Mentrans Siap Jalankan Empat Rekomendasi Pengembangan Rempang Eco-City

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 11 Okt 2026, 15:27
thumbnail-author
Jihan Dwicahya
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara (tengah) memberikan keterangan kepada wartawan seusai Festival Transmigrasi 2026 di Tanjung Banon, Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu , 10  Oktober 2026. Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara (tengah) memberikan keterangan kepada wartawan seusai Festival Transmigrasi 2026 di Tanjung Banon, Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu , 10 Oktober 2026. (Antara)

Ntvnews.id, Batam - Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyatakan komitmennya untuk menjalankan empat rekomendasi hasil kajian Technical University of Munich (TUM), Jerman, bersama Universitas Diponegoro (Undip) guna mendukung pengembangan kawasan transmigrasi Rempang Eco-City di Batam, Kepulauan Riau.

Keempat rekomendasi tersebut meliputi pengelolaan lahan berbasis agroforestri, penanganan masalah lingkungan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pengembangan kegiatan ekonomi melalui sektor pariwisata bahari.

"Yang pertama, kami akan jalankan empat-empatnya," kata Iftitah di Tanjung Banon, Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau, Minggu, 11 Oktober 2026.

Iftitah menjelaskan bahwa hasil kajian itu telah dibicarakan bersama jajaran Kementerian Transmigrasi. Pembahasan tersebut bertujuan agar rekomendasi tidak berhenti sebagai gagasan, melainkan dapat diwujudkan melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat setempat dan mendorong kemandirian ekonomi.

Baca Juga: 60 Kepala Daerah Usulkan Jadi Kawasan Transmigrasi, Mentrans Iftitah Prioritaskan Potensi Ekonomi

"Dan tentu saja, setelah ini kita tidak berhenti hanya di ide, tapi kita sudah bicarakan juga dengan Pak Direktur Jenderal tadi untuk diimplementasikan," ujar Iftitah.

Dalam aspek pengelolaan lahan, tim TUM merekomendasikan penerapan agroforestri, yakni pemanfaatan lahan secara bersama untuk pertanian, penanaman pohon, dan kegiatan budidaya lainnya. Pendekatan ini diharapkan membuka peluang usaha bagi masyarakat sekaligus mendukung kelestarian lingkungan.

Rekomendasi lainnya berkaitan dengan penanganan erosi dan pengelolaan air. Upaya yang diusulkan mencakup penghijauan di kawasan lereng, penyediaan fasilitas penampungan air hujan, serta pembenahan pengelolaan sampah dan limbah di lingkungan permukiman.

Untuk meningkatkan keterampilan warga, tim peneliti mengusulkan pembentukan pusat kegiatan dan pelatihan atau skill hub. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran bahasa Inggris, pengolahan pangan, pelatihan kewirausahaan, serta berbagai kegiatan bersama masyarakat.

Baca Juga: Batam Tumbuh Pesat, Mentrans: Bukti Nyata Industri Luar Jawa Kian Kokoh

Sementara itu, pengembangan ekonomi diarahkan pada ekowisata dan wisata bahari. Potensi hutan mangrove, aktivitas nelayan, produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta kebudayaan lokal dinilai dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.

Iftitah menyebut sejumlah program yang sejalan dengan rekomendasi tersebut telah mulai dikerjakan sebelum hasil kajian dipresentasikan. Salah satunya adalah pembangunan menara gardu pandang di Tanjung Banon yang diharapkan mampu mendatangkan wisatawan sekaligus menciptakan peluang usaha baru bagi warga.

"Nah, kita sedang bangun menara gardu pandang," ujarnya.

Menurut Iftitah, meningkatnya kunjungan wisatawan berpotensi menggerakkan perekonomian masyarakat melalui usaha makanan, minuman, dan layanan pendukung pariwisata. Pemerintah juga memperhatikan upaya penghijauan serta pemanfaatan air hujan untuk membantu mengatasi persoalan lingkungan di kawasan tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, peneliti TUM Prof. Walter Timo de Vries mengatakan rekomendasi pengembangan Rempang Eco-City disusun berdasarkan pengamatan langsung dan diskusi bersama warga selama kurang lebih satu minggu. Kegiatan tersebut berlangsung melalui program Summer Course Barelang 2026.

Program itu melibatkan 20 mahasiswa dan tiga staf TUM. Hasil kajian dirumuskan dalam empat kelompok pembahasan, yaitu pariwisata, lingkungan, pertanahan dan agroforestri, serta pengembangan komunitas.

Walter menekankan bahwa pembangunan kawasan tidak cukup hanya mengandalkan penyediaan infrastruktur. Keterlibatan masyarakat juga diperlukan agar potensi yang dimiliki kawasan dapat dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

"Jadi yang kita lihat itu komunitas juga aset di sini, bukan hanya untuk menerima sesuatu, tapi juga untuk membuat sesuatu," ucap Walter.

Selain itu, Walter menyoroti pentingnya mengintegrasikan informasi geospasial untuk mendukung perencanaan kawasan. Menurut dia, data dan peta yang diperlukan masih tersebar di berbagai instansi sehingga perlu dihimpun agar dapat digunakan secara terpadu.

Penggabungan data tersebut dinilai dapat membantu pemerintah merencanakan pemanfaatan lahan, memetakan persoalan lingkungan, dan menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.

Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad turut menyatakan dukungannya terhadap rekomendasi hasil kajian TUM dan Undip. Ia memastikan bahwa usulan tersebut akan menjadi perhatian pemerintah daerah bersama kementerian dan lembaga terkait.

"Empat rekomendasi yang tadi disampaikan akan menjadi atensi serius," ungkap Amsakar.

Amsakar menambahkan bahwa beberapa program yang sejalan dengan rekomendasi tersebut telah berjalan, termasuk penghijauan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Adapun sejumlah usulan lainnya masih memerlukan persiapan serta koordinasi lintas instansi sebelum diterapkan.

(Sumber: Antara)

x|close