BPOM Tekankan Peran Strategis Kampus dalam Menyiapkan Talenta Unggul Sektor Obat dan Pangan

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 18 Jun 2026, 23:39
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Penulis & Editor
Bagikan
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar (kiri) dalam kunjungan ke Universitas Surabaya. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar (kiri) dalam kunjungan ke Universitas Surabaya. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menilai perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai mitra strategis dalam membangun kompetensi sumber daya manusia yang dibutuhkan dunia kerja, khususnya di sektor obat dan makanan. Peran tersebut dinilai krusial dalam mencetak talenta unggul yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Kepala BPOM Taruna menyoroti tantangan yang dihadapi Indonesia dalam meningkatkan daya saing di tingkat global di tengah momentum bonus demografi. Menurutnya, penguatan kualitas sumber daya manusia, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta percepatan transformasi digital menjadi faktor utama untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, Taruna menjelaskan bahwa sektor obat dan makanan memegang peranan penting dalam perekonomian nasional, terutama di tengah perkembangan ekonomi digital yang semakin pesat.

"BPOM telah melakukan transformasi digital secara berkelanjutan untuk mengimbangi perkembangan tersebut, melalui penguatan layanan publik berbasis teknologi, integrasi data, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI) untuk meningkatkan efektivitas pengawasan dan pelayanan kepada masyarakat," kata Taruna dalam keterangannya, Kamis, 18 Juni 2026.

Saat memberikan kuliah umum di Universitas Hayam Wuruk Perbanas (UHW Perbanas), Taruna menekankan pentingnya kolaborasi antara kalangan akademisi, dunia usaha, dan pemerintah atau academia-business-government (ABG) dalam membangun ekosistem inovasi yang kuat.

"Ekosistem ini dinilai akan mampu menghasilkan talenta berdaya saing global sekaligus mendukung pertumbuhan industri obat dan makanan nasional. Hal ini didukung oleh Rektor UHW Perbanas, yang juga tengah mengupayakan talenta unggul melalui sistem pendidikannya," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UHW Perbanas Lutfi menyampaikan harapannya agar upaya kampus dalam menyiapkan tenaga medis yang mampu bersaing di tingkat global melalui pendirian Fakultas Kedokteran dapat berjalan sesuai rencana.

Selain di UHW Perbanas, Taruna juga menyampaikan kuliah umum di Universitas Surabaya dengan mengangkat tema hilirisasi inovasi sebagai salah satu pilar penting untuk mewujudkan kemandirian nasional di bidang kesehatan. Ia menegaskan bahwa hasil penelitian tidak seharusnya berhenti pada publikasi ilmiah maupun tahap prototipe, melainkan perlu didorong hingga menjadi produk yang aman, bermutu, bermanfaat, dan dapat digunakan oleh masyarakat luas.

Menurut Taruna, Indonesia memiliki potensi besar berupa kekayaan biodiversitas dan sumber daya manusia yang melimpah. Namun demikian, sejumlah tantangan masih perlu diatasi, termasuk ketergantungan terhadap bahan baku impor serta kesenjangan antara hasil riset dan kebutuhan industri. Karena itu, penguatan hilirisasi dan kerja sama lintas sektor menjadi langkah yang diperlukan.

"Banyak inovasi gagal mencapai tahap komersialisasi karena terjebak dalam fenomena valley of death, yaitu fase ketika hasil riset tidak berhasil ditransformasikan menjadi produk yang siap digunakan masyarakat," katanya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, BPOM hadir sebagai mitra yang mendampingi proses pengembangan inovasi, mulai dari penguatan regulasi, pemberian asistensi, hingga percepatan layanan registrasi produk.

“Kemandirian obat dan makanan yang aman, bermutu, bermanfaat, dan berdaya saing tidak bisa dicapai sendirian. Kampus, industri, dan regulator harus bersinergi dari penelitian hingga pasar agar inovasi memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat serta ketahanan dan kedaulatan bangsa,” katanya.

Kegiatan di Universitas Surabaya juga diisi dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kepala BPOM dan Rektor Universitas Surabaya Benny Lianto.

Kesepakatan tersebut menjadi landasan kerja sama dalam bidang pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi itu diarahkan untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, memperkuat pengawasan obat dan makanan, mendukung pembinaan pelaku usaha, serta memperluas pemahaman masyarakat mengenai keamanan dan mutu produk.

"Selain itu, kerja sama ini akan mendorong pendampingan pelaku usaha dan penguatan kolaborasi academia-business-government (ABG). Implementasi MoU akan ditindaklanjuti melalui Implementing Agreement (IA) yang mengatur pelaksanaan program secara lebih rinci," ujarnya.

Melalui rangkaian kuliah umum yang digelar di Surabaya, BPOM kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat kemitraan dengan perguruan tinggi. Langkah tersebut dilakukan untuk mencetak talenta unggul, mempercepat hilirisasi hasil penelitian, serta mendorong lahirnya berbagai inovasi di bidang obat dan makanan yang dapat meningkatkan daya saing nasional sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Indonesia.

(Sumber: Antara)

x|close