Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan kemampuan Indonesia dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus mengalami peningkatan dari satu siklus El Nino ke siklus berikutnya. Perbaikan tersebut terlihat dari tren penurunan luas area yang terdampak kebakaran dalam beberapa tahun terakhir.
“Jika kita melihat perjalanan penanganan kebakaran hutan dan lahan dalam beberapa siklus El Nino terakhir, ada satu hal yang patut kita syukuri, kemampuan kita dalam mengendalikan karhutla terus menunjukkan perbaikan,” kata Menhut dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.
Raja Juli menjelaskan bahwa pada periode El Nino 2015, luas kebakaran hutan dan lahan di Indonesia mencapai sekitar 2,61 juta hektare. Angka tersebut kemudian turun menjadi 1,64 juta hektare saat El Nino 2019 dan kembali menyusut menjadi sekitar 1,16 juta hektare pada 2023.
Menurut dia, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa dalam dua siklus El Nino terakhir, luas karhutla berhasil ditekan hingga 55,6 persen dibandingkan kondisi yang terjadi pada 2015.
Menhut menilai keberhasilan itu merupakan hasil kerja sama berbagai pihak yang terlibat dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla. Sinergi tersebut melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI, Polri, pemerintah daerah, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, hingga masyarakat luas.
“Karhutla bukan semata persoalan kehutanan, bukan semata persoalan lingkungan hidup, dan bukan hanya persoalan daerah tertentu. Karhutla adalah masalah bersama yang dampaknya dirasakan oleh seluruh bangsa,” ujar Raja Antoni.
Meski tren kebakaran pada periode El Nino menunjukkan perbaikan, Raja Juli mengingatkan seluruh pihak untuk tidak lengah. Ia menegaskan bahwa kewaspadaan tetap harus ditingkatkan karena potensi kebakaran masih cukup tinggi.
Data hingga Mei 2026 menunjukkan luas lahan yang terbakar telah mencapai sekitar 81 ribu hektare. Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama saat fenomena El Nino terjadi pada 2019 maupun 2023.
Selain itu, BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini datang lebih awal dengan durasi yang lebih panjang dan kondisi yang lebih kering. Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September mendatang.
Karena itu, Menhut berharap kolaborasi seluruh pihak yang selama ini berjalan baik dapat terus dipertahankan guna menekan risiko kebakaran hutan dan lahan.
“Kalau semua stakeholder masih bekerja dengan baik juga dengan peran TNI, Polri, serta partisipasi masyarakat, tentunya kita akan bisa memenangkan pertarungan melawan karhutla ini,” ujar Menhut Raja Antoni.
(Sumber: Antara)
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dalam Rapat Koordinasi Khusus Pengendalian Karhutla Tahun 2026 di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026. (Antara)