Hilirisasi,” jelas Idrus

Ia menilai, penempatan Bahlil sebagai menteri berkinerja buruk secara berulang patut menjadi perhatian publik. Idrus menyebut, CELIOS mungkin menganggap pola tersebut sebagai konsistensi, tetapi menurutnya hasil itu tetap perlu dibandingkan dengan fakta dan penilaian lainnya.

“Nah, mungkin, ya, Celios mengatakan ini adalah konsisten. Konsisten menempatkan ya, menteri SDM pada posisi sebagai menteri terburuk,” tutur Idrus

Idrus juga menyinggung dugaan keterkaitan antara hasil evaluasi yang memberikan rapor merah kepada Bahlil dan munculnya desakan perombakan atau reshuffle kabinet. Ia menegaskan, pola tersebut menjadi salah satu alasan Golkar mempertanyakan hasil survei tersebut.

“Nah, saya kira kalau kita ingin melihat Saudara-saudara sekalian bahwa saya tidak akan bicara dari sisi bagaimana metodologi,” jelasnya

Lebih lanjut, Idrus membandingkan hasil CELIOS dengan survei Indonesia Political Opinion (IPO). Menurutnya, hasil survei lembaga tersebut justru menempatkan Bahlil di antara tiga menteri dengan penilaian terbaik.

“Ya, sebutlah misalkan ada Survei Nasional Indonesia Political Opinion. Itu kan juga ada. Di mana hasil surveinya itu di menempatkan Bung Bahlil Lahadalia ya, tiga terbaik menteri,” ujarnya

Selain membandingkan hasil survei, Idrus mengingatkan bahwa Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga memberikan apresiasi terhadap kinerja Bahlil. Menurutnya, penilaian Presiden tersebut perlu menjadi bagian dari pertimbangan dalam melihat kinerja Menteri ESDM.

“Dan yang paling spektakuler, saya kira ya, kita juga masih ingat apalagi teman-teman insan media ya, masih melihat bagaimana seorang Presiden misalkan, ya, memberikan penilaian kepada Bung Bahlil,” jelasnya

Idrus turut menyoroti aktivitas Bahlil dalam menjalankan tugasnya, mulai dari kunjungan ke berbagai daerah hingga mendampingi Presiden dalam perjalanan ke luar negeri untuk melakukan lobi terkait sektor energi.

“Ya, kalau di Indonesia ini dari di dari desa ke desa dan lain-lain sebagainya dan juga perjalanan ke luar negeri bersama dengan Presiden melakukan lobi-lobi ya, terkait dengan dengan eh minyak misalkan dan lain-lain sebagainya, ini dilakukan semua dan ada hasil yang dicapai.”

Idrus berharap penilaian terhadap kinerja menteri dilakukan secara proporsional dengan mempertimbangkan berbagai indikator dan fakta yang tersedia. Ia menegaskan, perbedaan hasil evaluasi dari sejumlah lembaga menjadi alasan penting untuk melihat penilaian tersebut secara lebih menyeluruh.

Sebelumnya, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menggelar survei kinerja menteri di Pemerintahan Prabowo Subianto. Hasilnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Menteri HAM Natalius Pigai jadi menteri dengan kinerja terburuk.

Survei digelar pada 15 September hingga 9 Oktober 2026. Responden survei terdiri dari para ahli di bidangnya dan masyarakat umum dengan jumlah responden 1.142 orang.

Metodologi survei menggunakan metode analisis pemeringkatan kinerja kabinet. Pendekatan yang digunakan terpisah antara ahli dan masyarakat umum.

Survei terhadap masyarakat umum menggunakan pendekatan non-probability sampling melalui Meta Ads yang kemudian dilengkapi dengan pembobotan atau weighting. Sedangkan survey terhadap para ahli menggunakan snowball sampling untuk menjangkau responden dengan kehalian dan pengalaman yang relevan.

x|close