AS Tarik Pasukan dari Irak Setelah Lebih dari Dua Dekade

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 30 Sep 2026, 07:40
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat (Antara)

Ntvnews.id, Baghdad - Amerika Serikat (AS) akan menarik pasukannya dari pangkalan militer terakhir di Irak pada Rabu, 20 September 2026, setelah lebih dari 20 tahun berada di negara tersebut.

Dilansir dari AFP, Rabu, 30 September 2026, Penarikan pasukan dilakukan ketika konflik antara AS dan Iran masih berlangsung serta kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah semakin memanas.

Rencana tersebut diumumkan pemerintah AS melalui pernyataan resmi pada Minggu, 27 September 2026. Keputusan itu diambil setelah Komisi Militer Tinggi AS-Irak melakukan pembahasan intensif selama sembilan bulan terakhir.

"Setelah mempelajari dan mengevaluasi situasi militer dan keamanan di Irak dan kawasan tersebut, mengumumkan hal berikut: Pertama, menyelesaikan misi militer Koalisi di Irak selama dua belas bulan ke depan, dan paling lambat akhir September 2025," demikian pernyataan resmi AS.

Setelah misi tersebut berakhir, AS dan Irak akan memasuki tahap kemitraan keamanan bilateral. Kerja sama itu mencakup dukungan terhadap pasukan Iran serta upaya mempertahankan tekanan terhadap ISIS.

AS juga menyatakan bahwa untuk mengantisipasi ancaman ISIS yang berasal dari Suriah, mereka bersama personel militer Koalisi yang beroperasi di Suriah akan tetap menjalankan misi hingga September 2026.

AS pertama kali menginvasi Irak pada 2003 dengan tujuan menggulingkan Saddam Hussein. Setelah itu, Washington menduduki Irak, membentuk pemerintahan yang didominasi kelompok Syiah, serta menghadapi pemberontakan selama bertahun-tahun sebelum menarik seluruh pasukannya pada akhir 2011.

Baca Juga: SPBU di Sukabumi Kebakaran, Gara-gara Beli Bensin Pakai Jerigen

Namun, kurang dari tiga tahun kemudian, pasukan AS kembali ke Irak dengan alasan membantu pemerintah setempat menghadapi ISIS. Misi tersebut berlangsung sejak 2014 hingga 2017.

Rencana penarikan pasukan kali ini mendapat sambutan dari sejumlah pejabat Iran. Langkah tersebut juga dipandang sebagai simbol kemenangan bagi poros perlawanan yang didukung Teheran dan terdiri atas sejumlah kelompok milisi di kawasan.

"Iran menyambut baik penarikan pasukan di Iran pasti akan mendukungnya," kata Wakil Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Amir Hayat Moqaddam, dikutip Reuters.

"Keamanan yang langgeng akan terwujud di Irak," imbuh dia.

Sementara itu, komandan Perlawanan Islam di Irak, Abu Mojtaba Al Yasiri, menyebut keputusan AS tersebut sebagai kekalahan bagi Washington.

"Ini kemenangan bersejarah bagi kelompok Islamic Resistence (Perlawanan Islam) Irak dan warga Irak yang terhormat, dan kekalahan telak bagi proyek Amerika," kata dia.

Yasiri lalu berujar, "Pada tanggal 30 September, kita akan merayakan berakhirnya babak kelam dalam sejarah Irak dan kegagalan pendudukan untuk memaksakan kehendaknya di negara kita."

Menurut Yasiri, Irak telah menunjukkan bahwa kedaulatan negara tidak dapat bergantung pada kekuatan asing, melainkan harus dijaga melalui perlawanan dan kehendak rakyat.

x|close