WMO Peringatkan Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Ancam Kualitas Udara Global

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Sep 2026, 12:25
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Editor
Bagikan
Orang-orang yang memegang payung berusaha melindungi diri dari terik matahari di dekat Menara Eiffel yang ikonik di Paris, Prancis, pada 2 Juli 2025. Negara-negara Eropa seperti Prancis, Spanyol, dan Italia pada hari Rabu terus dilanda gelombang panas yang memecahkan rekor, menghadapi suhu ekstrem, badai, kebakaran, bahkan kematian. Orang-orang yang memegang payung berusaha melindungi diri dari terik matahari di dekat Menara Eiffel yang ikonik di Paris, Prancis, pada 2 Juli 2025. Negara-negara Eropa seperti Prancis, Spanyol, dan Italia pada hari Rabu terus dilanda gelombang panas yang memecahkan rekor, menghadapi suhu ekstrem, badai, kebakaran, bahkan kematian. (Antara)

Ntvnews.id, Jenewa - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan dampak kebakaran hutan dan gelombang panas yang semakin parah terhadap kualitas udara dunia. Kondisi tersebut dinilai dapat menyulitkan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas udara sekaligus menjaga kesehatan manusia dan kelestarian ekosistem.

Peringatan tersebut disampaikan WMO dalam Buletin Kualitas Udara dan Iklim tahunannya. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menekankan adanya hubungan yang kuat antara perubahan iklim dan polusi udara sehingga diperlukan kebijakan yang dapat menangani kedua persoalan tersebut secara bersamaan.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa kejadian asap akibat kebakaran ekstrem telah meningkat hingga tiga kali lipat secara global sejak dekade 1990-an. WMO juga mengacu pada sebuah studi yang memperkirakan kondisi tersebut berkaitan dengan hampir 100.000 kematian tambahan setiap tahun selama periode 2010 hingga 2018.

WMO turut menilai metode konvensional dalam menghitung risiko dapat menyebabkan jumlah kematian akibat kebakaran hutan terestimasi jauh lebih rendah. Kekurangan tersebut diperkirakan mencapai 93 persen karena metode yang digunakan belum sepenuhnya mempertimbangkan tingginya tingkat toksisitas partikel halus atau PM2.5 yang berasal dari kebakaran.

Baca JugaWMO Peringatkan Peluang Kuat El Nino Kembali, Indonesia Berpotensi Hadapi Cuaca Lebih Kering

"Memenuhi pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan menjadi semakin sulit, mengingat cuaca ekstrem yang memicu kebakaran diperkirakan akan meningkat di masa depan," menurut buletin tersebut.

Selain kebakaran hutan, peningkatan suhu juga disebut memperburuk pencemaran ozon di permukaan tanah. Suhu tinggi yang disertai kondisi udara yang stagnan serta paparan sinar matahari yang kuat dapat mempercepat proses pembentukan ozon di dekat permukaan bumi.

Menurut WMO, ancaman kesehatan akibat paparan ozon diperkirakan turut mengalami peningkatan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan tambahan kematian dini hingga mencapai puluhan ribu kasus.

Baca JugaWMO: Tahun 2025 Jadi Salah Satu Tahun Terpanas Sepanjang Sejarah

Buletin tahunan tersebut juga mendorong penguatan sistem pemantauan terhadap sejumlah jenis polutan di atmosfer. Beberapa di antaranya adalah karbon hitam dan mikroplastik yang berada di udara.

(Sumber: Antara)

x|close