AS Tembak Jatuh 4 Drone Iran di Selat Hormuz, Radar Pengintai Ikut Diserang

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 6 Jun 2026, 10:10
thumbnail-author
Dedi
Penulis & Editor
Bagikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat (25/42026). ANTARA/Anadolu/Celal Güne?. Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat konferensi pers di Gedung Putih, Washington D.C., Amerika Serikat (25/42026). ANTARA/Anadolu/Celal Güne?. (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Gencatan senjata yang diprakarsai Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menghadapi ujian setelah militer AS melancarkan operasi terhadap target Iran di kawasan Selat Hormuz.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengungkapkan bahwa pasukan AS menembak jatuh empat drone serang yang dikirim Iran menuju jalur pelayaran strategis Selat Hormuz pada Jumat (5/6) waktu setempat. Insiden tersebut kemudian diikuti dengan serangan terhadap fasilitas radar pengintaian pantai milik Iran yang berada di Goruk, Pulau Qeshm.

Menurut CENTCOM, tindakan militer itu dilakukan setelah drone-drone Iran dinilai mengancam keamanan jalur pelayaran internasional di kawasan tersebut.

"Drone-drone serang itu menimbulkan ancaman langsung terhadap lalu lintas maritim regional," kata CENTCOM dalam pernyataannya.

Militer AS menjelaskan bahwa serangan terhadap instalasi radar Iran dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan serangan lanjutan yang dapat mengganggu stabilitas kawasan dan keselamatan lalu lintas maritim internasional.

Hingga Sabtu (6/6), pemerintah Iran maupun Islamic Revolutionary Guard Corps belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim yang disampaikan pihak AS tersebut.

Di sisi lain, media pemerintah Iran, Islamic Republic of Iran Broadcasting, melaporkan adanya sejumlah ledakan yang terdengar di wilayah Sirik, Iran selatan, sekitar pukul 02.30 waktu setempat. Namun hingga kini belum ada keterangan resmi mengenai sumber maupun penyebab ledakan tersebut.

"Tidak ada sumber resmi yang mengomentari asal suara atau detailnya," sebut IRIB dalam laporan via Telegram.

Peristiwa terbaru ini menjadi tantangan bagi upaya deeskalasi yang selama beberapa bulan terakhir didorong pemerintahan Trump. Konflik bersenjata antara AS dan Israel melawan Iran memang mereda sejak pemberlakuan gencatan senjata pada 8 April lalu, yang kemudian diperpanjang tanpa batas waktu oleh Trump.

Meski intensitas perang menurun, proses perdamaian yang dimediasi Pakistan hingga kini belum menghasilkan kesepakatan permanen. Kondisi tersebut membuat kawasan Timur Tengah masih rentan terhadap insiden militer yang berpotensi memicu konflik lebih luas.

Dalam beberapa pekan terakhir, Washington dan Teheran juga terus saling melontarkan tuduhan pelanggaran gencatan senjata. Serangan drone di Selat Hormuz dan respons militer AS terbaru menunjukkan bahwa kesepakatan yang dipromosikan Trump masih berada dalam posisi rapuh dan sewaktu-waktu dapat terganggu oleh aksi militer di lapangan.

Eskalasi terbaru ini menjadi ujian penting bagi pemerintahan Trump dalam mempertahankan stabilitas kawasan sekaligus menjaga agar gencatan senjata yang telah berlangsung selama hampir dua bulan tidak berujung pada kembalinya konflik terbuka antara kedua negara.

x|close