Ntvnews.id, Jakarta - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Senin pagi 2 Maret 2026 bergerak melemah 42 poin atau 0,25 persen menjadi Rp16.829 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.787 per dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong memproyeksikan mata uang rupiah pada Senin (2/3) ini bakal bergerak melemah imbas dari perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Rupiah diprediksi melemah di kisaran Rp16.750-Rp16.900 per dolar AS.
Pelemahan mata uang Garuda disebabkan adanya kecenderungan pelaku pasar untuk menghindari aset berisiko dan memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman.
"Rupiah diperkirakan akan melemah dan bergerak volatile terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off dari eskalasi perang di Timur Tengah," kata Lukman, Senin 2 Maret 2026.
Baca juga: IHSG Dibuka Menghijau ke 8.351, Rupiah Menguat Rp16.744 per Dolar AS
Meski demikian, lanjutnya, Bank Indonesia (BI) dinilai akan segera mengintervensi.
Diberitakan sebelumnya, pada Sabtu pagi (28/2) waktu setempat, Amerika Serikat dan Zionis Israel melancarkan serangkaian serangan ke Iran, termasuk ibu kota Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa rakyat sipil.
Iran kemudian melancarkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dikonfirmasi syahid akibat serangan rudal AS-Israel terhadap tempat kerjanya.
Baca juga: Dolar AS Hampir Sentuh Rp17.000, Bank Indonesia Sebut Rupiah Sudah Terlalu Murah
Menyusul wafatnya Khamenei, pemerintah Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan libur kerja selama seminggu.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dan Angkatan Darat Iran, dalam pernyataan tertulis mereka, bersumpah akan membalas kematian Khamenei. (Sumber:Antara)
Petugas menghitung mata uang Rupiah dan Dolar AS di Ayu Masagung Money Changer, Jakarta. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww) (Antara)