Putin Perkuat Kemitraan Rusia-ASEAN, Dorong Kerja Sama Ekonomi dan Tatanan Dunia Multipolar

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 19 Jun 2026, 03:31
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Photo file: Presiden Rusia Vladimir Putin berpidato di hadapan peserta KTT ASEAN melalui tautan video di kediamannya di luar Moskow, Rusia, Kamis (28/10/2021). ANTARA FOTO/Sputnik/Evgeniy Paulin/Kremlin via REUTERS/AWW/djo. Photo file: Presiden Rusia Vladimir Putin berpidato di hadapan peserta KTT ASEAN melalui tautan video di kediamannya di luar Moskow, Rusia, Kamis (28/10/2021). ANTARA FOTO/Sputnik/Evgeniy Paulin/Kremlin via REUTERS/AWW/djo. (Antara)

Ntvnews.id, Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin menerima para pemimpin negara-negara Asia Tenggara dalam pertemuan Rusia-ASEAN yang berlangsung pada Rabu, 18 Juni 2026. Agenda tersebut menjadi bagian dari upaya Moskow mempererat hubungan ekonomi, perdagangan, dan kerja sama strategis lainnya dengan negara-negara anggota ASEAN.

Dilansir dari DW, Jumat, 19 Juni 2026, pertemuan yang berlangsung selama dua hari di Kazan, ibu kota Republik Tatarstan yang berjarak sekitar 700 kilometer di timur Moskow, membahas berbagai langkah untuk memperkuat kemitraan strategis antara Rusia dan ASEAN. Hal itu disampaikan penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yuri Ushakov.

Dalam beberapa tahun terakhir, Putin terus mendorong penguatan hubungan politik dan ekonomi dengan negara-negara Asia seiring berlanjutnya perang di Ukraina yang kini memasuki tahun kelima.

Menurut Ushakov, peserta pertemuan berasal dari Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Timor Leste, dan Vietnam.

ASEAN selama ini tetap menjaga hubungan dengan Rusia sebagai mitra dialog dan secara rutin menggelar pertemuan tingkat tinggi tahunan. Forum di Kazan juga menjadi momentum peringatan 35 tahun hubungan Rusia dan ASEAN.

Sejumlah negara mengirimkan pemimpin pemerintahan mereka ke Kazan, termasuk Thailand, Vietnam, Kamboja, Laos, Malaysia, dan Singapura. Filipina diwakili Presiden Ferdinand Marcos Jr., sementara Myanmar turut mengirimkan delegasi resmi.

Dalam pesan yang disampaikan kepada peserta forum bisnis yang digelar di sela-sela pertemuan, Putin menyatakan keyakinannya bahwa forum tersebut akan "menciptakan peluang baru untuk memperluas kerja sama perdagangan, investasi, dan industri yang saling menguntungkan, sekaligus memperkuat dialog langsung antara komunitas bisnis."

Ushakov menjelaskan bahwa agenda utama pertemuan meliputi pertukaran pandangan mengenai berbagai isu regional dan global serta evaluasi perkembangan hubungan Rusia dan ASEAN.

Ia menambahkan bahwa para peserta akan menegaskan kembali komitmen untuk membangun "tatanan dunia multipolar yang adil dan demokratis berdasarkan prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)."

Baca Juga: Rusia Undang Lagi Sineas Indonesia Berpartisipasi di Open Eurasian Film Award

Menurut Ushakov, hubungan Rusia dan ASEAN selama ini ditandai oleh "dialog yang produktif, setara, dan konstruktif."

Di sela forum tersebut, Putin juga menjadwalkan sejumlah pertemuan bilateral dengan para pemimpin ASEAN. Pertemuan Rusia-ASEAN kali ini dipimpin bersama Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. yang saat ini menjabat sebagai ketua bergilir ASEAN.

Saat membuka pertemuan bilateral dengan Marcos, Putin menekankan pentingnya "kerja sama yang saling menguntungkan" yang dibangun berdasarkan tradisi hubungan baik, rasa saling menghormati, dan penghargaan terhadap kepentingan masing-masing negara.

Marcos menyampaikan apresiasi kepada Putin atas penyelenggaraan forum tersebut serta mengundangnya untuk menghadiri KTT ASEAN yang akan berlangsung di Manila pada November mendatang.

