Thailand Tetapkan Darurat Militer di Narathiwat Pascaserangan Kelompok Bersenjata

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Jul 2026, 18:05
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Lokasi kejadian penembakan di Narathiwat, Thailand selatan Lokasi kejadian penembakan di Narathiwat, Thailand selatan (Antara)

Ntvnews.id,  Istanbul - Pemerintah Thailand resmi memberlakukan darurat militer di Provinsi Narathiwat, wilayah selatan negara itu, setelah serangan yang dilakukan kelompok pemberontak bersenjata terhadap sebuah pos keamanan menewaskan lima anggota paramiliter. Informasi tersebut dilaporkan oleh Thai PBS World.

Keputusan itu dikeluarkan pada Kamis oleh Komandan Pasukan Khusus Narathiwat, Mayjen Yod-Arwut Phuengpak, sebagai tindak lanjut atas serangan yang terjadi di kawasan Ra-ngae pada Rabu, 22 Juli 2026. Selain menewaskan lima personel paramiliter, insiden tersebut juga mengakibatkan enam warga sipil mengalami luka-luka.

Dalam aturan darurat militer tersebut, aparat keamanan memperoleh kewenangan untuk mendirikan pos pemeriksaan di sejumlah ruas jalan, melakukan penggeledahan terhadap kendaraan maupun rumah yang diduga berkaitan dengan aktivitas kelompok pemberontak, serta menahan individu yang dicurigai terlibat.

Selain itu, personel militer juga diizinkan menggunakan kekuatan apabila dinilai diperlukan dan dilakukan secara proporsional sesuai tingkat ancaman yang dihadapi.

Baca juga: Ribuan PNS Thailand Terancam Sanksi Usai Terlibat Dugaan Suap dalam Ujian

Di bawah kebijakan ini, pihak militer akan memegang tanggung jawab utama dalam menjaga keamanan serta ketertiban umum di Provinsi Narathiwat. Sementara itu, aparatur sipil negara dan pejabat pemerintah daerah yang menangani sektor keamanan akan berada di bawah komando otoritas militer.

Narathiwat merupakan salah satu dari empat provinsi di Thailand selatan yang memiliki mayoritas penduduk Muslim Melayu. Kawasan tersebut sebelumnya merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Patani.

Konflik yang berlangsung di wilayah itu berakar pada persoalan etnis dan budaya antara masyarakat Muslim Melayu di Thailand selatan dengan pemerintah pusat Thailand, yang menjadikan agama Buddha sebagai agama nasional secara de facto.

Kelompok pemberontak bersenjata pertama muncul pada dekade 1960-an setelah pemerintah militer Thailand saat itu berupaya melakukan intervensi terhadap sekolah-sekolah Islam. Pergerakan tersebut kemudian melemah pada dekade 1990-an.

Baca Juga: Bentrok Dengan Kamboja, Thailand Terapkan Darurat Militer dan Jam Malam

Memasuki tahun 2004, muncul kembali gerakan bersenjata baru yang menyatukan sejumlah kelompok pemberontak dalam organisasi bernama Barisan Revolusi Nasional (BRN).

Hingga kini, konflik di Thailand selatan masih menjadi salah satu insurgensi berintensitas rendah yang paling mematikan di dunia.

(Sumber: Antara)

x|close