Ayah Ideal Tak Hanya Hadir di Rumah, Kemendukbangga Soroti Peran Psikologis

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 31 Jul 2026, 19:41
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono (tengah) dalam diskusi bersama media di Jakarta pada Kamis (30/7/2026). Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono (tengah) dalam diskusi bersama media di Jakarta pada Kamis (30/7/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menegaskan bahwa sosok ayah ideal adalah ayah yang hadir secara fisik sekaligus psikologis dalam kehidupan keluarga. Kehadiran tersebut dinilai berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Budi Setiyono mengatakan, dalam perspektif pembangunan keluarga, kehadiran ayah secara fisik dan psikologis sangat menentukan perkembangan anak. Berdasarkan pendataan keluarga, saat ini sebanyak 25,8 persen anak kehilangan peran ayah atau fatherless.

"Jadi yang dimaksud peran ayah yang baik itu paling tidak mereka harus hadir secara fisik. Memang ada di rumah, tidak terus-menerus berada di luar, dan secara reguler bisa merangkul anak, memeluk anak. Pelukan terhadap anak itu juga memberikan dampak yang besar. Kemudian secara psikologis, juga terlibat dalam pengasuhan, memantau perkembangan akademik, pergaulan anak, memantau cara anak berkomunikasi, bersosialisasi dengan orang lain, dan seterusnya," kata Budi di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.

Baca juga: Kemendukbangga Gandeng USU Perkuat Riset Kependudukan Berbasis Bukti

Budi mengungkapkan, sejumlah kajian menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat antara kondisi fatherless dengan pencapaian prestasi akademik anak. Berangkat dari kondisi tersebut, Kemendukbangga/BKKBN menghadirkan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (Gemar) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak ke Sekolah (Gamas) sebagai upaya membangun kedekatan antara ayah dan anak.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Kebijakan Strategi Pembangunan Keluarga, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Ukik Kusuma Kurniawan, menilai keluarga membutuhkan figur ayah yang memahami peran dalam keluarga, terutama dalam membangun komunikasi.

"Misalnya kalau kita mencari calon suami, carilah yang bisa berkomunikasi dan memiliki pola pikir menghormati perempuan. Sepanjang bisa dikomunikasikan, peran itu bisa saling bertukar. Bisa saja perempuan yang bekerja, kemudian laki-laki yang mengurus anak di rumah, sesuai dengan berbagai kondisi dan pertimbangan, itu adalah kuncinya, yaitu komunikasi," ujar Ukik.

Selain itu, Ukik menekankan bahwa ayah juga harus mampu mendisiplinkan anak tanpa menggunakan kekerasan atau hukuman fisik.

Baca juga: Angkat Drama Ayah-Anak Soal Fenomena Tarkam, Film 'Bapakmu Kiper' Bakal Tayang 3 September

"Di sini pihak suami atau ayah wajib mengerti. Kita sering berpikir bahwa hukuman itu mendisiplinkan, tetapi hukuman seperti apa? Hukuman yang bersifat fisik dan membuat anak takut ternyata tidak memberikan pengaruh yang baik, bahkan ketika ayah pergi, bisa saja kemudian ibunya yang melampiaskan kemarahan kepada anak. Jadi intinya, pola pengasuhan itu dimulai dari komunikasi yang baik," ujarnya.

Menurut Ukik, keluarga ideal adalah keluarga yang mampu menciptakan kesetaraan dalam pengasuhan. Dalam kondisi tersebut, ayah dan ibu dapat saling bertukar peran sesuai kebutuhan melalui komunikasi yang dibangun secara adil.

(Sumber: Antara)

HIGHLIGHT

x|close