Ntvnews.id, Jakarta -Komunitas masyarakat keuangan, perbankan, BUMN, akademisi, korporasi swasta, hingga anggota BPK dan jurnalis senior menyajikan Pagelaran Ketoprak Financial di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026, pukul 19.00 – 21.00 WIB. Pagelaran Ketoprak Financial yang disutradari oleh Aries Mukadi ini membawakan lakon “Sultan Agung”.
Lakon “Sultan Agung” ini mengandung pesan moral pentingnya persatuan dan semangat melawan penjajahan di Tanah Air. Pesan moral ini disampaikan melalui perlawanan Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin Sultan Agung Hanyakrakusuma terhadap VOC Belanda di Batavia.
Atas jasa-jasanya itu, pada 8 November 1975 pemerintah Indonesia memberikan gelar "Pahlawan Nasional" kepada Sultan Agung. Penetapan tersebut dilakukan oleh Presiden Soeharto melalui SK Presiden RI No 106/TK/Tahun 1975.
“Kita mengangkat lakon ini untuk mengenang dan meneladani semangat persatuan dan kemerdekaan yang digelorakan oleh Sultan Agung saat melawan VOC Belanda yang memecah-belah Mataram,” ujar Eko B. Supriyanto, Produser Eksekutif Pagelaran Ketoprak Financial “Sultan Agung”, kepada wartawan, di GKJ Pasar Baru, Jakarta, Kamis (30/7).
Baca juga:PSIM Gunakan Stadion Sultan Agung Bantul Arungi Musim 2026/2027
Persatuan dan semangat perjuangan melawan penindasan, kata Eko, selalu aktual untuk digelorakan karena masih adanya anak bangsa yang terpecah-belah karena perbedaan pendapat, dan masih adanya ketidakadilan yang terjadi di negeri ini.
Selain untuk meneladani perjuangan Sultan Agung, Pagelaran Ketoprak Financial ini juga menjadi ajang networking dan silaturahmi sesama pelaku jasa keuangan, direksi BUMN, asosiasi, akademisi, dan jurnalis senior, serta pemain seni tradisional. Seperti pagelaran-pagelaran sebelumnya, pagelaran kali ini pun diramaikan dengan keterlibatan para eksekutif di berbagai industri. Mereka antusias untuk ikut terlibat mulai dari perencanaan, latihan, hingga pementasan.
Beberapa eksekutif yang ikut naik panggung di lakon “Sultan Agung” antara lain Suwandi Wiratno (Ketua Umum APPI), Fathan Subchi (Anggota BPK RI), Aviliani (Komut Allo Bank), Alexandra Askandar (Wadirut BNI), Rita Mirasari (Direktur Bank Danamon), Haryanto T. Budiman (Ketua Umum IBI), Seno Soemadji (Direktur Telkom), dan Antonius Widodo (Direktur BCA).
Turut juga bermain, Juanita Luthan (Direktur NobuBank), Alfa Niasari (Direktur Pertalife), Lisawati (Komisaris Bank Ganesha), Rudiantara (Komut DANA), Evi Afiatin (Direktur Surveyor Indonesia), Dumasi MM Samosir (Direktur Asuransi Sinar Mas), Rokidi (Dirut Bank Kalbar), Kusumaningtuti (Komisaris SMBC Indonesia), Nicolaus Prawiro (Wadirut Asuransi Cakrawala Proteksi), Jemmy Atmadja (Presdir Asuransi Maximus), Tribuana Tunggadewi (Direktur Pengadaian), Benny Purnomo (Komisaris InaRe), Maria Y. Benyamin (Direktur Bisnis Indonesia), dan Karnoto Mohamad (Direktur Infobank).
Baca juga:Seskab Teddy Indra Wijaya Bertemu Panglima Jilah, Bahas Persatuan dan Pelestarian Budaya Dayak
Pagelaran Ketoprak Financial ini juga merupakan sarana sosial untuk melestarikan kebudayaan tradisional ketoprak, mendukung para praktisi kesenian tradisional, serta untuk menggalang dana pendidikan tinggi bagi anak kurang mampu. “Seluruh hasil penjualan tiket akan disumbangkan ke Yayasan Anak Asuh Kita,Pagelaran ini mendonasikan Rp100 juta kepada Yayasan Anak Asuh Kita” kata Eko
Penyerahan donasi simbolis sebesar Rp100 juta kepada Yayasan Anak Asuh Kita dalam rangka Pagelaran Ketoprak Financial (indonesia media network)
Untuk itu, Eko memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para eksekutif industri keuangan, perbankan, BUMN, BPK, asosiasi, akademisi, dan para jurnalis senior yang turut mendukung pagelaran Ketoprak Financial ini. Di tengah kesibukan sebagai profesional, mereka masih memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian kesenian tradisional Indonesia.
Pagelaran Ketoprak Financial yang diproduksi oleh Indonesia Media Network ini menghadirkan bintang tamu Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan dan komedian Yanti Lemu. Bertindak sebagai sutradara adalah seniman tradisional Aries Mukadi, dengan Asisten Sutradara Antonius Widodo.
Baca juga:Kolaborasi Khofifah dan Menteri PPPA Tingkatkan Keamanan Digital Anak di Jawa Timur
SINOPSIS:
SULTAN AGUNG
Lakon “Sultan Agung” diangkat dari sejarah kisah perlawanan Kerajaan Mataram Islam di Plered, Yogyakarta, terhadap VOC Belanda di Batavia. Saat itu Kerajaan Mataram Islam dipimpin oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma yang memerintah sekitar tahun 1613-1645.
Sultan Agung dikenal sebagai salah satu raja terbesar di Tanah Jawa karena berhasil menyatukan wilayah Jawa di bawah Kerajaan Mataram. Hanya satu wilayah yang belum berhasil ditaklukkan, yakni wilayah Batavia yang saat itu dikuasi oleh VOC Belanda.
Sikap VOC Belanda yang semena-mena terhadap rakyat di wilayah Mataram membuat Sultan Agung marah dan memerintahkan pasukannya untuk menyerang Batavia, yakni pada tahun 1628 dan 1629. Namun, dalam penyerangan tersebut Sultan Agung belum berhasil mengusir VOC Belanda dari Batavia.
Bahkan, banyak pasukan Mataram yang meninggal karena munculnya wabah penyakit. VOC Belanda juga melakukan penyerangan ke titik-titik logistik pasukan Mataram, sehingga Sultan Agung memutuskan untuk mundur dan kembali ke Plered.
Baca juga:Rano Karno Luncurkan Open Top Tour Jakarta Batavia, Perkuat Daya Tarik Wisata Kota Tua
Meski belum berhasil mengusir VOC Belanda, Sultan Agung dinilai sebagai tokoh yang agung karena tiga hal. Satu, berhasil menyatukan hampir seluruh Pulau Jawa di bawah Kerajaan Mataram. Dua, dia meninggalkan legacy berupa Kalender Jawa Islam yang menyatukan Kalender Hijriah Islam dan Kalender Saka Jawa. Tiga, menjadi peletak dasar pemerintahan dan budaya Jawa-Islam.
Alexandea Askandar, Wkl Direktur Utama BNI dan Haryanto Budiman, Wkl Direktur Utama BCA (Dokumentasi BNI)