Ntvnews.id, Jakarta - Angkat Drama Ayah-Anak Soal Fenomena Tarkam, Film 'Bapakmu Kiper' Bakal Tayang 3 September Industri perfilman Tanah Air kembali menyuguhkan tema yang segar dan dekat dengan masyarakat. Film terbaru bertajuk Bapakmu Kiper resmi mengumumkan tanggal penayangannya pada 3 September mendatang di seluruh bioskop.
Bukan sekadar drama biasa, film ini menggabungkan hangatnya hubungan keluarga dengan militansi dunia sepak bola, khususnya fenomena tarkam (antar kampung) yang ikonik di Indonesia.
Eksekutif Produser, Garnet Geraldine, mengungkapkan bahwa alasan utama penggarapan film ini adalah besarnya antusiasme masyarakat Indonesia terhadap sepak bola yang belum banyak direpresentasikan secara mendalam di layar lebar.
"Kita udah melakukan banyak riset. Yang pertama itu, Indonesia adalah negara yang mempunyai fanbase bola, salah satu negara yang mempunyai fanbase bola yang terbesar dan militan. Kalau mau lihat dari segi urutannya, nomor satu itu Argentina, kedua Brazil, ketiga itu antara India atau China, dan keempat itu Indonesia," ujar Garnet di Epicentrum, Selasa, 28 Juli 2026.
Ia menambahkan, jika selama ini angka penggemar bola di Indonesia sangatlah masif.
"Dari Indonesianya sendiri, sekitar 160 juta warga Indonesia yang suka bola. Itu tuh kalau dihitung-hitung 60 persen dari populasi Indonesia sendiri, gitu kan. Jadi kita melihat bahwa ini banyak banget orang yang belum begitu direpresentasikan di dalam dunia perfilman di Indonesia. Makanya kita dari Esi memberanikan diri untuk mengambil project ini karena kita berharap penonton-penonton bola ini kita bisa ajak ke bioskop untuk menonton film 'Bapakmu Kiper'," lanjutnya.
Senada dengan Garnet, Produser Arci Fadillah menyoroti kekuatan cerita yang berfokus pada hubungan maskulin antara ayah dan anak laki-lakinya.
"Untuk sebuah film, ini tema yang menarik ya, selain ayah dan anak yang udah pasti, cuman balutannya sepak bola yang udah fans-nya tadi kata Garnet udah gede banget di Indonesia," kata Arci.
"Yang pasti kalau udah hubungan ayah-anak tuh beda ya sama ibu sama anak. Ayah tuh pengen anaknya mencapai mimpi dengan segala cara. Nah, ini yang dicoba dikerjain sama ayah, semua ayah di film ini. Jadi ada beberapa ayah juga di film ini yang sangat suportif pada anaknya. Itu yang kita mau bawa sih."
Sutradara Ody Harahap atau yang akrab disapa Ocay, memilih latar sepak bola tarkam sebagai ruang penceritaan karena keunikan budayanya yang sangat lekat dengan masyarakat akar rumput.
"Maksudnya kalau yang di sini itu lebih ke ngebuletin drama bapak sama anak ini sih. Tapi ruang penceritaannya itu bola dan tarkam. Ini yang menarik buat gue karena tarkam. Karena kalau bola liga mungkin gue males. Ini justru tarkam gitu yang memang Indonesia banget, terus dengan apa ya, maksudnya mereka justru punya attitude-nya sendiri nih di tarkam itu gitu," jelas Ody.
Ody mengakui bahwa mengarahkan film olahraga memiliki tantangan tersendiri.
