AS Lirik Peluang Kerja Sama dengan Indonesia di Sektor Nuklir dan Jasa Keuangan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Jul 2026, 15:10
thumbnail-author
Annisa Aldifa Keyla
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat Ilustrasi - Bendera Amerika Serikat (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Korporasi Pembiayaan Pembangunan Internasional Amerika Serikat atau U.S. International Development Finance Corporation (DFC) melihat adanya peluang untuk memperluas kerja sama dengan Indonesia, terutama di bidang energi nuklir dan layanan jasa keuangan.

Kepala Bidang Kebijakan DFC, Caroline Vik, mengatakan peluang tersebut muncul setelah pihaknya melakukan pertemuan dengan sejumlah pelaku usaha di Indonesia.

“Pertemuan kami dengan pelaku sektor swasta (di Indonesia) mengungkapkan berbagai peluang menarik di bidang energi nuklir dan jasa keuangan,” kata Caroline Vik dalam konferensi pers virtual yang diikuti ANTARA dari Jakarta, Rabu, 8 Juli 2026.

Selain peluang bersama sektor swasta, Caroline menyampaikan bahwa pembahasan dengan pemerintah Indonesia juga membuka prospek kolaborasi di berbagai bidang lain. Menurutnya, kerja sama berpotensi dikembangkan pada sektor transportasi, pembangunan infrastruktur, pembangunan pelabuhan baru, hingga kegiatan pertambangan dan pengolahan mineral kritis.

Baca Juga: HUT ke-250 AS, Trump Ingatkan Ancaman Komunis terhadap Identitas Amerika

Ia menambahkan bahwa pembicaraan juga menyoroti upaya pemerintah Indonesia dalam memperkuat ketahanan energi nasional.

“Kami juga membahas mengenai fokus utama pemerintah dalam meningkatkan ketahanan energi melalui eksplorasi hulu (upstream) serta infrastruktur penyimpanan dan transportasi energi tingkat menengah (midstream),” ujarnya.

DFC merupakan lembaga keuangan pembangunan milik Pemerintah Amerika Serikat yang berperan sebagai salah satu instrumen utama dalam diplomasi ekonomi negara tersebut. Melalui lembaga ini, pemerintah AS menyalurkan pembiayaan kepada sektor swasta guna mendukung kebijakan luar negeri sekaligus pembangunan ekonomi strategis.

Seiring dengan perluasan kewenangan yang baru diberikan oleh Kongres Amerika Serikat, kapasitas investasi DFC meningkat signifikan dari 60 miliar dolar AS atau sekitar Rp1,08 kuadriliun menjadi 205 miliar dolar AS, setara sekitar Rp4,49 kuadriliun, berdasarkan kurs Rp17.984 per dolar AS pada Rabu, 8 Juli 2026.

Baca Juga: Warga Iran Gelar Aksi Protes, Tolak Kesepakatan Damai dengan Amerika Serikat

Sebelumnya, Caroline Vik melakukan kunjungan kerja ke sejumlah negara Asia Tenggara, yakni Manila, Hanoi, Phnom Penh, Vientiane, Kuala Lumpur, dan Jakarta, pada 19–25 Juni 2026.

Dalam rangkaian kunjungan tersebut, ia bertemu dengan pejabat pemerintah serta pelaku usaha untuk memperkuat kemitraan ekonomi strategis, meningkatkan keamanan ekonomi kawasan, sekaligus menjajaki peluang investasi di berbagai sektor prioritas. Bidang yang menjadi fokus meliputi energi, teknologi, mineral kritis, keamanan rantai pasok, farmasi, serta infrastruktur strategis dan digital.

(Sumber: Antara)

x|close