Fiskal 70 dari 93 Kota di RI Masih Lemah, ICIA Dorong Percepatan Investasi

NTVNews - Berita Hari Ini, Terbaru dan Viral - 29 Jul 2026, 08:39
thumbnail-author
Muslimin Trisyuliono
Penulis
thumbnail-author
Beno Junianto
Editor
Bagikan
Yayasan Indonesia City Investment Accelerator (ICIA) Yayasan Indonesia City Investment Accelerator (ICIA)

Ntvnews.id, Jakarta - Yayasan Indonesia City Investment Accelerator (ICIA) mengungkapkan sebanyak 70 dari 93 kota di Indonesia berada pada kategori fiskal lemah, yaitu pendapatan asli daerahnya lebih kecil daripada transfer dari pemerintah pusat. 

Temuan ini berasal dari analisis ICIA atas data Kementerian Dalam Negeri tahun 2025. Kondisi tersebut terjadi di tengah percepatan urbanisasi, dengan tiga dari empat penduduk Indonesia diperkirakan tinggal di kota pada 2045. 

Kota sudah menjadi penyumbang utama ekonomi nasional, sementara kebutuhan layanan dasar meningkat lebih cepat daripada kemampuan kota memenuhinya, mulai dari air bersih, sanitasi, transportasi, hingga ketahanan terhadap banjir.

Transfer pusat menyumbang 70 hingga 80 persen anggaran daerah dan sebagian besar terikat pada prioritas nasional, sementara pendapatan asli daerah kurang dari 10 persen dan hampir seluruhnya terserap belanja operasional. 

Baca juga: Danantara Resmi Ambil Alih 4 Manajer Investasi BUMN, Bakal Dilebur Jadi Satu

Pinjaman daerah dan obligasi dimungkinkan secara hukum, namun praktiknya tertahan oleh persetujuan berlapis, batas utang yang ketat, dan lemahnya basis aset daerah untuk mendukung pembiayaan. 

Keterbatasan fiskal itu diperparah oleh rendahnya kesiapan proyek. Banyak proyek belum memiliki struktur pembiayaan, penilaian risiko, dan kesiapan kelembagaan yang memadai, sehingga sulit menarik investasi meskipun kebutuhan dan minat modal tersedia.

ICIA memperkenalkan diri lembaga nirlaba yang berkontribusi mempercepat kesiapan investasi perkotaan. ICIA berkontribusi dengan membantu kota memperbaiki kualitas persiapan proyek, menjalankan pilot dan validasi, serta memperkuat kapasitas kelembagaan dan koordinasi lintas pihak. 

ICIA menargetkan bertambahnya proyek yang memenuhi standar pembiayaan, berkurangnya proyek yang tertahan akibat persiapan yang belum lengkap, dan lebih cepatnya proyek yang sudah siap memperoleh keputusan pembiayaan.

"Persoalan pembangunan perkotaan kita jarang terletak pada ketiadaan gagasan atau ketiadaan dana. Yang paling sering hilang adalah jembatan antara keduanya, dan jembatan itulah yang akan dibangun ICIA," ucap Sofyan A. Djalil, Ketua Pembina ICIA dalam keterangan tertulis, Selasa 28 Juli 2026.

Salah satu langkah awal ICIA adalah menjalin kerja sama dengan Fundacion Metropoli, lembaga nirlaba perencanaan dan pengembangan perkotaan yang berdiri sejak 1987 dengan rekam jejak proyek di lima benua. 

Baca juga: Investor Rp175 Triliun Mundur, IAW: Siapa Sebenarnya Penopang Narasi Investasi Rempang?

Metropoli didirikan Alfonso Vegara, arsitek dan doktor perencanaan kota yang pernah memimpin ISOCARP dan menjadi penasihat sejumlah pemerintah, termasuk Singapura. Ia telah aktif di Indonesia sejak 2018, sehingga memahami konteks perkotaan dan kelembagaan di dalam negeri. 

Keduanya menandatangani Nota Kesepahaman di Urban Knowledge Hub, Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan. Kesamaan misi dan model kelembagaan kedua lembaga membuka ruang alih pengetahuan, praktik terbaik, dan peningkatan kapasitas pemerintah daerah.

"Di banyak negara kami menyaksikan rencana perkotaan yang baik gagal memperoleh pembiayaan karena tidak ada lembaga yang mengawal persiapannya. Kehadiran ICIA menjawab kebutuhan yang sangat nyata, dan kami senang dapat bekerja bersamanya sejak awal," ujar Alfonso Vegara, pendiri Fundación Metrópoli.

HIGHLIGHT

x|close