Ntvnews.id, Jakarta - Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menegaskan bahwa pengembangan industri di kawasan transmigrasi perlu didukung investasi pada sumber daya manusia (SDM), riset, dan teknologi. Hal tersebut disampaikannya setelah mempelajari perkembangan industri otomotif di China.
"Saya tertarik bukan pada produknya, melainkan pada prosesnya," kata Iftitah dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Rabu, 14 Oktober 2026.
Pernyataan itu disampaikan setelah ia mengunjungi Beijing Automotive Group (BAIC Group) di Beijing, China, pada Selasa, 13 Oktober 2026. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda kerja Kementerian Transmigrasi pada 12–18 Oktober 2026.
Menurut Iftitah, pengalaman BAIC menunjukkan bahwa kemajuan industri tidak hanya bergantung pada keberadaan pabrik dan modal. Kualitas tenaga kerja, penguasaan teknologi, serta kemampuan riset yang dikembangkan secara berkelanjutan juga menjadi faktor penting.
"Pertama, mereka berorientasi pada manusia. Itulah sebabnya mereka berinvestasi besar-besaran pada sumber daya manusia. Itu lesson learned pertama yang saya tangkap," ujarnya.
Ia menilai pendekatan tersebut dapat menjadi pembelajaran dalam mengembangkan kawasan transmigrasi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa. Karena itu, pembangunan industri perlu diiringi pendidikan, pelatihan, dan persiapan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha.
Baca Juga: Mentrans Jajaki Kerja Sama Hilirisasi dengan China, Bidik Lapangan Kerja di Kawasan Transmigrasi
Selain SDM, Iftitah turut menyoroti peran kerja sama internasional dalam mendorong kemajuan industri. Ia mencontohkan kemitraan BAIC dengan Hyundai dari Korea Selatan dan Mercedes-Benz dari Jerman.
Menurutnya, kolaborasi dengan perusahaan yang telah memiliki pengalaman dan penguasaan teknologi dapat membantu meningkatkan kemampuan produksi, keterampilan tenaga kerja, serta daya saing industri nasional.
"Tidak ada sesuatu yang bisa dibuat dalam semalam. Mereka membutuhkan puluhan tahun, tetapi pada titik tertentu akan terjadi akselerasi," katanya.
Iftitah juga menekankan pentingnya membangun ekosistem industri yang mencakup pemasok, lembaga penelitian, tenaga ahli, jaringan logistik, hingga berbagai usaha pendukung. Dengan begitu, manfaat investasi diharapkan dapat dirasakan oleh masyarakat secara lebih luas.
"Kalau kita berinvestasi dalam riset dan ekosistemnya terbentuk, pihak lain tidak perlu mulai dari nol," ujarnya.
Dalam pengembangan kawasan transmigrasi, ekosistem industri tersebut dapat diarahkan pada pengolahan hasil pertanian dan perkebunan, kegiatan manufaktur, serta usaha pendukung lainnya. Pengembangannya perlu disesuaikan dengan potensi sumber daya dan kebutuhan pasar di setiap kawasan.
Untuk mendukung penguatan SDM dan riset, Kementerian Transmigrasi pada 2026 telah menerjunkan 1.476 peserta Tim Ekspedisi Patriot (TEP). Mereka tergabung dalam 246 tim dari 10 perguruan tinggi yang menjalankan riset dan pendampingan di 53 kawasan transmigrasi.
Baca Juga: Mentrans Siap Jalankan Empat Rekomendasi Pengembangan Rempang Eco-City
Salah satu penerapan teknologi dilakukan oleh TEP Universitas Hasanuddin di kawasan Weri-Saharey, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Tim tersebut mengembangkan alat pengering pala yang, menurut Kementerian Transmigrasi, dapat memangkas waktu pengeringan dari tujuh hari menjadi dua hari.
Sementara itu, TEP Universitas Indonesia di kawasan Barelang, Batam, Kepulauan Riau, membantu 20 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat dalam mengurus nomor induk berusaha (NIB). Pendampingan ini merupakan bagian dari upaya mendorong perkembangan ekonomi masyarakat.
Iftitah menilai keberhasilan pembangunan pusat pertumbuhan ekonomi tidak cukup diukur dari masuknya investasi atau berdirinya pabrik. Peningkatan keterampilan masyarakat, perkembangan usaha lokal, serta terbukanya lapangan kerja dan sumber pendapatan baru juga menjadi indikator penting.
(Sumber: Antara)
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara (kanan) menyimak penjelasan mengenai teknologi dan proses produksi industri otomotif saat mengunjungi Beijing Automotive Group (BAIC Group) di Beijing, Tiongkok (Antara)