Ntvnews.id, Jakarta - Wakil Ketua Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik Idrus Marham menilai Presiden Prabowo Subianto merupakan sosok pemimpin yang konsisten dalam menyatukan berbagai kekuatan politik demi kepentingan bangsa dan negara.
Pernyataan tersebut disampaikan Idrus saat merespons pidato Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang menyinggung kemampuan Prabowo menyatukan berbagai warna partai politik dalam sistem demokrasi.
Idrus mengatakan dirinya memiliki pengalaman langsung dalam melihat kepemimpinan Prabowo. Ia mengaku pernah menjadi Ketua Koalisi Merah Putih yang mengusung Prabowo pada Pemilu 2014.
"Jadi saya kira begini ya. Kalau memang saya pernah menjadi Ketua Koalisi Pak Prabowo pada tahun 2014, Koalisi Merah Putih ketika itu saya ketuanya. Jadi Sekjennya ketika itu adalah Fahri Hamzah dan wakil saya adalah Fadli Zon. Saya mempelajari betul ya bahwa bagaimana Pak Prabowo sebagai seorang pemimpin," ujar Idrus.
Menurut Idrus, karakter kepemimpinan Prabowo terlihat dari sikapnya yang konsisten dalam membangun persatuan. Ia mencontohkan sikap Prabowo setelah ditetapkan sebagai presiden terpilih pada 2024.
"Oleh karena itu, dan beliau adalah sangat konsisten, kita lihat misalkan segera setelah ditetapkan sebagai presiden terpilih 2024, kalau enggak salah 24 atau 25 Mei ketika itu, pidato pertama Pak Prabowo yang disampaikan adalah menggugah kesadaran kita dalam berbangsa dan di dalam berideologi," jelasnya.
Baca Juga: MBG Kuras Anggaran Pendidikan Rp223 Triliun? Ansy Lema: Menteri Kita Nggak Jujur!
Idrus menyebut Prabowo sejak awal telah mengingatkan bahwa Indonesia merupakan rumah bersama yang harus dirawat oleh seluruh elemen bangsa. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila menjadi landasan dalam menjaga rumah besar tersebut.
"Ya, Pak Prabowo langsung mengingatkan ketika itu bahwa Indonesia ini adalah rumah besar kita. Nah, rumah besar kita ini perlu kita rawat bersama-sama. Nah, untuk merawat rumah besar ini dasarnya adalah ya diinspirasi nilai-nilai ideologi dan falsafah Pancasila," paparnya.
Ia menilai ajakan Prabowo untuk membangun kebersamaan tidak hanya ditujukan kepada partai yang menjadi pendukungnya. Prabowo, kata Idrus, juga membuka komunikasi dengan partai-partai yang sebelumnya menjadi kompetitor politik pada Pilpres 2024.
"Nah, oleh karena itu maka tanggung jawab kita untuk merawat bangsa ini, maka Pak Prabowo kan mengajak semua ketika itu. Bukan hanya partai-partai, di samping Pak Prabowo melakukan safari politik, mengajak kepada partai-partai yang pada tahun 2024 kompetitornya misalkan, sebutlah misalkan mengunjungi Pak Surya Paloh, mengunjungi Muhaimin, mengunjungi Pak Ibu Megawati, dan partai-partai lain diajak, 'Ayo masuk barang-barang," imbuhnya.
Menurut Idrus, langkah tersebut menunjukkan filosofi Prabowo bahwa Indonesia merupakan rumah bersama yang harus dirawat tanpa memandang posisi politik masing-masing.
"Nah, itu dasarnya apa? Memang filosofinya, Indonesia ini adalah rumah kita bersama, harus dirawat bersama, apa pun posisi dan peran kita. Nah, tentu kalau misalkan sudah diajak tidak mau ikut, Pak Prabowo yang memiliki tanggung jawab dengan patriotisme yang sangat tinggi, tentu akan jalan. Ya kan? Jalan. Tapi yang penting sudah diajak, ini juga yang penting," ujar Waketum Golkar tersebut.
