Ntvnews.id, Jakarta - Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Muhammad Qodari, menilai penurunan harga minyak dunia yang terjadi seiring meredanya ketegangan di Timur Tengah dapat memberikan dampak positif bagi kondisi fiskal Indonesia.
Dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 17 Juni 2026, Qodari mengatakan berkurangnya eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel membuka peluang terciptanya stabilitas ekonomi global yang lebih baik. Meski demikian, ia menekankan bahwa perkembangan situasi masih perlu dicermati karena bersifat dinamis.
"Kami melihat bahwa ruang fiskal Indonesia akan lebih ringan terutama dengan penurunan harga minyak dunia," ujar Qodari.
Menurutnya, turunnya harga minyak menjadi kabar menggembirakan bagi Indonesia. Ia menyebut harga minyak dunia yang sebelumnya sempat berada di kisaran 93 dolar AS per barel kini telah turun hingga di bawah 80 dolar AS per barel.
Qodari menjelaskan bahwa Indonesia masih memiliki kebutuhan impor minyak yang cukup besar. Karena itu, penurunan harga komoditas energi tersebut dapat membantu mengurangi beban pengeluaran negara dan memberikan ruang fiskal yang lebih luas.
Baca Juga: Bakom Sebut Kunjungan Wisatawan Asing ke Indonesia Naik di Tengah Gejolak Global
"Jadi dengan kebutuhan impor Indonesia yang sekitar 1,6 juta barel per hari, maka kemudian tentunya bisa dikalikan untuk penghematan yang bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Jadi ini kabar baik yang kita sambut dengan penuh harapan dan akan memberikan ruang fiskal yang juga lebih bagus," ujar Qodari.
Selain perkembangan harga minyak, ia juga menyoroti sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan tren positif dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, pasar saham mulai menunjukkan penguatan dengan indeks yang kembali menembus level 6.000. Di sisi lain, nilai tukar rupiah juga bergerak lebih stabil dengan posisi berada di bawah Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.
Qodari menambahkan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia sejauh ini tetap terjaga dengan baik. Beberapa indikator utama, seperti cadangan devisa, tingkat inflasi, dan rasio utang luar negeri, dinilai berada dalam kondisi yang sehat.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) Muhammad Qodari di Kantor Bakom, Jakarta.. (Antara)
"Kalau yang fundamental kan memang dari sebelum ini pun juga sudah bagus. Kita punya cadangan devisa yang masih di atas lima bulan. Kemudian juga inflasi kita yang masih terjaga, kemudian juga utang luar negeri kita yang di bawah rata-rata negara lain," kata Qodari.
Lebih lanjut, ia meyakini kondisi fundamental yang kuat tersebut berpotensi semakin membaik apabila situasi di Timur Tengah benar-benar mengarah pada perdamaian yang berkelanjutan.
"Jadi fundamental ekonomi Indonesia sangat baik dan tentu yang baik ini akan menjadi lebih baik lagi dengan perdamaian yang bisa dicapai di Timur Tengah," katanya.
Qodari berharap perkembangan positif di kawasan Timur Tengah dapat terus berlanjut sehingga memberikan dampak yang lebih luas terhadap stabilitas ekonomi global maupun perekonomian Indonesia.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Kabakom RI), Muhammad Qodari (Istimewa)