Ntvnews.id, Jakarta - Perekonomian Indonesia terus menunjukkan ketahanan di tengah dinamika ekonomi global. Pada triwulan III-2026, ekonomi nasional tumbuh 5,47 persen secara tahunan, terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat.
Pertumbuhan tersebut sekaligus lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 5,04 persen. Konsumsi masyarakat menjadi salah satu penyangga utama aktivitas ekonomi, ketika pergerakan masyarakat, belanja daring, dan kegiatan pariwisata kembali meningkat.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) RI, Moh. Edy Mahmud, mengatakan konsumsi rumah tangga masih menjadi kekuatan terbesar yang menjaga laju ekonomi pada triwulan III-2026.
“Ekonomi Indonesia pada triwulan 3-2026 tumbuh solid sebesar 5,47 persen secara tahunan, utamanya ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang masih terjaga,” jelas Edy pada konferensi pers di Jakarta, Kamis, 5 November 2026.
Baca Juga: Airlangga Ungkap Kunci Pertumbuhan Ekonomi RI 7,5 Persen
Konsumsi Rumah Tangga Kuat, Penopang Pertumbuhan Ekonomi RI 5,47 Persen di Triwulan III-2026 (Badan Pusat Statistik (BPS))
Penopang Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Edy, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,04 persen secara tahunan. Komponen ini memberikan sumbangan pertumbuhan terbesar terhadap ekonomi nasional, yakni 2,62 persen.
Angka tersebut juga lebih baik dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan III-2025 yang sebesar 4,89 persen.
Kuatnya belanja masyarakat tercermin dari meningkatnya transaksi barang dan jasa melalui kanal daring. Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi dan kembali bergairahnya aktivitas pariwisata turut menjaga permintaan.
Di sisi lain, kebijakan pemerintah untuk mengendalikan inflasi ikut membantu mempertahankan daya beli masyarakat.
Konsumsi yang tetap terjaga kemudian berjalan beriringan dengan peningkatan investasi. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 6,06 persen secara tahunan, mencerminkan masih berlangsungnya aktivitas investasi dari pemerintah maupun sektor swasta.
Belanja pemerintah juga meningkat cukup signifikan. Pada triwulan III-2026, konsumsi pemerintah tumbuh 8,95 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,66 persen.
Kenaikan ini antara lain terlihat dari meningkatnya belanja pegawai, termasuk gaji dan tunjangan ASN, serta belanja barang dan jasa, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Baca Juga: Menekraf Dorong Desa Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Kreatif Baru
Sektor Produksi Makin Kuat
Dari sisi produksi, aktivitas ekonomi juga ditopang oleh sejumlah sektor yang berkaitan erat dengan kebutuhan masyarakat dan kegiatan usaha.
Industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi pertumbuhan 1,20 persen, disusul perdagangan sebesar 0,94 persen, konstruksi 0,62 persen, serta informasi dan komunikasi 0,49 persen.
Industri pengolahan sendiri tumbuh 5,87 persen. Pertumbuhan sektor ini tidak hanya datang dari permintaan dalam negeri, tetapi juga dari pasar luar negeri.
“Jika kita rinci menurut subsektor, terlihat bahwa kinerja positif sektor industri pengolahan utamanya ditopang oleh kinerja industri makanan dan minuman yang tumbuh hingga 7,09 persen; industri kimia, farmasi, dan obat tradisional yang tumbuh 8,10 persen; dan industri logam dasar yang tumbuh 9,94 persen,” rinci Edy.
Kegiatan perdagangan juga bergerak lebih cepat. Sektor perdagangan besar dan eceran serta reparasi mobil dan sepeda motor tumbuh 7,14 persen. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan 5,46 persen pada triwulan III-2025 dan 4,85 persen pada triwulan III-2024.
Meningkatnya penjualan kendaraan, terutama kendaraan niaga dan kendaraan listrik, ikut mendorong sektor tersebut. Pasokan barang dari dalam negeri, khususnya produk industri pengolahan, serta barang impor juga meningkat sehingga aktivitas perdagangan menjadi semakin ramai.
Sektor konstruksi mencatat pertumbuhan 6,42 persen, meningkat dibandingkan 4,21 persen pada triwulan III-2025. Pembangunan berbagai proyek infrastruktur yang dikerjakan pemerintah maupun swasta menjadi salah satu penggeraknya, termasuk sejumlah program prioritas seperti KDKMP, perumahan rakyat, sekolah rakyat, sekolah Garuda, dan revitalisasi sekolah.
Di tengah semakin luasnya aktivitas ekonomi berbasis digital, sektor informasi dan komunikasi juga mencatat pertumbuhan 7,13 persen. Kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya lalu lintas data, pemanfaatan layanan data center, serta transaksi perdagangan melalui sistem elektronik.
Secara regional, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari rata-rata nasional tercatat di sejumlah wilayah. Bali dan Nusa Tenggara tumbuh paling tinggi, yakni 6,08 persen, diikuti Jawa sebesar 5,84 persen dan Sulawesi sebesar 5,68 persen.
Konsumsi Rumah Tangga Kuat, Penopang Pertumbuhan Ekonomi RI 5,47 Persen di Triwulan III-2026 (Badan Pusat Statistik (BPS))