Drone Murah Hizbullah Disebut Mulai Merepotkan Sistem Pertahanan Israel

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 22 Mei 2026, 06:50
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Arsip foto - Bendera nasional Lebanon (kanan) dan bendera Hizbullah. Furkan Güldemir. ANTARA/Anadolu Agency/pri. Arsip foto - Bendera nasional Lebanon (kanan) dan bendera Hizbullah. Furkan Güldemir. ANTARA/Anadolu Agency/pri. (Istimewa)

Ntvnews.id, Beirut - Sebuah video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan sebuah drone bermuatan bahan peledak menghantam baterai sistem pertahanan udara Iron Dome milik Israel.

Dilansir dari DW, Jumat, 22 Mei 2026, Sistem pertahanan canggih bernilai miliaran dolar AS itu tampak diserang menggunakan perangkat terbang murah yang nilainya hanya puluhan juta rupiah.

Meski keaslian video tersebut belum diverifikasi secara independen, sejumlah pakar menilai rekaman itu kemungkinan autentik.

Video serangan tersebut dipublikasikan sekitar sepekan lalu oleh Hizbullah, kelompok Syiah Lebanon yang didukung Iran dan dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh sejumlah negara, termasuk Jerman, Amerika Serikat, serta beberapa negara Arab Sunni.

Bagi Hizbullah, video tersebut dianggap sebagai kemenangan propaganda karena dinilai menunjukkan meningkatnya kerentanan militer Israel.

Dalam beberapa bulan terakhir, Hizbullah disebut semakin aktif menggunakan drone FPV (First Person View) di Lebanon Selatan. Drone jenis ini memungkinkan operator melihat sasaran secara langsung melalui kamera yang dipasang pada perangkat.

Serangan menggunakan drone FPV dilaporkan telah menewaskan sejumlah tentara Israel dan melukai lainnya.

Para pakar militer Israel juga menyoroti penggunaan drone berbasis kabel serat optik yang kini mulai digunakan Hizbullah. Berbeda dengan drone konvensional yang mengandalkan sinyal radio, drone jenis ini dikendalikan melalui kabel serat optik tipis yang terhubung langsung dengan operator.

Baca Juga: Jelang Idul Adha, Kementan Jaga Pasokan Bawang Merah Nasional

Teknologi tersebut membuat drone jauh lebih sulit dideteksi maupun diganggu menggunakan sistem peperangan elektronik seperti jamming.

Dalam perang Rusia-Ukraina, drone serat optik telah digunakan secara luas sejak 2024 oleh kedua pihak. Namun hingga kini belum ditemukan metode pertahanan yang benar-benar efektif untuk menghadapi ancaman tersebut.

Selain menggunakan jaring pelindung, pasukan di lapangan bahkan kerap menembak drone menggunakan senapan shotgun. Kendati demikian, persoalan utama tetap belum teratasi karena drone serat optik hampir mustahil dilacak secara elektronik.

Perkembangan itu dinilai menempatkan militer Israel dalam posisi sulit karena dianggap belum sepenuhnya siap menghadapi ancaman drone modern.

"Angkatan bersenjata yang selama ini dipersiapkan untuk perang skala besar kini tiba-tiba menghadapi tantangan yang sama sekali baru," ujar pakar drone Neri Zin dalam wawancara dengan DW.

Ilustrasi - Drone atau pesawat nirawak. ANTARA/Xinhua/pri <b>(Antara)</b> Ilustrasi - Drone atau pesawat nirawak. ANTARA/Xinhua/pri (Antara)

CEO startup pertahanan Israel Axon Vision itu menilai militer kerap lambat dalam menyesuaikan diri terhadap perkembangan teknologi.

"Sebuah tank yang harganya puluhan juta dolar AS kini bisa diserang drone FPV yang bisa dibeli seharga 400 dolar AS di Alibaba," katanya.

Duta Besar Ukraina untuk Israel Yevhen Korniichuk juga mempertanyakan mengapa Israel belum banyak memanfaatkan pengalaman Ukraina dalam menghadapi perang drone.

"Sayangnya kami tidak melihat minat yang besar dari kepemimpinan Israel dalam hal ini," katanya kepada Ynet News.

Sementara itu, militer Israel menyatakan terus memantau perkembangan ancaman drone di berbagai konflik dunia dan mengklaim berada di garis depan dalam pengembangan solusi pertahanan.

Tekanan politik terkait ancaman drone juga mulai mengarah kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Netanyahu mengaku telah memerintahkan pembentukan proyek khusus untuk menghadapi ancaman drone, namun meminta masyarakat bersabar karena pengembangan sistem pertahanan membutuhkan waktu.

"Ini akan membutuhkan waktu," kata Netanyahu.

Baca Juga: Berkomitmen Terus Melaju 'MengEMASkan Indonesia', PT Pegadaian Cetak Kinerja Gemilang di Awal 2026

Berbagai solusi teknologi kini mulai dibahas, mulai dari sistem deteksi visual dan akustik hingga senjata penghancur elektronik berbasis gelombang mikro atau laser yang didukung kecerdasan buatan.

Namun, menurut Neri Zin, solusi yang dibutuhkan justru harus sederhana dan murah agar dapat diterapkan secara cepat di lapangan.

"Kita membutuhkan solusi yang mudah—dan kita membutuhkannya sekarang. Kita tidak bisa menunggu bertahun-tahun untuk mengembangkannya," ujarnya.

Axon Vision saat ini disebut tengah mengembangkan sistem pertahanan drone berbasis kamera visual dan termal yang dipadukan dengan kecerdasan buatan untuk membantu mendeteksi serta menyerang drone secara real time.

Meski sistem dapat diotomatisasi dalam kondisi tertentu, Zin menegaskan keputusan akhir tetap berada di tangan manusia.

Ia juga menilai perang drone pada akhirnya menjadi persoalan ekonomi karena biaya pertahanan kerap jauh lebih mahal dibanding ancaman yang dihadapi.

"Saya baru saja melihat seorang jenderal dari Uni Emirat Arab berbicara tentang biaya perang melawan Iran bulan lalu," katanya.

"Mereka menembak jatuh drone Shahed dengan rudal pencegat—padahal satu rudal itu harganya delapan juta dolar AS."

x|close