Antisipasi Kemarau akibat El Nino, BMKG Lakukan Modifikasi Cuaca di Wilayah Vital

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 4 Agu 2026, 16:03
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Petugas memasukan bahan semai Natrium Klorida (NaCI) kedalam pesawat Cessna 208B Grand Caravan Ex di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (2/8/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah dengan menabur bahan semai Natrium Klorida (NaCI) sebanyak satu ton untuk merekayasa peluang terjadinya hujan dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah Petugas memasukan bahan semai Natrium Klorida (NaCI) kedalam pesawat Cessna 208B Grand Caravan Ex di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (2/8/2026). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melakukan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah dengan menabur bahan semai Natrium Klorida (NaCI) sebanyak satu ton untuk merekayasa peluang terjadinya hujan dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai wilayah Indonesia. Langkah strategis ini ditempuh guna menjaga ketersediaan cadangan air nasional sekaligus mengantisipasi dampak kemarau yang berjalan berdampingan dengan fenomena El Nino.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto memaparkan, penurunan intensitas hujan akibat El Nino berisiko menggerus pasokan air yang masuk ke waduk-waduk vital. Padahal, penampungan air tersebut memegang peranan krusial untuk menopang kebutuhan air baku, irigasi pertanian, hingga operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

"Oleh karena itu BMKG bekerja sama dengan para pemangku kepentingan, pengelola waduk, Kementerian Pekerjaan Umum, dan sebagainya melaksanakan operasi modifikasi cuaca untuk menambah pasokan air waduk," kata Tri usai menghadiri Dialog Nasional Dampak El Nino di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.

Tri mengungkapkan, operasi penyemaian awan tersebut telah menjangkau sejumlah wilayah strategis penopang pasokan air dan energi, seperti kawasan tangkapan air Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Poso di Sulawesi Tengah.

Baca juga: BMKG Catat 5.019 Titik Panas, Kenaikannya Melampaui El Nino 2015

"Saat ini kami sedang melaksanakan operasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Jawa Barat, supaya pasokan energi, air, dan pertanian bisa terjaga dengan baik," ujarnya.

Selain mengamankan pasokan air, modifikasi cuaca difungsikan sebagai benteng mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Minimnya curah hujan memicu penurunan drastis pasokan air ke kubah-kubah gambut, sementara penguapan terus terjadi sehingga lahan gambut menjadi sangat kering dan rapuh terhadap ancaman api.

"Untuk mitigasi itu juga dilakukan operasi modifikasi cuaca dengan metode pembasahan lahan-lahan gambut supaya gambut tetap basah, sehingga sulit dibakar, apalagi terbakar," katanya.

Rangkaian aksi mitigasi ini merupakan tindak lanjut dari instruksi Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas bersama jajaran Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026. Presiden secara khusus mengarahkan jajarannya untuk menjamin ketersediaan air bersih serta memperketat pencegahan karhutla.

Baca juga: Polri Siagakan Puluhan Ribu Personel Antisipasi El Nino dan Karhutla

Merespons arahan tersebut, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan komitmen lembaganya untuk memperkuat dukungan teknis di lapangan. Dikutip dari keterangan Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden (BPMI Setpres), Faisal menyebutkan terdapat enam provinsi prioritas yang menjadi fokus utama OMC pencegahan karhutla, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

Berdasarkan analisis BMKG, fenomena El Nino yang mulai aktif sejak Juni 2026 kini telah memasuki fase kuat dan berpeluang meningkat ke kategori sangat kuat. Fenomena iklim ini diproyeksikan bertahan selama 9 hingga 12 bulan atau hingga Mei 2027. Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti Indonesia akan diterpa kemarau tanpa henti sepanjang periode El Nino.

Ancaman kekeringan diprediksi mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026 akibat curah hujan yang berada di kategori rendah hingga sangat rendah. Sementara itu, memasuki pertengahan Oktober 2026, musim hujan diperkirakan mulai datang sehingga secara bertahap menekan dampak El Nino terhadap pola curah hujan di tanah air.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close