Idrus juga menilai berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo diarahkan untuk kepentingan masyarakat. Ia menyebut sejumlah program seperti penguatan koperasi, UMKM, kemandirian energi dan pangan, serta hilirisasi sebagai bagian dari upaya melibatkan masyarakat dalam pembangunan.
"Nah, itulah langkah-langkah yang dilakukan oleh Pak Prabowo di dalam memimpin bangsa ini," katanya.
"Nah, oleh karena itu maka kebijakan-kebijakan yang diambil semua juga orientasinya pada rakyat, ya sesuai dengan Asta Cita-nya itu. Kemudian mengajak semua pihak masuk, menghidupkan kembali misalkan bagaimana koperasi dengan itu, dengan kemudian UMKM, kemudian kemandirian misalkan kemandirian energi, pangan, hilirisasi yang mendorong bagaimana rakyat ini akan terlibat di dalam proses pembangunan, ini kan semua dilakukan oleh Pak Prabowo," imbuhnya.
Idrus Marham: Prabowo Konsisten Satukan Berbagai Warna Politik untuk Indonesia* (NTVnews)
Namun, Idrus menyayangkan munculnya berbagai kritik terhadap pemerintahan Prabowo yang menurutnya cenderung melihat kebijakan pemerintah dari sisi negatif. Ia berharap masyarakat tetap mengedepankan pendidikan kebangsaan dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling memusuhi.
"Nah, oleh karena itu, dengan niat dasar ya seperti itu yang dilakukan oleh Pak Prabowo, memang kami juga sangat sesalkan akhir-akhir ini kok berkembang ya, yang ya saya kira ini perlu ini, perlu ada pendidikan kebangsaan barangkali ya," ungkap Idrus.
Idrus meminta masyarakat yang tidak dapat berkontribusi secara langsung terhadap pemerintahan setidaknya tidak mengambil sikap yang berujung pada permusuhan.
"Saya kira cobalah kita sebagai wujud kalau kita tidak bisa berbuat ya paling tidak kita tidak memusuhi," jelasnya.
Idrus kemudian menyinggung polemik buku "Islam Ala Prabowo". Ia mengungkapkan dirinya merupakan salah satu kontributor buku tersebut dan menilai tidak ada substansi yang keliru dalam buku yang menggambarkan sosok Prabowo sebagai seorang muslim.
"Coba bayangkan lagi, buku ya Islam Ala Prabowo pun dipersoalkan. Ya kebetulan saya termasuk salah seorang kontributor dalam buku itu, dan saya kira buku itu ratusan halaman dan yang paling banyak tulisannya saya, ada kurang lebih 52 atau 62 halaman saya tulis di situ," ujar Idrus.
"Nah, saya katakan apanya yang salah dalam buku itu? Kalau misal dilihat dari substansinya, itu tidak ada yang salah karena judul itu, Islam Ala Prabowo, itu kita ingin menggambarkan bagaimana Prabowo seorang muslim yang mengamalkan ajaran agama Islam. Itu lho, bagaimana mengamalkan ajaran Islam," sambung Idrus.
Idrus menjelaskan bahwa dalam tulisannya, ia menggambarkan bagaimana Prabowo menjalankan ajaran Islam meski bukan berasal dari kalangan santri.
"Nah, di dalam tulisan saya, saya katakan begini. Bahwa meskipun Prabowo bukan santri, tetapi Pak Prabowo di dalam mengamalkan ya ajaran Islam itu betul-betul mencerminkan ruhul Islam dalam beberapa aspek semuanya kan gitu," ungkap Pria Kelahiran Sulawesi Selatan itu.
