Kemenhut Sebut Operasi Modifikasi Cuaca Belum Memungkinkan untuk Atasi Karhutla Bromo

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 10 Agu 2026, 16:25
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko di Taman Wisata Alam (TWA) Angke, Jakarta, Senin (10/8/2026 Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko di Taman Wisata Alam (TWA) Angke, Jakarta, Senin (10/8/2026 (Antara)


Ntvnews.id, Bromo - Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengamuk di kawasan Gunung Bromo, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, membentur kendala alam. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengonfirmasi bahwa penerapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum bisa dieksekusi hingga saat ini.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko, mengungkapkan bahwa hambatan utama siratnya hujan buatan tersebut dipicu oleh tiadanya awan konvektif di atas wilayah Bromo.

"Sebenarnya kita sudah berpikir untuk melakukan modifikasi cuaca, tetapi menurut BMKG paling tidak sampai 10 hari ke depan belum mungkin dilakukan karena awan konveksinya belum terbentuk untuk membuat OMC," ujar Satyawan di Taman Wisata Alam Angke, Jakarta, Senin, 10 Agustus 2026.

OMC sendiri merupakan strategi penyemaian garam (NaCl) ke dalam gumpalan awan potensial menggunakan pesawat khusus. Operasi berbasis riset ilmiah ini biasanya melibatkan kolaborasi erat antara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta TNI Angkatan Udara.
 
 
Kebakaran di kawasan TNBTS dilaporkan telah berkobar sejak Selasa, 4 Agustus 2026!dan hingga kini titik api belum dapat dipadamkan secara menyeluruh. Catatan Balai Besar TNBTS menunjukkan bahwa estimasi luas area yang terhanguskan telah menembus angka 520 hektare, sementara pendataan detail masih terus bergulir.

Mengingat perbukitan terjal yang sangat menyulitkan pergerakan tim darat, Kemenhut mengombinasikan strategi pemadaman dari darat dan udara lewat water bombing.

"Pendekatannya kita kombinasi antara pasukan darat dan water bombing. Kemarin saja sudah ada 30 kali pengeboman air. Namun medan yang sulit, angin kencang, dan kelembapan udara yang sangat rendah membuat upaya pemadaman tidak mudah," terang Satyawan.

Ganasnya embusan angin serta rendahnya kelembapan udara di lokasi kejadian terus menjadi tantangan utama bagi petugas gabungan dalam menjinakkan si jago merah.
 
 
(Sumber: Antara)
 

 

HIGHLIGHT

x|close