Transisi Menteri Keuangan, Ichsanuddin: Ini Kenyamanan untuk Investor Tapi Belum Tentu Rakyat

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 24 Sep 2026, 16:55
thumbnail-author
Ramses Manurung
Penulis & Editor
Bagikan
Ekonom Senior Ichsanuddin Noorsy dalam program Suara Nusantara di Nusantara TV Ekonom Senior Ichsanuddin Noorsy dalam program Suara Nusantara di Nusantara TV

Ntvnews.id, Jakarta - Ekonom Senior Ichsanuddin Noorsy memberikan pandangan kritis terkait pergantian posisi Menteri Keuangan dalam program Suara Nusantara di Nusantara TV.

Ia menilai langkah transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan merupakan bagian dari strategi pemerintah yang berfokus pada kenyamanan pasar modal ketimbang kesejahteraan masyarakat luas.

Ichsanuddin menilai pergantian kepemimpinan tersebut sebagai sebuah langkah penyelamatan yang berorientasi pada kepentingan investor.

"Ini operasi penyelamatan mainstream yang memberi kenyamanan, memberikan ketenangan, kedamaian pada investor, tapi belum tentu memberikan kenyamanan, kedamaian bagi rakyat Indonesia," tegas Ichsanuddin Noorsy.

Mengabaikan Penurunan Kelas Menengah

Menurut Ichsanuddin, kebijakan pemerintah saat ini lebih mengutamakan daya tarik pasar agar nilai tukar rupiah tidak terus-menerus jatuh dan indeks harga saham tidak melorot.

Namun di sisi lain, kondisi riil masyarakat bawah dan penurunan kelas menengah terkesan dikesampingkan.

"Jadi yang diutamakan adalah kenyamanan investor, kenyamanan para pemodal, menjaga agar nilai tukar tidak terus-menerus jatuh, tidak terus-menerus indeks harga saham melorot, tapi tidak peduli soal kelas menengah jatuh, rakyat tidak punya [daya] beli, enggak peduli," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kapasitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saat ini berada di bawah tekanan fiskal yang tinggi akibat beban utang luar negeri, belanja mandatory, serta alokasi belanja sosial yang relatif sedikit.

Baca juga: Purbaya Diganti Suahasil, Bakom RI: Ibarat Mbappé Abis Cetak Gol Lalu Diganti Pelatih

Pertanyakan Kredibilitas APBN

Menanggapi tiga fokus utama Menteri Keuangan Suahasil Nazara—yakni APBN yang kredibel, komunikasi publik yang dapat dipercaya, serta keberlanjutan program prioritas—Ichsanuddin mempertanyakan tolok ukur kredibilitas yang dimaksud.

"Pertanyaannya, kredibel bagi siapa? Itu persoalan besarnya. Kalau kredibel dalam pengertian agar SBN [Surat Berharga Negara] tetap laku di pasar, maka kredibel bagi pembeli SBN," kata Ichsanuddin.

Ia menilai alokasi, distribusi, dan fungsi stabilisasi APBN belum tentu dirasakan oleh rakyat rentan miskin yang semakin terdesak.

Di saat yang sama, utang negara tetap terjaga naik dan Bank Indonesia harus mempertahankan tingkat suku bunga yang relatif tinggi.

Tekanan Impor Energi dan Beban Fiskal

Lebih lanjut, Ichsanuddin menyoroti tekanan pada APBN dan moneter yang sangat dipengaruhi oleh tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.

Dalam kalkulasinya, nilai ketergantungan impor energi Indonesia mencapai 68,6 miliar dolar AS, yang mencakup 17,3 miliar dolar AS untuk minyak mentah (crude oil) dan 23 miliar dolar AS untuk minyak olahan.

Kondisi tersebut menuntut APBN untuk tetap terlihat sehat dan mampu membayar utang di mata pasar internasional.

"Artinya yang dijaga oleh Suahasil Nazara pada hakikatnya adalah melanjutkan mainstream," pungkasnya.

x|close