Selain bertemu Marcos, Putin juga mengadakan pembicaraan dengan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.

Menurut kantor berita nasional Malaysia, Anwar berencana membahas langkah-langkah untuk "memastikan pasokan minyak dapat terus disalurkan" ke negaranya.

Isu energi menjadi salah satu perhatian utama sejumlah negara Asia setelah terjadinya gejolak harga energi global akibat konflik di Timur Tengah dan gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

Beberapa negara ASEAN, seperti Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, telah mengimpor minyak mentah Rusia atau menunjukkan ketertarikan untuk membelinya setelah harga energi dunia mengalami lonjakan akibat perang Iran.

Photo file: Presiden Rusia Vladimir Putin berpidato di hadapan peserta KTT ASEAN melalui tautan video di kediamannya di luar Moskow, Rusia, Kamis (28/10/2021). ANTARA FOTO/Sputnik/Evgeniy Paulin/Kremlin via REUTERS/AWW/djo. <b>(Antara)</b> Photo file: Presiden Rusia Vladimir Putin berpidato di hadapan peserta KTT ASEAN melalui tautan video di kediamannya di luar Moskow, Rusia, Kamis (28/10/2021). ANTARA FOTO/Sputnik/Evgeniy Paulin/Kremlin via REUTERS/AWW/djo. (Antara)

Di tengah sanksi besar yang dijatuhkan negara-negara Barat terkait perang Ukraina, Rusia terus mengalihkan fokus ekonominya ke Asia, terutama dalam sektor ekspor energi.

Moskow berupaya memperluas pasar bagi minyak dan berbagai komoditas lainnya di kawasan Asia ketika hubungan ekonominya dengan negara-negara Barat semakin memburuk.

Namun demikian, Rusia masih menghadapi sejumlah tantangan ekonomi. Tingginya inflasi, kekurangan tenaga kerja, serta biaya pinjaman yang mahal terus memberi tekanan terhadap perekonomian negara tersebut.

Sementara itu, pertemuan di Kazan berlangsung beriringan dengan KTT G7 di Prancis yang menjadikan perang Ukraina dan konflik Timur Tengah sebagai fokus pembahasan utama.

Dalam pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky di sela KTT G7, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mendorong Moskow untuk mencapai kesepakatan damai guna mengakhiri perang di Ukraina. Trump juga menyebut Washington berpotensi kembali menjatuhkan sanksi terhadap sektor minyak Rusia.

Dalam resepsi resmi untuk para kepala delegasi pada Rabu malam, Putin menegaskan bahwa Rusia dan negara-negara ASEAN memiliki kesamaan pandangan mengenai pentingnya menciptakan sistem internasional yang lebih adil.

Baca Juga: Prabowo Jelaskan Alasan Kunjungi Rusia, China, dan AS

"Rusia dan negara-negara ASEAN bersama-sama mendukung pembentukan tatanan dunia yang adil serta membela prinsip kesetaraan kedaulatan negara dan nonintervensi dalam urusan dalam negeri," kata Putin.

"Semua negara kita menjalankan model pembangunannya masing-masing dan tidak memaksakan pandangannya kepada siapa pun. Dan inilah kekuatan kita," lanjutnya.

"Rusia siap melanjutkan kerja sama aktif dengan negara-negara anggota ASEAN untuk memperkuat kemitraan strategis demi menjamin keamanan, kesejahteraan, dan kemakmuran negara serta rakyat kita, juga kawasan Eurasia secara keseluruhan."

Selain agenda dengan negara-negara ASEAN, Putin juga bertemu Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan. Dalam kesempatan itu, Putin menilai hubungan Rusia dan Turki "terus berkembang secara stabil", sementara Fidan menyebut masih banyak isu strategis yang perlu dibahas kedua negara.

Meski berada dalam satu blok regional, negara-negara ASEAN memiliki orientasi geopolitik yang beragam. Sebagian negara seperti Filipina dikenal memiliki hubungan dekat dengan Amerika Serikat, sementara negara lain menjalin kerja sama ekonomi dan keamanan yang erat dengan China maupun Rusia.

x|close