Ia menilai tidak tepat jika Prabowo dituntut menjalankan praktik keislaman dengan ukuran yang sama seperti seorang santri. Menurut Idrus, latar belakang dan lingkungan kehidupan seseorang juga perlu diperhatikan ketika menilai tingkat keimanannya.
"Jadi, Nah, karena itu karena Pak Prabowo bukan santri, sangat keliru kalau kita mau menuntut Pak Prabowo mengamalkan Islam sama dengan santri. Kalau ada mengatakan Pak Prabowo bagaimana baca Al-Qur'an, bagaimana ini, ya itu bukan santri dia, enggak paham," ujarnya.
Idrus bahkan menilai tantangan Prabowo dalam mempertahankan konsistensi sebagai seorang muslim cukup besar karena hidup dalam lingkungan keluarga yang majemuk dan memiliki pergaulan yang luas.
"Saya ingin mengatakan bahwa tantangan Pak Prabowo di dalam konsistensi sebagai muslim itu jauh lebih besar daripada kita-kita. Kenapa? Pak Prabowo hidup di tengah-tengah kemajemukan agama dalam keluarga. Ya mungkin yang lain itu seragam, Islam semua, tradisi. Tapi dia tidak itu. Dan pergaulannya ke mana-mana, bebas kadang-kadang. Ini," jelasnya.
Karena itu, Idrus berpandangan bahwa ukuran keimanan seseorang tidak semata-mata dapat dilihat dari latar belakang pendidikan agama, tetapi juga dari bagaimana seseorang menghadapi tantangan dalam kehidupannya.
"Jadi, karena tantangannya jauh lebih besar, ya jauh lebih besar dan tetap mengamalkan Islam dan bahkan tidak terpengaruh dan lain-lain sebagainya, saya ingin mengatakan bahwa tingkat keimanan boleh jadi jauh lebih kuat daripada kita-kita yang santri yang paham itu. Nah, itu saya tulis dalam buku saya gitu lho, dan dan saya katakan," jelas Idrus.
Idrus menegaskan kembali bahwa judul "Islam Ala Prabowo" seharusnya dipahami sesuai konteks pembuatannya, bukan ditafsirkan secara berbeda dari maksud para penulis.
"Nah, oleh karena itu kalau ada mempermasalahkan substansinya, sekali lagi bahwa judulnya saya kira bukan salah, tetapi maknanya ja- jangan ditafsirkan lain daripada yang membuat itu. Bahwa kita ingin menggambarkan bagaimana pandangan kita melihat Pak Prabowo di dalam mengamalkan ajaran agama Islam yang diyakini kebenarannya," katanya.
Ia juga mempertanyakan alasan buku tersebut kembali dipersoalkan, termasuk ketika Prabowo menyatakan identitasnya sebagai warga Nahdlatul Ulama (NU) dalam suasana Muktamar NU.
"Itu, itu yang kita inginkan. Nah, juga ada buku-buku misalkan Islam Ala Ala Ki Hajar Dewantara misalkan, ada macam-macam tuh buku tuh. Nah, kenapa Pak Prabowo ini dipersoalkan? Dan kenapa lagi misalkan dipersoalkan ketika ya suasana masih muktamar NU dan Pak Prabowo mengatakan di situ ya bahwa menyatakan identitasnya sebagai warga NU dan ditandai penyerahan ya kartu anggota NU, Kartanu itu," papar Idrus.
Idrus menilai persoalan tersebut semestinya tidak dibesar-besarkan karena buku Islam Ala Prabowo telah diterbitkan sejak 2025.
"Jadi kenapa sekarang dipersoalkan padahal buku ini tahun 2025 sudah di, di, di apa dan lain-lain sebagainya gitu lho," katanya.
"Nah, ini ini ini saya kira yang apa yang perlu saya tanggapi dan itu tidak ada yang salah. Nah kalau penulisannya ada yang mengatakan," pungkasnya.
Wakil Ketua Partai Golkar Bidang Kebijakan Publik Idrus Marham (NTVnews)