Indonesia dan Inggris Perkuat Kerja Sama Konservasi dan Pembiayaan Kawasan Lindung

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Jun 2026, 23:12
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Pertemuan bilateral antara Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni dengan Perwakilan Khusus Inggris Bidang Alam Ruth Davis dalam rangkaian London Climate Action Week di Kew Gardens Orangery, London, Inggris. Pertemuan bilateral antara Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni dengan Perwakilan Khusus Inggris Bidang Alam Ruth Davis dalam rangkaian London Climate Action Week di Kew Gardens Orangery, London, Inggris. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Pemerintah Indonesia dan Inggris memperkuat kemitraan di bidang konservasi alam, perlindungan keanekaragaman hayati, serta pengembangan pembiayaan berkelanjutan untuk kawasan lindung. Komitmen tersebut dibahas dalam pertemuan bilateral antara Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dan Perwakilan Khusus Inggris Bidang Alam, Ruth Davis, yang berlangsung di sela-sela rangkaian London Climate Action Week di London, Inggris, awal pekan ini.

Dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026, Raja Juli Antoni mengatakan salah satu agenda utama yang dibahas adalah perkembangan implementasi Satuan Tugas Konservasi Bentang Alam dan Spesies Ikonik yang dibentuk melalui Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026.

Satgas tersebut memiliki tugas memperkuat upaya konservasi, mengembangkan sumber pembiayaan inovatif, mendukung pencapaian target FOLU Net Sink 2030, serta membangun model pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan.

Raja Juli mengapresiasi dukungan yang diberikan pemerintah Inggris terhadap berbagai agenda konservasi Indonesia, termasuk bantuan awal senilai 2 juta poundsterling yang diumumkan pada April lalu.

“Indonesia telah memiliki landasan hukum yang kuat serta dukungan politik pada tingkat tertinggi untuk memperkuat konservasi alam. Tantangan berikutnya adalah menerjemahkan mandat tersebut menjadi reformasi kebijakan, proyek percontohan yang dapat direplikasi, dan hasil konservasi yang terukur bagi masyarakat maupun lingkungan,” ujar dia.

Menhut menegaskan bahwa pengembangan berbagai skema pembiayaan inovatif untuk konservasi tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran negara ataupun menjadi bentuk privatisasi taman nasional. Menurutnya, seluruh pendekatan yang dikembangkan tetap berlandaskan prinsip transparansi, akuntabilitas, integritas ekologis, serta memastikan manfaat yang adil bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara juga bertukar pandangan mengenai pengembangan Peusangan Elephant Conservation Initiative (PECI). Program itu diproyeksikan menjadi salah satu model konservasi bentang alam yang menggabungkan perlindungan spesies kunci, penguatan ekonomi masyarakat setempat, dan upaya mobilisasi investasi jangka panjang untuk mendukung konservasi.

Raja Juli menjelaskan Indonesia saat ini memiliki 57 taman nasional dengan luas hampir 18 juta hektare yang menjadi habitat berbagai satwa ikonik dunia sekaligus menopang beragam ekosistem penting.

“Pemerintah Indonesia tengah mengembangkan pendekatan pembiayaan yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kawasan, termasuk melalui skema blended finance, filantropi, dan pembiayaan publik, guna menutup kesenjangan pendanaan konservasi yang masih cukup besar,” kata Menhut.

Menurutnya, pertemuan bilateral tersebut juga menegaskan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk hilangnya keanekaragaman hayati dan dampak perubahan iklim yang semakin kompleks.

“Indonesia dan Inggris sepakat untuk terus memperkuat dialog serta menjajaki berbagai peluang kerja sama konkret guna mendukung pengelolaan kawasan lindung yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan,” ujar Raja Antoni.

(Sumber: Antara)

x|close