Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Indonesia melakukan langkah terobosan dalam upaya revitalisasi dan pengembangan kawasan transmigrasi di seluruh penjuru negeri. Tidak tanggung-tanggung, sebanyak 39 profesor dari berbagai disiplin ilmu diterjunkan langsung ke lapangan untuk memetakan dan menggali potensi ekonomi di wilayah-wilayah tersebut.
Langkah strategis ini ditandai dengan pelepasan 39 profesor yang bersinergi dengan 1.476 peserta Ekspedisi Patriot 2026. Mereka akan disebar ke 53 kawasan transmigrasi dengan misi utama mengidentifikasi potensi lokal serta merumuskan model pembangunan yang paling sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah.
Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans), Viva Yoga Mauladi, menegaskan bahwa keterlibatan kaum intelektual dan akademisi merupakan komitmen pemerintah untuk mengubah wajah transmigrasi. Menurutnya, era pembangunan yang sekadar berjalan tanpa landasan data yang kuat harus ditinggalkan.
"Kita ingin membangun kawasan transmigrasi dengan ilmu pengetahuan," ujar Viva Yoga, 11 Agustus 2026.
Viva menjelaskan bahwa kehadiran para profesor dan peserta ekspedisi tidak hanya untuk melakukan peninjauan formal, tetapi untuk memperkaya perspektif pemerintah. Data dan temuan dari lapangan nantinya akan menjadi fondasi bagi pemerintah dalam menentukan arah kebijakan pengembangan wilayah yang lebih akurat.
Salah satu poin krusial dalam misi ini adalah pengakuan terhadap keberagaman kondisi geografis, sosial, dan budaya di setiap kawasan transmigrasi. Pemerintah menyadari bahwa setiap wilayah memiliki tantangan dan sumber daya yang berbeda, sehingga tidak bisa diterapkan satu kebijakan yang sama untuk semua.
"Kondisi ekonomi, sosial, budaya, serta potensi sumber daya di setiap kawasan itu berbeda-beda. Karena itu, di lapangan kita bisa memberikan banyak perspektif dan alternatif terhadap model-model yang akan dikembangkan," tambah Viva.
Dengan riset mendalam dari para akademisi, pemerintah berharap dapat melahirkan model pembangunan yang spesifik. Misalnya, pengembangan ekonomi berbasis produk unggulan daerah yang mampu menghubungkan potensi lokal langsung ke rantai pasok industri.
Dalam menyusun strategi ini, Viva Yoga menyebut bahwa pemerintah juga membuka mata terhadap keberhasilan negara lain. Pengalaman pembangunan wilayah dan pengentasan kemiskinan di China menjadi salah satu bahan pembanding yang dipelajari.
Pemerintah ingin melihat bagaimana model pembangunan di sana mampu mengintegrasikan potensi desa atau kawasan terpencil dengan pertumbuhan ekonomi nasional dan skala industri besar.
"Model pembangunan yang mampu menghubungkan potensi lokal dengan pengembangan ekonomi hingga industri di kawasan menjadi perhatian utama kami," pungkasnya.
Program Ekspedisi Patriot 2026 ini diharapkan menjadi titik balik bagi kawasan transmigrasi di Indonesia agar tidak lagi dipandang sebagai kawasan marginal, melainkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri dan berbasis pengetahuan.
Wakil Menteri (Wamen) Transmigrasi Viva Yoga Mauladi.