"Jadi treatment khusus ya emang ternyata susah ya syuting olahraga tuh gitu. Jadi emang bikin sakit kepala. Untungnya, untungnya nih geng si Srigala Sakti dan yang lain tuh support, jadi walaupun kadang ngeselin gitu bercanda mulu apa segala macem, cuma mereka sangat support dan nggak rewel gitu. Jadi bisa saling mengisi gitu." jelasnya
Ia juga mendapatkan banyak masukan dari Coach Agung untuk menggambarkan realita tarkam yang sesungguhnya. Ody bahkan terkejut dengan popularitas para pemain tarkam asli yang ikut terlibat
“Tarkam tuh emang sangat menarik ya untuk dibikin keseruannya sendiri dan komedinya sendiri karena ya itu, mereka punya budaya yang cukup beda gitu. Apalagi dapet bocoran dari nih Coach Agung gitu, gimana sih si tarkam itu gitu. Se-sebrutal apa, se-se-gimana sih kotornya mainnya, gitu-gitu. Itu itu yang bikin jadi seru dan itu yang bisa kita geser mainin ke komedi, bisa ke dramanya juga gitu. Jadi ruang itu justru membuka untuk ke feeling dari film ini.”
Aktor utama Fedi Nuril, yang memerankan karakter Warto, menyambut antusias peran ini. Ia bahkan sempat melontarkan candaan mengenai image langganan poligami yang melekat padanya.
"Senang banget, karena masih bisa merahasiakan kira-kira istri saya berapa di film ini. Pengalaman saya akhirnya bisa syuting sama Bang Ocay, seru banget. Komedinya lihat trailer-nya kan memang khas banget. Buat saya juga yang terpenting dari film ini adalah kata kuncinya maskulinitas. Karena menurut saya maskulinitas itu selalu jadi perdebatan dan selalu berubah-ubah. Bagaimana sih sebenarnya maskulinitas zaman sekaranglah setidaknya," tutur Fedi.
Fedi mengaku banyak belajar tentang peran orang tua melalui film ini.
"Ceritanya tentang hubungan bapak dan anak. Saya sendiri sudah menjadi bapak, ada kekhawatiran saya tidak dekat dengan anak saya nantinya. Karena kan biasanya anak laki-laki dekat sama ibu, anak perempuan dekat sama bapak. Tapi kan itu bukan berarti lepas tangan, kita harus tetap berusaha dekat dengan anak kita gitu. Dan itu yang saya ingin pelajari, ingin alami lewat karakter Warto. Tapi saya juga khawatir kalau saya segitu perhatian atau protektif sama anak laki-laki saya, saya ingin membantu dia mendapatkan cita-citanya, mungkin sampai menghalalkan segala cara. Gimana tahu batasan bahwa kita bimbing tapi biarkan anak kita itu membuat keputusan sendiri nantinya. Dan itu banyak dapat pelajaran di sini."
Selain drama, Fedi juga menikmati sisi unik budaya sepak bola tarkam yang ditampilkan.
"Sepak bola tarkam ini juga culture-nya beda banget ya sama sepak bola profesional. Punya keunikan sendiri seperti tadi kalau nge-gol disawer, ada mistis-mistisnya, percaya nggak percaya, tapi itu yang unik dan lucu kita buat jadi komedi juga di sini. Dan kembali lagi soal maskulinitas, sportivitas, bagaimana kita membentuk atau menilai bahwa betapa pentingnya untuk bisa main dengan jujur. Karena ketika kita menang dengan cara jujur, kita benar-benar akan bangga. Kalaupun kita kalah, mungkin menyakitkan tapi nurani kita bisa tetap menang."
Menariknya, peran sebagai kiper adalah hal baru bagi Fedi yang biasanya bermain sebagai bek. Namun, peran ini menyisakan kenang-kenangan fisik baginya.
"Hal baru? Ini benar-benar... saya dulu zaman sekolah dan kuliah saya kalau main bola jadi bek. Dulu sih sudah diminta jadi kiper sama teman-teman karena tinggi badan saya, cuma saya bilang enggak mau karena saya pengen ikut lebih dinamis lagi gerak, enggak diam di depan gawang saja,"
"Cuma karena di sini, film, akhirnya saya jadi kiper dan memang dapat pelatihan. Ada coach-nya yang latih saya, kurang lebih selama dua minggu sebelum syuting. Tapi selama syuting pun, sebelum syuting ada lagi latihan-latihannya. Dan salah satu kenang-kenangan yang enggak akan saya lupakan adalah jempol saya keplitek nahan tendangan King Polo," pungkasnya.
Cast film Bapakmu Kiper (NTVNews )