Iran Ajak Warga Hemat Energi di Tengah Blokade AS terhadap Pelabuhan Teheran

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Mei 2026, 05:11
thumbnail-author
Deddy Setiawan
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Ilustrasi - Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) Ilustrasi - Selat Hormuz, Iran. (ANTARA/Anadolu/py.) (Antara)

Ntvnews.id, Taheran - Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan masyarakat untuk mengurangi penggunaan listrik dan gas sebagai langkah menghadapi dampak blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sejak 13 April, Angkatan Laut AS melakukan blokade terhadap jalur perairan yang terhubung dengan pelabuhan Iran. Langkah tersebut disebut sebagai respons Washington atas penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.

"Dalam situasi saat ini, kita harus mencegah tekanan pada jaringan energi negara melalui partisipasi publik dan manajemen konsumsi," kata Pezeshkian sebagaimana dikutip media pemerintah Iran, Mehr.

Dalam kesempatan terpisah, Wakil Presiden Iran Saghab Esfahani turut mengimbau masyarakat menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sekitar satu hingga satu setengah liter per hari.

"Cukup bagi setiap orang untuk mengurangi konsumsi bensin sebanyak satu hingga satu setengah liter per hari," ujar Esfahani.

Baca Juga: Iran Bantah Tuduhan Serang Kapal Korea Selatan di Selat Hormuz

Iran saat ini menghadapi tekanan ekonomi cukup besar akibat blokade yang dilakukan Washington. Selain itu, negara tersebut masih dibayangi sanksi internasional yang belum dicabut.

Meski gencatan senjata mulai berlaku sejak 8 April, Iran hingga kini belum membuka kembali Selat Hormuz. Jalur perdagangan strategis itu ditutup Teheran setelah serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari.

Amerika Serikat mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz dengan melakukan blokade balasan terhadap kapal-kapal yang keluar masuk Iran. Kebijakan tersebut ditolak Teheran dan memicu baku tembak dalam beberapa hari terakhir.

Dalam salah satu insiden terbaru, dua kapal tanker minyak milik Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan AS. Pemerintah Iran menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Meski ketegangan masih berlangsung, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa gencatan senjata antara kedua pihak masih tetap berjalan.

x|close