COO Danantara Targetkan Penggabungan 4 BUMN Karya Selesai Paling Lambat November

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 8 Okt 2026, 20:00
thumbnail-author
Naila Fadhilah
Penulis
thumbnail-author
Tasya Paramitha
Editor
Bagikan
Danantara targetkan merger empat BUMN karya paling lambat November Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengatur (BP) BUMN Dony Oskaria dalam agenda Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (8/10/2026). Danantara targetkan merger empat BUMN karya paling lambat November Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengatur (BP) BUMN Dony Oskaria dalam agenda Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis (8/10/2026). (Antara)

Ntvnews.id, Jakarta - Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengatur (BP) BUMN, Dony Oskaria, menargetkan proses aksi korporasi penggabungan atau merger terhadap empat perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya dapat diselesaikan paling lambat pada akhir November 2026.

Adapun keempat BUMN Karya yang dimaksud meliputi PT Nindya Karya (Persero) yang akan digabungkan dengan PT Brantas Abipraya (Persero), serta PT Adhi Karya (Persero) Tbk yang dilebur bersama PT PP (Persero) Tbk.

“Ini kita harapkan nanti paling telat itu di akhir November sudah selesai,” ujar Dony saat ditemui dalam agenda Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.

Sebagai langkah lanjutan pasca-merger, strategi penyehatan keuangan akan ditempuh melalui pelepasan atau divestasi aset-aset yang tidak berkaitan langsung dengan lini bisnis inti (non-core assets). Seluruh dana hasil penjualan aset tersebut nantinya akan dialokasikan secara khusus untuk memangkas sisa utang operasional, sebelum dilanjutkan ke tahap restrukturisasi utang final yang disesuaikan dengan kemampuan arus kas atau kapasitas pembayaran masing-masing entitas.
 

“Jadi, satu per satu perusahaan itu kita selesaikan secara baik karena saya tidak mau setelah hari ini cuman dipoles-poles, kemudian nanti menjadi problem lagi nah kita perbaikan itu harus fundamental harus benar-benar,” ungkapnya menegaskan.

Di sisi lain, Dony menyebutkan bahwa proses penyehatan untuk BUMN Karya yang memiliki tingkat kompleksitas beban keuangan jauh lebih berat seperti PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) membutuhkan penanganan yang jauh lebih mendalam, hati-hati, dan fundamental.

Pada kasus WIKA, beban kewajiban utang perusahaan tercatat mencapai kisaran Rp34 triliun yang tidak diimbangi oleh kecukupan aset penjamin (underlying assets). Sementara itu, untuk Waskita Karya, pemerintah saat ini tengah mengkaji berbagai opsi penyehatan, termasuk mengevaluasi potensi pengoptimalan portofolio aset jalan tol melalui Waskita Toll Road.

“Kita mesti betul-betul melihat mesti diapain perusahaan ini, karena arah dari Pak Presiden sekali kita melakukan perbaikan itu harus tuntas. Kita enggak mau setengah-setengah hanya poles-poles, enggak ada gunanya. Ini yang agak memakan waktu,” kata dia.

“Saya orangnya mesti teliti satu-satu, dilihat lagi future-nya akan kayak gimana dan sebagainya, tapi kalau yang empat (BUMN-BUMN Karya yang cenderung lebih sehat) relatively mudah untuk kita lakukan (merger),” pungkas COO Danantara tersebut.
 
(Sumber: Antara)
 
x|close