Ntvnews.id,Istanbul - Hizbullah meminta pemerintah Lebanon menghentikan proses perundingan langsung dengan Israel menyusul penerbitan peta oleh Kementerian Luar Negeri Israel yang memasukkan sebagian besar wilayah Lebanon selatan ke dalam wilayah Israel.
Kelompok tersebut menilai penerbitan peta itu menunjukkan adanya ambisi Israel untuk menguasai wilayah serta sumber daya Lebanon. Hizbullah juga menuduh Israel berupaya membentuk kondisi baru di lapangan.
Peta yang dimaksud dipublikasikan pada Jumat melalui akun berbahasa Arab Kementerian Luar Negeri Israel di platform media sosial X. Dalam peta tersebut, wilayah yang luas di Lebanon selatan digambarkan sebagai bagian dari Israel.
Hizbullah menilai tindakan tersebut dapat menghambat proses diplomasi yang tengah berlangsung. Kelompok itu juga menuduh Israel menggunakan perundingan langsung sebagai cara untuk mengulur waktu sembari memperkuat keberadaannya di wilayah Lebanon.
Karena itu, Hizbullah meminta pemerintah Lebanon menghentikan perundingan secara langsung dengan Israel serta segera menyampaikan pengaduan kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Baca Juga: Bankir Lebanon Diselidiki usai Foto Bersama Netanyahu Beredar
Selain itu, Hizbullah menyerukan Dewan Pertahanan Tinggi Lebanon untuk segera menggelar pertemuan darurat. Kelompok tersebut juga meminta adanya langkah bersama untuk menjaga kedaulatan, wilayah, serta sumber daya Lebanon.
Desakan tersebut disampaikan setelah delegasi Lebanon dan Israel menyelesaikan putaran ketujuh perundingan yang berlangsung di Roma, Italia, pada Kamis dengan mediasi Amerika Serikat.
Agenda perundingan membahas penerapan kerangka kesepakatan yang sebelumnya dicapai oleh kedua pihak pada 26 Juni.
Sampai Minggu malam, pemerintah Lebanon belum menyampaikan pernyataan resmi mengenai peta yang diterbitkan Israel. Pemerintah Beirut selama ini secara konsisten meminta Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah Lebanon selatan.
Di tengah proses perundingan, aktivitas militer Israel di Lebanon selatan masih berlangsung sejak 2 Maret. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Lebanon, serangkaian serangan tersebut telah menyebabkan 4.333 orang meninggal dunia dan 12.250 lainnya mengalami luka-luka.
Baca Juga: Menlu AS Puji Langkah Lebanon, Ada Apa?
Israel juga masih menguasai sejumlah titik di Lebanon selatan. Beberapa di antaranya merupakan wilayah yang telah diduduki selama puluhan tahun, sementara lainnya direbut dalam konflik yang berlangsung pada 2023-2024.
Dalam perkembangan terbaru, pasukan Israel dilaporkan telah bergerak hingga lebih dari 10 kilometer memasuki wilayah Lebanon.
(Sumber: Antara)
Asap membubung setelah pasukan Israel menghancurkan sejumlah bangunan menggunakan bahan peledak di kota Kfar Tebnit, Kegubernuran Nabatieh, Lebanon, pada 23 Juli 2026 - meskipun gencatan senjata sedang berlaku. Ledakan tersebut menyebabkan kerusakan luas di seluruh wilayah itu (Antara)