Trump Klaim AS Bisa Habisi Seluruh Pemimpin Iran dalam Satu Serangan Saat Pemakaman Khamenei

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 5 Jul 2026, 18:52
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu kontroversi setelah mengklaim bahwa Amerika Serikat memiliki kemampuan untuk menghabisi seluruh jajaran pemimpin Iran yang berkumpul dalam prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Namun, menurut Trump, opsi tersebut sengaja tidak dipilih karena dapat menghilangkan peluang negosiasi dengan Teheran.

Pernyataan itu disampaikan Trump ketika jutaan warga Iran memadati Teheran untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Dalam wawancara dengan Axios pada Sabtu (4/7), Trump menegaskan bahwa seluruh elite Iran berada di satu lokasi yang sama saat prosesi pemakaman berlangsung.

"Mereka semua ada di sana. Satu tembakan (dan kami bisa menghabisi mereka semua), tetapi kami tidak akan melakukannya karena nanti kami tidak punya siapa pun untuk diajak bernegosiasi," kata Trump.

Komentar tersebut menjadi salah satu pernyataan paling tajam yang dilontarkan Trump sejak konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Selain menyinggung kemampuan militer AS, Trump juga mengaku heran melihat besarnya gelombang duka yang muncul di Iran setelah kematian Khamenei. Ia mengatakan sebelumnya meyakini bahwa sebagian besar rakyat Iran tidak menyukai sosok pemimpin tertinggi tersebut.

"Mungkin itu air mata palsu," ujar Trump.

Baca Juga: Pemerintah Percepat Pengembangan Papua Selatan Jadi Lumbung Pangan Nasional

Pernyataan itu segera memicu reaksi dari pihak Iran. Kedutaan Besar Iran di Armenia melalui media sosial X menuding Trump tidak memahami emosi dan budaya masyarakat Iran. Dalam pernyataannya, kedutaan menyebut komentar Trump mencerminkan ketidakmampuan memahami sejarah, peradaban, dan kehormatan bangsa Iran.

Di sisi lain, prosesi pemakaman Khamenei berlangsung dalam skala yang sangat besar. Jutaan pelayat memadati kompleks Grand Mosalla, Teheran, dengan mengenakan pakaian hitam sambil membawa foto-foto Khamenei dan bendera Iran. Setelah sebelumnya disemayamkan secara tertutup untuk penghormatan para pejabat dan tamu asing, peti jenazah Khamenei kemudian dipindahkan ke area terbuka agar dapat dilihat masyarakat luas.

Sejumlah anggota keluarga Khamenei juga disemayamkan di lokasi yang sama, termasuk putri, menantu, dan cucunya yang masih berusia 14 bulan. Suasana duka diwarnai tangisan massa serta seruan anti-Amerika yang menggema di dalam kompleks pemakaman. Menariknya, hari pertama prosesi tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli.

Sementara itu, perhatian juga tertuju pada sosok Mojtaba Khamenei yang hingga kini belum terlihat di hadapan publik sejak dilaporkan mengalami luka akibat serangan pada awal Februari. Tidak adanya Mojtaba dalam prosesi pemakaman ayahnya memicu berbagai spekulasi mengenai kondisi dan keberadaannya.

Menurut laporan media Amerika, aparat keamanan Iran disebut menolak permintaan Mojtaba untuk menghadiri pemakaman di Mashhad pada 9 Juli. Langkah tersebut diambil karena kekhawatiran bahwa Israel dapat memanfaatkan kemunculannya untuk melacak lokasi persembunyian atau bahkan melakukan serangan terhadapnya.

Pernyataan Trump mengenai kemungkinan "menghabisi" seluruh pemimpin Iran sekaligus menunjukkan bahwa ketegangan antara Washington dan Teheran masih jauh dari mereda. Meski mengaku menahan diri demi membuka ruang diplomasi, ucapan tersebut berpotensi menambah panas hubungan kedua negara di tengah suasana berkabung dan transisi kepemimpinan di Iran.

x|close