Ntvnews.id, Jakarta - Kehadiran infrastruktur telekomunikasi BAKTI Kementerian Komunikasi dan Digital memberikan perubahan bagi masyarakat di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Wilayah kepulauan dengan kondisi geografis yang sulit sebelumnya menghadapi persoalan keterbatasan jaringan komunikasi.
Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Flores Timur, Silvester Suban Toa Kabelen, mengatakan wilayahnya terdiri atas daratan Flores, Pulau Adonara, dan Pulau Solor. Kondisi geografis berupa pegunungan, gunung berapi, serta perbukitan membuat pembangunan jaringan telekomunikasi menjadi tantangan tersendiri.
"Sebelum mendapat layanan internet dari BAKTI, memang sebelumnya sudah hadir di sana pembangunan tower dari teman-teman dari Telkomsel, para tower provider, kemudian menyusul Indosat dan XL. Tetapi daerah kami dengan geografis yang sangat sulit, tiga pulau itu dengan daerah gunung, gunung berapi, kemudian deretan bukit, jadi masing-masing sisi pulau sebenarnya dia harus membutuhkan saluran infrastruktur telekomunikasi supaya bisa mengakses internet," ujarnya dalam Acara BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.
Dalam Acara BAKTI Media Connect 2026 di Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.Menurut Silvester, kebutuhan pembangunan jaringan di Flores Timur sangat besar karena setiap sisi wilayah membutuhkan infrastruktur telekomunikasi agar transmisi jaringan dapat menjangkau masyarakat.
BAKTI kemudian menghadirkan enam BTS serta sekitar 262 akses internet di Flores Timur. Infrastruktur tersebut tersebar di berbagai fasilitas, mulai dari kantor pemerintahan, desa, sekolah hingga fasilitas kesehatan.
Baca Juga: Istana Siapkan Tanda Kehormatan untuk Sejumlah Tokoh, Termasuk Menteri Aktif
"Dan terima kasih untuk BAKTI karena sudah hadir di Flores Timur, sudah 6 BTS yang dibangun, kemudian sekitar 262 akses internet yang dibantu di Flores Timur pada fasilitas perkantoran pemerintahan sampai ke desa, kemudian sekolah-sekolah dan juga fasilitas kesehatan," tuturnya.
Sebelum akses internet tersedia secara memadai, masyarakat dan petugas layanan publik harus menempuh jarak cukup jauh untuk mendapatkan sinyal. Kondisi tersebut juga menyulitkan pemerintah daerah dalam mengirimkan laporan maupun memperoleh informasi dengan cepat.
"Jadi kadang mereka harus ke kecamatan sebagai bagian koordinasi kami di pemerintah kabupaten, mereka harus keluar jalan kaki atau bersepeda motor ke tempat sinyal baru bisa berkomunikasi," imbuhnya.
Kondisi tersebut bahkan memunculkan pengalaman unik di tengah masyarakat. Ketika sinyal tidak tersedia di permukaan tanah, warga harus mencari posisi yang memungkinkan telepon seluler menangkap jaringan.
"(Naik pohon juga?) Kadang naik pohon, karena di bawah tidak ada sinyal jadi harus naik pohon. Jadi dulu saya ingat HP, handphone itu kita taruh di atas jenangan pintu atau jenangan jendela supaya bisa dapat sinyal untuk bisa berkomunikasi," jelasnya.
Baca Juga: BAKTI Komdigi Dorong BUM Desa Perkuat Akses Internet di Wilayah Perdesaan
Manfaat konektivitas juga dirasakan langsung oleh fasilitas kesehatan. Kepala UPTD Puskesmas Ilebura, Yohanes Noda Kwuta, mengatakan jaringan yang sebelumnya hanya tersedia di titik tertentu membuat petugas kesulitan dalam mengakses informasi serta menyampaikan laporan.
Kondisi berubah setelah program BAKTI AKSI hadir di wilayah tersebut. Sistem pelayanan kesehatan yang semakin mengandalkan aplikasi digital dapat dijalankan dengan lebih baik.
"Kemudian di tahun 2019, awal 2019 itu masuknya BAKTI Aksi. Dari masuknya BAKTI Aksi ini sungguh sangat membantu kami di Puskesmas terkait dengan pelayanan kami terhadap pengguna layanan atau pasien, dan juga kami koordinasi dengan Dinas Kesehatan, dan pembuatan laporan-laporan yang sistemnya sudah menggunakan aplikasi. Itu sungguh sangat membantu," paparnya.
Salah satu manfaat paling penting adalah penerapan sistem rujukan terintegrasi atau SISRUTE. Sebelum jaringan internet tersedia, petugas kesehatan harus membawa pasien ke rumah sakit tanpa mengetahui secara pasti ketersediaan dokter spesialis maupun tempat tidur.
Kini, informasi mengenai kondisi rumah sakit dapat diketahui sebelum pasien dirujuk.
"Tetapi dengan adanya jaringan ini, rujukan terintegrasi sangat membantu dalam rujukan, sehingga sebelum merujuk kita sudah melakukan penginputan di SISRUTE, sehingga tersedia tempat di sana, koordinasi informasi balik dari tempat rujukan, sehingga tidak terjadi penolakan pasien karena full bed atau tidak dapat dilayani," tuturnya.
Baca Juga: BAKTI Komdigi Bangun Infrastruktur Digital di 31 Ribu Lokasi 3T, Fokus Perkuat Layanan Publik
Selain sektor kesehatan, konektivitas juga memberikan manfaat bagi pemerintahan daerah. Internet mempermudah penyampaian data dan koordinasi dengan pemerintah provinsi maupun kementerian.
Namun, Yohanes mengatakan peningkatan jumlah pengguna juga menjadi tantangan tersendiri. Ketika masyarakat mengakses jaringan secara bersamaan, kualitas koneksi dapat menurun, terutama pada jam kerja.
Melalui BAKTI Media Connect 2026, pengalaman Flores Timur menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur digital di wilayah 3T tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sinyal. Konektivitas juga berperan dalam mempercepat layanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, serta membuka akses masyarakat terhadap informasi.
Direktur Strategis Bisnis Indonesia Group Maria Yuliana Benyamin (dari kiri), Kepala Dinas Kominfo Kab. Flores Timur Silvester Suban Toa Kabelen, Kepala Sekolan SMAN 1 Titehena Konrardus Kudarto, dan Kepala UPTD Puskesmas Ilebura Yohanes Noda Kwuta m (Istimewa)