Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur yang tangguh dan berkelanjutan harus diawali dengan peletakan fondasi yang kokoh, baik dari segi teknis maupun non-teknis, demi mewujudkan visi besar Indonesia Emas 2045.
Pernyataan tersebut disampaikan AHY dalam keterangannya di Jakarta pada Kamis (5/11), di mana ia menekankan bahwa fondasi pembangunan bangsa tidak semata-mata bertumpu pada kemegahan fisik bangunan, melainkan turut ditopang oleh pilar pengetahuan, integritas moral, ketepatan kebijakan, serta terbangunnya kepercayaan publik.
“Kita membutuhkan ambisi, tetapi juga tanggung jawab. Kita membutuhkan kecepatan, tetapi tidak boleh mengorbankan keselamatan. Kita membutuhkan investasi, tetapi yang paling utama adalah infrastruktur yang melayani masyarakat,” ujar AHY.
Ia mengingatkan agar proyek pembangunan tidak sekadar berorientasi pada kecepatan fisik semata, melainkan wajib memperhatikan aspek keamanan, kualitas, serta ketahanan jangka panjang dalam menghadapi berbagai potensi risiko di masa depan.
Menurut AHY, kualitas tertinggi dari sebuah bangunan infrastruktur sangat dipengaruhi oleh elemen fundamental yang kerap luput dari perhatian kasat mata, yakni kondisi struktur tanah dan kekuatan fondasinya.
Ia mencontohkan bahwa mahakarya seperti jembatan megah, gedung bertingkat tinggi, maupun bendungan raksasa tidak akan memiliki tingkat keamanan yang memadai tanpa ditopang oleh perencanaan geoteknik yang matang. Oleh sebab itu, peran para ahli geoteknik dinilai sangat krusial dalam memastikan setiap proyek berdiri di atas landasan teknis yang benar-benar kuat.
Lebih lanjut, AHY memaparkan bahwa Indonesia saat ini tengah berada di tengah gelombang tantangan global yang kompleks dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045. Tantangan tersebut mencakup ketidakpastian ekonomi global, dinamika ketegangan geopolitik, dampak nyata perubahan iklim, disrupsi teknologi, hingga persoalan kesenjangan pembangunan antarwilayah.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, sektor infrastruktur memegang peranan strategis sebagai penggerak utama yang berfungsi menghubungkan masyarakat dengan lapangan pekerjaan, mendekatkan para petani dengan pasar, serta memperluas akses publik terhadap layanan pendidikan dan kesehatan yang layak.
Kendati demikian, ia mengingatkan agar keberhasilan pembangunan tidak diukur secara kuantitatif semata dari seberapa banyak proyek fisik yang berhasil diselesaikan.
Dalam perannya sebagai Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, AHY menjelaskan bahwa pemerintah saat ini terus menggenjot orkestrasi kebijakan serta sinkronisasi investasi lintas sektor. Sinergi ini mencakup bidang pekerjaan umum, sektor transportasi, penyediaan perumahan rakyat, urusan pertanahan, penataan ruang, hingga pembangunan kewilayahan secara merata. Sinkronisasi lintas instansi ini diperlukan agar setiap rupiah investasi infrastruktur mampu memberikan multiplier effect dan manfaat nyata yang berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat.
Menutup pandangannya, AHY kembali mengingatkan bahwa Indonesia tidak mungkin dapat tumbuh menjadi bangsa yang tangguh apabila berdiri di atas fondasi yang rentan. Dengan memperkuat landasan struktural, meningkatkan keamanan infrastruktur, serta merapatkan barisan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, ia optimis Indonesia mampu merajut masa depan yang lebih kokoh menyongsong tahun 2045.
(Sumber: Antara)
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko Infra) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Antara)